Martti Ahtisaari, Guru SD yang Meraih Nobel Perdamaian Setelah 30 Tahun Jadi Juru Damai
Moh. Habib Asyhad August 02, 2026 04:34 PM

Martti Ahtisaari, peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2008, punya jasa besar terhadap perdamaian pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Juga di beberapa tempat lainnya.

Penulis: Mayong SL | Tayang di Majalah Intisari edisi Desember 2008 dengan judul "Meraih Nobel Setelah 30 Tahun Jadi Juru Damai"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Nobel Perdamaian 2008 terbilang istimewa karena seperti kembali ke khittahnya: benar-benar diberikan kepada pelaku perdamaian.

Beda dengan tahun sebelumnya yang mengangkat isu pemanasan global (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim dan Al Gore) atau tahun sebelumnya lagi, tentang ekonomi kerakyatan (Mohammad Yunus).

Penerima tahun itu, Martti Ahtisaari, dinilai tepat setelah kiprahnya di banyak wilayah konflik. Bekas guru SD ini memang tak tahan melihat keributan.

Akhir 1970-an Martti Ahtisaari menjadi komisioner PBB yang memimpin tim perundingan untuk mempersiapkan kemerdekaan Namibia dari kekuasaan Afrika Selatan. Perundingan yang semula merencanakan kemerdekaan setidaknya tahun 1990, dipercepat oleh pemerintahan Presiden Reagan pada 1980.

Alasannya, Reagan ingin tentara Kuba pergi dari Angola, tetangga Namibia di sebelah utara. Dia ingin memastikan kemerdekaan Namibia sebagai pertukaran dengan Kuba yang merupakan perpanjangan Uni Soviet.

Akhirnya, meski perlu waktu untuk diakui oleh lima negara yang sangat berpengaruh di Afrika Selatan – Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, dan Jerman – Namibia merdeka pada 1989. Ahtisaari menjadi warga negara kehormatan Namibia.

Pada 1993, dia diutus Sekjen PBB ke negara-negara bekas Yugoslavia yang sebagian masih berkonflik. Sayang, tugas ini berhenti saat dia dipilih menjadi Presiden Finlandia (1994-2000).

Tapi di masa jabatannya dia meneruskan upaya perdamaian di Kosovo. Dia membujuk Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic untuk menerima syarat perdamaian bagi wilayah Kosovo seperti diajukan PBB.

Pada masa jabatannya pula dia memprakarsai masuknya Finlandia ke Uni Eropa. Setelah itu, dia mengundang Presiden Rusia Boris Yeltsin dan Presiden AS Bill Clinton ke Finlandia.

Setelah tidak memperpanjang jabatan kepresidenan, pada 2000-2001 dia bersama Cyril Ramaphosa dari Independent International Commission on Decommissioning, memeriksa proses pelucutan senjata Tentara Pembebasan Irlandia (IRA) sebagai bagian dari proses perdamaian Irlandia Utara.

Lepas dari jabatan presiden dia mendirikan lembaga perdamaian Crisis Management Initiative, dan berperan dalam proses perdamaian Aceh pada awal 2005. Konflik Aceh yang telah berlangsung 30 tahun pun berakhir dengan Kesepakatan Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Dia kemudian meneruskan pekerjaannya di Kosovo hingga mengantarkan kemerdekaan negeri itu dari Serbia pada Februari 2008. “Saya masih ingin terus melanjutkan kerja meski kadang sadar usia sudah tidak muda lagi,” katanya.

Guru SD

Nama lengkapnya Martti Oiva Kalevi Ahtisaari. Lahir di Viipuri di Finlandia (sekarang daerah itu menjadi bagian dari Rusia bernama Vyborg), pada 23 Juni 1937.

Ayahnya, Oiva, asli Norwegia dengan nama keluarga Adolfsen. Pada 1929 dia pindah ke Finlandia, dan tahun 1937 mengganti nama belakangnya menjadi Ahtisaari yang khas Finlandia.

Saat pecah Continuation War, perang "pinggiran PD II" antara Finlandia dan Uni Soviet (1941-1944), Oiva maju ke front sebagai ahli mesin peralatan perang Angkatan Darat.

Karena bahaya perang, Tyyne, istri Oiva alias ibu Martti, membawa Martti pindah ke Kuopio. Di kota kecil ini Martti masuk sekolah dasar Kuopion Lyseo dan menghabiskan masa kecilnya.

Tahun 1952 Oiva membawa keluarganya pindah ke Oulu untuk mencari pekerjaan. Di kota itu Martti tumbuh menjadi remaja yang aktif di organisasi pemuda Kristen YMCA.

