TRIBUNNEWSMAKER.COM - Perayaan Yaa Qowiyyu atau sebar apem di Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kembali menjadi magnet bagi masyarakat pada 2026.
Ritual budaya yang telah berlangsung turun-temurun selama ratusan tahun itu kembali dipadati warga dan peziarah yang datang untuk mengikuti prosesi sekaligus melestarikan warisan peninggalan Ki Ageng Gribig.
Pada pelaksanaan Yaa Qowiyyu 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto turut hadir dalam rangkaian acara.
Dalam sambutannya, Airlangga mengungkapkan bahwa dirinya merupakan bagian dari keluarga besar dzurriyah Ki Ageng Gribig.
Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan ajaran yang diwariskan Ki Ageng Gribig, khususnya nilai-nilai kebersamaan, silaturahmi, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Atas nama keluarga besar dzurriyah Kiai Ageng Gribig, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, para ulama, tokoh masyarakat, relawan, Pemda Klaten, aparat keamanan, dan seluruh warga yang telah menjaga serta melestarikan tradisi luhur ini dari generasi ke generasi," ujar Airlangga, Jumat, 31 Juli 2026.
Baca juga: Minta Maaf Hotman Paris Tiada Guna, Polisi Tetap Lanjutkan Dua Laporan dari Organisasi Wartawan
Tradisi Yaa Qowiyyu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sosok Ki Ageng Gribig, seorang ulama yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Jatinom dan sekitarnya.
Selama ratusan tahun, tradisi sebar apem tersebut terus diwariskan dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Klaten.
Tak hanya dikenal sebagai warisan budaya, Yaa Qowiyyu juga mengandung nilai-nilai religius, sosial, serta semangat kebersamaan yang terus dijaga hingga sekarang.
Di balik kemeriahan tradisi tersebut, masyarakat juga diajak mengenal lebih dekat sosok Ki Ageng Gribig beserta sejarah dan asal-usul tradisi Yaa Qowiyyu yang diwariskannya dari generasi ke generasi.
Sosok Ki Ageng Gribig adalah sosok ulama penyebar ajaran Islam di masa kesultanan Mataram.
Ia juga dikenal memiliki peran besar dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom, Kabupaten Klaten.
Dalam berbagai sumber sejarah lokal, Ki Ageng Gribig disebut memiliki nama asli Wasibagno Timur atau Syekh Wasihatno.
Baca juga: 20 Tahun Lamanya Alyssa Soebandono Idap Kelainan di Tubuhnya, Akhirnya Tahun 2026 Jalani Operasi
Ia diyakini merupakan keturunan Prabu Brawijaya V atau Bhre Kretabhumi dari Kerajaan Majapahit.
Ki Ageng Gribig juga disebut sebagai putra Raden Getayu bin R.M. Guntur yang dikenal dengan nama Wasi Jolodoro atau Rangkanyana.
Hubungannya dengan Kesultanan Mataram cukup erat. Berkat pengaruhnya sebagai tokoh agama, Sultan Agung dikisahkan pernah menawarkan jabatan Bupati Nayaka kepadanya.
Namun, Ki Ageng Gribig memilih menolak jabatan tersebut dan mengabdikan hidupnya untuk berdakwah serta membina masyarakat.
Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama Gribig yang berkembang di tengah masyarakat.
Versi pertama menyebut nama tersebut berasal dari daerah bernama Gribig yang menjadi tempat dakwah Ki Ageng Gribig. Ada pula yang mengaitkannya dengan istilah "gribig", yaitu atap rumah tradisional yang terbuat dari ijuk.
Sementara versi lainnya menghubungkan nama Gribig dengan istilah Arab "Al Maghribi" yang dikaitkan dengan tradisi Islam dan keberadaan makam kuno.
Meski memiliki beragam versi, masyarakat tetap mengenal Ki Ageng Gribig sebagai ulama yang dihormati karena jasa-jasanya dalam menyebarkan Islam.
