Kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA disebut "terguncang hebat" setelah sang presiden dipaksa melakukan putar balik dramatis dengan meninggalkan usulan kontroversial untuk menjual saham komersial di Piala Dunia. Langkah mundur itu terjadi setelah gelombang penolakan keras dan ancaman boikot dari sepak bola Eropa.
Infantino membatalkan usulan kontroversial
Infantino kini secara resmi membatalkan rencana kontroversialnya untuk melepas saham komersial di Piala Dunia setelah kecaman meluas bermunculan. Keputusan tersebut menjadi kekalahan besar bagi ketua FIFA itu, yang kepemimpinannya digambarkan sebagai "terguncang hebat" oleh figur-figur senior di dunia olahraga.
Inisiatif yang memicu perdebatan itu mencakup pembentukan sebuah perusahaan anak untuk mengawasi sisi komersial dan operasional turnamen-turnamen internasional besar, termasuk Piala Dunia putra dan putri. Namun, tiga konfederasi benua menolak usulan tersebut secara tegas, dengan UEFA memperingatkan bahwa negara-negara Eropa bisa memboikot ajang-ajang FIFA jika skema itu tetap dijalankan.
Mengonfirmasi putar balik itu pada Sabtu pagi, Infantino mengakui proyek tersebut telah memicu perselisihan internal yang serius. "Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan... Karena itu, usulan ini tidak akan dilanjutkan," kata Infantino.
Kekacauan internal dan pengunduran diri pejabat tinggi
Usulan tersebut memicu kekacauan kelembagaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di markas FIFA di Zurich, dan berujung pada hengkangnya sejumlah tokoh penting. Penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, serta Chief Operating Officer, Kevin Lamour, sama-sama mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap strategi komersial tersebut.
Dalam pernyataan perpisahan yang bernada keras, Lamour secara terbuka menyebut langkah itu sebagai "proyek satu orang". Para pemimpin politik juga mengecam langkah tersebut, dengan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyebut skema komersial itu "keterlaluan" dan menegaskan bahwa Infantino adalah "orang yang salah untuk memimpin organisasi ini."
Meski mundurnya proposal itu memalukan, Infantino menegaskan prioritas utamanya tetap menyatukan kembali badan-badan pengatur sepak bola dunia. Ia memastikan ada rencana untuk mempertemukan pihak-pihak terkait dalam beberapa pekan ke depan guna kembali memusatkan perhatian pada pengembangan permainan di seluruh dunia.
UEFA mempertanyakan masa depan Infantino
Runtuhnya rencana investasi tersebut secara dramatis membuat Infantino kini menghadapi sorotan tajam terkait posisinya dalam jangka panjang. Berbicara dalam program Today di BBC Radio 4, Wakil Presiden UEFA Laura McAllister mengungkapkan bahwa kepercayaan terhadap presiden FIFA itu telah rusak parah.
"Saya pikir kepercayaan kepada presiden FIFA telah terguncang hebat minggu ini, tanpa keraguan," ujar McAllister. "Sudah sewajarnya orang-orang akan mengajukan pertanyaan apakah dia adalah pemimpin yang tepat untuk membawa kita maju sebagai organisasi sepak bola global... Menariknya, saya tidak berpikir olahraga sepak bola dirusak oleh apa yang terjadi minggu ini. Saya pikir FIFA sebagai organisasi yang terdampak, dan saya pikir presidennya juga."
Ketika ditanya apakah UEFA mungkin akan mendukung penantang untuk melawan Infantino dalam pemilihan mendatang, McAllister berkata: "Saya pikir semua konfederasi sekarang pasti sedang mempertimbangkan opsi, dan kami tentu juga akan melakukan itu di UEFA."
Apa berikutnya bagi sepak bola global?
Dengan proposal privatisasi itu kini resmi mati, FIFA harus membangun kembali hubungan yang retak di seluruh ekosistem sepak bola dunia. Para pemimpin sepak bola Eropa akan meninjau situasi ini dengan hati-hati saat mereka menilai tata kelola Infantino ke depan. Sementara Infantino berupaya memulihkan keharmonisan dan melanjutkan inisiatif pengembangan yang lazim, kerusakan kelembagaan yang ditimbulkan oleh perkara ini bisa bertahan selama berbulan-bulan. Episode tersebut menjadi salah satu bab paling bergolak dalam masa kepresidenannya sejauh ini.