Martti juga kena wajib militer. Bahkan setelah program Wamil dia meneruskan karier ketentaraan. Wikipedia mencatat, pangkat terakhir dia sebelum keluar dari ketentaraan adalah Kapten pada Korps Cadangan AD Finlandia.

Ketika masih di militer, bayangan untuk menjadi guru, cita-citanya sejak lama, sering muncul. Martti pun mendaftar ke sekolah calon guru di Oulu, dan dia menjalani kuliah jarak jauh.

Dua tahun kemudian, 1959, dia lulus. Martti Ahtisaari menjadi guru SD.

Sebagai guru dia tak ingin jadi guru yang biasa-biasa saja. Dia ingin menjadi guru berprestasi dan berwawasan.

Dia pergi ke Karachi, Pakistan, untuk memimpin pendirian pusat pelatihan calon guru olahraga bagi sekolah-sekolah yang dikelola YMCA. Martti tak hanya mengurusi pemondokan peserta, dia juga mengajar para calon guru.

Bagi Martti, pengalaman di Pakistan telah membuka wawasannya tentang lingkungan dan pergaulan internasional. Pekerjaan mengajar pun dia rasa cocok.

Tahun 1963 dia kembali ke Finlandia. Tidak pulang ke kota asalnya, tapi ke Helsinki.

Tetap mengajar di sekolah, meski dia juga menambah wawasan dengan masuk ke Helsinki Polytechnic. Di ibukota, dia aktif di LSM yang membantu negara-negara berkembang, juga bergabung dengan organisasi pelajar/mahasiswa internasional (AIESEC).

Tapi, keasyikan dalam pergaulan internasional menyebabkan pekerjaan sebagai guru terlantar. Lama-lama dia bahkan tak bisa tekun meneruskan karier mengajar.

Pergaulan internasional, khususnya diplomasi, makin menarik hati Martti. Maka pada 1965 dia melamar ke Departemen Luar Negeri Finlandia. Dia ditempatkan di Biro Bantuan Pembangunan Internasional, bagian yang beberapa tahun kemudian dia pimpin.

Di Deplu pula Martti bertemu dengan Eeva Irmeli Hyvarinen, gadis yang usianya setahun lebih tua. Pada 1968 keduanya menikah, kemudian memiliki anak tunggal, Marko Ahtisaari, yang di kemudian hari dikenal sebagai produser musik dan pemusik tenar.

Target penculikan, dikritik LSM

Tugas di Departemen Luar Negeri mengantarkannya pada posisi wakil pemerintah Finlandia di PBB (1977-1981). Bahkan di masa-masa kemudian, sekalipun tidak lagi menjadi wakil negaranya, dia terpilih menjadi staf Sekjen PBB.

Dia memimpin misi transisi bagi kemerdekaan Namibia dari kekuasaan Afrika Selatan. Karena perannya yang cukup besar, banyak pihak di Afrika Selatan yang benci padanya.

Civil Cooperation Bureau (lembaga intelijen Afrika Selatan) belakangan membuka cerita, Ahtisaari pernah menjadi target penculikan. Tidak untuk dibunuh, tapi "diamankan" agar proses pelepasan Namibia dari Afrika Selatan gagal.

Tapi sejarah telah terjadi. Namibia merdeka.

Tahun 1993 dia dicalonkan Partai Sosial Demokrat untuk jabatan Presiden Finlandia. Menang, dan Ahtisaari jadi presiden.

Tapi "naluri" diplomatiknya tetap tinggi, dia dianggap terlalu ikut campur kebijakan luar negeri Perdana Menteri Asko Acho. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mengawal referendum yang menghasilkan 56% rakyat Finlandia setuju bergabung dengan Uni Eropa.

Mungkin mirip Gus Dur saat menjabat Presiden RI, Ahtisaari juga banyak melakukan kunjungan. Di dalam negeri dan lebih-lebih ke luar negeri.

Pers menjulukinya "Matka-Mara" (Mara yang suka bepergian). Mara adalah nama julukan Ahtisaari.

Pada 1998 dia menganugerahkan medali kehormatan kepada Menteri Kehutanan RI dan sebuah perusahaan raksasa kelapa sawit Indonesia. Langkah itu berbuntut dengan kecaman, baik dari masyarakat Finlandia maupun LSM. Indonesia dinilai melakukan banyak pelanggaran HAM, dan perkebunan kelapa sawit adalah kontributor terbesar perusakan hutan di Indonesia.