Jejak perjuangan Ki Ageng Gribig masih dapat dijumpai di kawasan Jatinom, Klaten.
Kompleks makam Ki Ageng Gribig hingga kini menjadi pusat pelaksanaan tradisi Yaa Qowiyyu setiap tahun.
Selain itu, terdapat sejumlah lokasi yang berkaitan dengan perjalanan dakwahnya, antara lain Masjid Agung Jatinom, Sendang Palampeyan, Sendang Suran, Guwa Belan, Masjid Tiban, dan Oro-Oro Tarwiyah.
Oro-Oro Tarwiyah dipercaya memiliki keterkaitan dengan tanah yang dibawa Ki Ageng Gribig dari Arafah, Makkah, ketika menunaikan ibadah haji.
Tradisi Yaa Qowiyyu berawal dari kisah Ki Ageng Gribig sepulang menunaikan ibadah haji di Makkah.
Menurut cerita rakyat, ia membawa makanan khas dari Tanah Arab sebagai oleh-oleh untuk para santrinya.
Namun, jumlah makanan tersebut tidak mencukupi untuk seluruh murid. Karena itu, Ki Ageng Gribig meminta istrinya, Nyi Ageng Gribig, membuat makanan serupa agar semua santri memperoleh bagian.
Makanan tersebut kemudian dikenal sebagai apem Yaa Qowiyyu.
Nama Yaa Qowiyyu berasal dari doa yang biasa dipanjatkan Ki Ageng Gribig setelah pengajian.
"Yā Qawiyyu Yā ‘Azīz, qawwinā wal-muslimīn; Yā Qawiyyu, warzuqnā wal-muslimīn."
Doa tersebut bermakna permohonan kepada Allah SWT agar memberikan kekuatan dan rezeki kepada umat Islam.
Sejak saat itu, pembagian apem berkembang menjadi tradisi tahunan yang digelar setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa.
Tradisi Yaa Qowiyyu selalu dipadati masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk mengikuti prosesi sebar apem.
Setelah shalat Jumat, gunungan apem yang terdiri atas gunungan lanang dan gunungan wadon diarak dari Masjid Ageng Jatinom menuju Sendang Palampeyan.
Gunungan tersebut disusun menyerupai sate dengan formasi 4-2-4-4-3 yang melambangkan jumlah rakaat shalat lima waktu.
Di dalamnya juga terdapat kacang panjang, tomat, dan wortel sebagai simbol kehidupan masyarakat Jatinom yang mayoritas bekerja di sektor pertanian. Bagian puncak gunungan dihiasi mustaka menyerupai kubah masjid.
Sesampainya di Sendang Palampeyan, gunungan berisi sekitar enam ton apem terlebih dahulu didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat.
Untuk memperoleh apem, banyak warga membentangkan kain jarik maupun jaring sebagai tempat menangkap apem yang disebarkan.
Bagi masyarakat Jatinom, Yaa Qowiyyu bukan sekadar tradisi membagikan apem, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Tradisi tersebut juga menjadi momentum silaturahmi bagi warga Jatinom yang tinggal di berbagai daerah.
Tidak heran jika banyak perantau sengaja pulang kampung setiap bulan Sapar untuk berkumpul bersama keluarga dan mengikuti tradisi Yaa Qowiyyu.
Selain memiliki nilai budaya dan religius, tradisi ini turut menggerakkan perekonomian masyarakat melalui aktivitas pedagang dan pelaku usaha lokal selama acara berlangsung.
Selama hampir empat abad, tradisi Yaa Qowiyyu terus menjadi warisan budaya dan keagamaan yang dijaga masyarakat Jatinom.
Sosok Ki Ageng Gribig dikenang bukan hanya sebagai ulama penyebar Islam, tetapi juga tokoh yang mewariskan nilai persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui tradisi sebar apem, ajaran tersebut terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com/TribunSolo.com)