Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Suasana haru menyelimuti pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (1/8/2026).
Di tengah ratusan siswa yang mengikuti acara, seorang siswi tampak tak kuasa menahan tangis saat lagu Ayah Ibu dilantunkan paduan suara.
Tangisnya bahkan turut mengundang haru para orang tua yang hadir hingga beberapa di antaranya ikut menyeka air mata.
Momen emosional itu mewarnai hari pertama para siswa memulai perjalanan pendidikan di gedung permanen Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sukoharjo yang baru diresmikan pemerintah.
Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, secara resmi membuka pelaksanaan MPLS sekaligus meresmikan penggunaan gedung permanen Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Peresmian ditandai dengan dimulainya proses pembelajaran di gedung baru yang dibangun di Kabupaten Sukoharjo.
Meski pembangunan fisik belum sepenuhnya rampung, pemerintah memastikan kegiatan belajar mengajar sudah dapat dimulai karena progres pembangunan telah mencapai sekitar 98 persen.
Gedung permanen Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sukoharjo nantinya diproyeksikan mampu menampung sekitar 1.000 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Saifullah Yusuf mengatakan, hari pertama MPLS menjadi momentum dimulainya proses pembelajaran di gedung permanen Sekolah Rakyat bersama Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.
"Hari ini kami bersama Plt Bupati Sukoharjo, Bapak Eko Sapto Purnomo memulai satu proses pembelajaran yang diawali dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS," ujarnya, Sabtu (1/8/2026).
Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 226 siswa baru mengikuti MPLS di gedung permanen tersebut.
Rinciannya terdiri atas 44 siswa SD, 92 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Jika digabungkan dengan siswa yang lebih dahulu menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat rintisan, total terdapat 458 siswa yang menjadi angkatan pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo.
Mensos bersyukur jumlah peserta didik Sekolah Rakyat terus bertambah seiring mulai difungsikannya gedung permanen.
"Kita bersyukur hari ini ada lebih dari 226 anak tambahan MPLS yang sudah menggunakan gedung permanen Sekolah Rakyat," katanya.
Ia menjelaskan, meski pembangunan gedung belum mencapai 100 persen, fasilitas utama sudah siap digunakan sehingga proses pendidikan tidak perlu menunggu seluruh pekerjaan konstruksi selesai.
"Gedungnya memang belum semuanya selesai, sekitar 98 persen. Tetapi proses pembelajarannya sudah bisa dimulai di gedung permanen ini," jelasnya.
Menurut Saifullah Yusuf, Sekolah Rakyat merupakan program strategis Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling tidak mampu agar memperoleh pendidikan berkualitas tanpa dipungut biaya.
Baca juga: Rekrutmen Guru Sekolah Rakyat Ditarget Rampung Awal September 2026, KBM Tetap dengan Guru Sementara
"Ini adalah persembahan dari Presiden, Bapak Prabowo Subianto untuk keluarga-keluarga yang paling tidak mampu agar bisa memperoleh pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas," ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan Sekolah Rakyat juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama selama masa transisi. Dukungan tersebut meliputi penyediaan air bersih, tenaga kebersihan, pengelolaan sampah, keamanan, hingga guru sementara sembari proses rekrutmen tenaga pendidik definitif masih berlangsung.
Secara nasional, pemerintah menargetkan sekitar 30.000 siswa baru bergabung ke Sekolah Rakyat sepanjang 2026. Jika digabungkan dengan sekitar 15.000 siswa yang telah diterima pada 2025, total peserta didik diperkirakan mencapai 45.000 orang.
Tahun depan, kapasitas itu ditargetkan meningkat hingga mendekati 200.000 siswa seiring berdirinya gedung permanen Sekolah Rakyat di berbagai daerah di Indonesia. (*)