Menghadapi tantangan yang makin kuat di dalam negeri, Ahtisaari tak mencalonkan diri lagi pada Pilpres tahun 2000. Sejak itu konstitusi Finlandia berubah, tak lagi memberi kekuasaan terlalu besar kepada presiden.

Pendekatan naif

Crisis Management Initiative (CMI), lembaga independen yang bergerak dalam resolusi konflik di seluruh dunia, dia dirikan selepas dari jabatan presiden. Kiprah pertama adalah mengiringi proses perdamaian di Irlandia (2000-2001).

Tahun 2003, sesaat setelah sebuah bom meledak di Baghdad, Irak, dia memimpin misi PBB untuk menyelidiki.

Pada 2005 Ahtisaari menjadi tuan rumah proses perdamaian antara pemerintah RI dengan GAM. Pemerintah RI diwakili Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin dan GAM diwakili PM Malik Mahmud. Niat baik kedua pihak yang semula ditangkap Wakil Presiden Jusuf Kalla, diteruskan ke CMI untuk ditindaklanjuti.

Ketika dide perdamaian baru digulirkan, Ahtisaari sudah mengambil posisi teguh bahwa perdamaian harus ditegakkan. Dia mempelajari riwayat perselisihan senjata antara pemerintah RI dengan GAM, dan menilai bahwa konflik 30 tahun itu harus dihentikan.

“Saya menjadi penengah. Saya mencoba melihat segala kemungkinan jalan kompromi. Walaupun hati saya menghendaki keutuhan negara RI, tapi itu tidak saya cetuskan. Saya bersikap seperti kertas polos, naif,” kata Ahtisaari.

Dia menampung setiap aspirasi yang tertuang dalam draft kesepakatan, namun tetap teguh memegang prinsip-prinsip dasar agar kedua pihak bisa saling menerima. Ada sejumlah revisi, dan lebih banyak lagi kompromi. "Itu perlu komitmen yang sangat kuat," tambah Ahtisaari.

Akhirnya sejarah mencatat, kesepakatan damai antara Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka ditandatangani pada 15 Agustus 2005.

Sejak itu tak ada lagi konflik di Aceh, dan semua pihak sepakat untuk mewujudkan perdamaian permanen.

Ahtisaari tak menghentikan langkahnya sampai di sana. Dia pun mengalihkan perhatian ke Kosovo.

Berbeda dengan Aceh yang dia jaga agar tak ada opsi kemerdekaan, di Kosovo dia justru melihat besarnya peluang merdeka sebagai cara utama mengakhiri konflik. Itu sama dengan yang 20-an tahun lalu dia lakukan terhadap Namibia.

“Namibia dan Kosovo berbeda dengan Indonesia. Kedua negara itu memiliki latar belakang sebagai bagian yang terpisah, dari etnis yang berbeda pula. Sedangkan Aceh, dalam sejarahnya memang bagian dari Indonesia,” tuturnya.

Tanggal 10 Desember 2008, di Oslo City Hall, Norwegia, Martti Ahtisaari menerima Anugerah Nobel Perdamaian 2008. Berupa sebuah medali, sebuah diploma pribadi, dan uang 10 juta kronor Swedia (setara AS $ 1,4 juta alias Rp15 miliar kurs November 2008 – sekitar Rp25 miliar kurs 2026).

Selain berterima kasih kepada komite seleksi yang telah memilihnya, dia juga berterus terang akan memanfaatkan uang itu untuk kelangsungan kegiatan CMI. "Dana kadang menjadi pengalang besar aktivitas kami. Maka saya akan memanfaatkan hadiah ini untuk menggerakkan roda CMI agar terus berputar," katanya seperti dilansir AFP.

Bagi pemerintah Indonesia, jasa Ahtisaari tentu sangat besar dalam perannya menjadi penengah konflik Aceh. Bagi eks-GAM yang kini membentuk Komite Peralihan Aceh (KPA), dia benar-benar seorang juru damai – yang akhirnya muncul setelah lelah berperang.

Tiga puluh tahun adalah masa yang berat dan melelahkan, sama dengan waktu yang telah dihabiskan sang juru damai Ahtisaari menjadi mediator di banyak wilayah konflik.

"Dia layak menerima Nobel. Dia sangat sabar untuk memediasi perundingan yang akhirnya berakhir dengan perdamaian. Komitmennya begitu besar untuk mewujudkan perdamaian di Aceh," komentar Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat Ibrahim Syamsuddin dalam Acehlong.com.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.