Pengalaman Pengemudi Angkutan Umum dan Pikap Usai Pakai B50
Arthur Gideon August 02, 2026 12:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Penerapan bahan bakar biodiesel B50 mulai dirasakan langsung oleh masyarakat yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja. Sejumlah pengemudi di Sumatera Utara mengaku tidak mengalami kendala berarti pada performa mesin setelah menggunakan B50. Pemerintah pun terus memantau implementasi program tersebut di lapangan, sekaligus memastikan pasokan bahan bakar tetap tersedia.

Di SPBU Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, aktivitas pengisian bahan bakar berlangsung seperti biasa. Di lokasi ini, Nainggolan dan Herwin Siregar tetap menjalankan rutinitas mereka sebagai pengemudi yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.

Nainggolan, pengemudi pikap pengangkut ikan asin berusia 47 tahun, mengatakan penggunaan B50 tidak menimbulkan masalah pada mesin kendaraannya.

"Usai memakai B50, sama aja tidak ada masalah apa apa pada mesin kita, lancar-lancar saja," ujar Nainggolan dikutip dari laman Kementerian ESDM, Minggu (2/8/2026).

Pengalaman serupa juga disampaikan Herwin Siregar. Pengemudi angkutan umum rute Medan-Sipahutar itu telah menggunakan Biosolar untuk Mitsubishi L300 miliknya selama bertahun-tahun.

Menurut Herwin, setiap hari ia menghabiskan sekitar Rp 450.000 untuk bahan bakar guna menempuh perjalanan sekitar enam jam.

 

Tinjauan Wamen ESDM

PT Pertamina Patra Niaga terus menggenjot produksi Biosolar 50 (B50), bahan bakar minyak (BBM) jenis solar terbaru yang lebih ramah lingkungan. Dok PPN
PT Pertamina Patra Niaga terus menggenjot produksi Biosolar 50 (B50), bahan bakar minyak (BBM) jenis solar terbaru yang lebih ramah lingkungan. Dok PPN

Herwin mengatakan penggunaan B50 tidak memberikan dampak signifikan terhadap performa mesin kendaraan yang digunakannya setiap hari.

"Saya sudah lama menggunakan Biosolar untuk mobil angkutan saya Mitsubishi L300 jurusan Medan ke Sipahutar. Setiap hari saya isi 450.000 untuk perjalanan 6 jam aman di mesin, hanya ada sedikit perbedaan kalau di jalan yang menanjak," ujarnya.

Pengalaman kedua pengemudi tersebut menjadi salah satu gambaran penerapan B50 di tengah masyarakat. Selain memastikan distribusi bahan bakar berjalan lancar, pemerintah juga ingin mengetahui secara langsung pengalaman pengguna setelah kebijakan B50 diterapkan secara nasional.

Karena itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot melakukan peninjauan ke SPBU 14.227.322 di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Dalam kunjungan tersebut, Yuliot memeriksa ketersediaan BBM sekaligus berdialog dengan masyarakat mengenai penggunaan B50.

 

Pastikan Pasokan Tersedia

Yuliot mengatakan pemerintah terus memantau kelancaran distribusi BBM di berbagai daerah sekaligus memastikan implementasi B50 berjalan sesuai rencana.

"Kita mengecek pasokan BBM yang ada di seluruh daerah, dan saya lihat pasokan BBM cukup lancar. Selain mengecek kelancaran BBM, kita juga ingin melihat implementasi B50, kita harus mengecek bagaimana penerapannya di lapangan," ujar Yuliot.

Menurutnya, peninjauan di SPBU Sipirok menunjukkan bahwa penerapan B50 tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tetapi juga menyangkut aktivitas masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk bekerja.

Pemerintah, lanjut Yuliot, akan terus memastikan pasokan BBM tetap tersedia dan implementasi B50 berjalan baik agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kunjungan ke SPBU Sipirok merupakan bagian dari rangkaian agenda kerja Wakil Menteri ESDM di Sumatera Utara. Sebelumnya, Yuliot bersama rombongan meninjau PLTA Batang Toru sebelum melanjutkan kunjungan ke fasilitas PLTP Sarulla.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.