Miliki Dokter Spesialis Lengkap, RSUD Depati Bahrin Sungailiat Siap Jadi Rujukan Utama
Ajie Gusti Prabowo August 02, 2026 06:36 PM

SUNGAILIAT, BABEL NEWS - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Bahrin Sungailiat terus mengoptimalkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Saat ini tercatat, rumah sakit tersebut memiliki 55 dokter yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis hingga dokter sub-spesialis serta didukung oleh 8 orang perawat.

Direktur RSUD Depati Bahrin Sungailiat, dr Yogi Yamani, mengungkapkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan spesialisasi dokter di rumah sakit ini sudah mengalami peningkatan level yang signifikan dibandingkan sebelumnya.

"Kalau kemarin kan itu speknya sudah lebih jumlah SDM-nya yang kita miliki. Makanya sekarang strata kita atau leveling kita naik ke level yang lebih tinggi yang namanya kelas B," jelas Yogi Yamani, Sabtu (1/8).

Menurutnya, saat ini klasifikasi rumah sakit tidak lagi didasarkan pada kelas, melainkan berdasarkan kompetensi. Kompetensi yang dimiliki RSUD Depati Bahrin saat ini bahkan diklaim telah melebihi standar yang ditetapkan.

Sebagai contoh, rumah sakit yang dipimpinnya kini telah memiliki dokter bedah saraf, dokter bedah toraks kardiovaskular (bedah jantung), dokter jantung sub-spesialis/konsultan kardio intervensi, hingga dokter bedah onkologi. "Dengan berbagai kelengkapan spesialis, pasien gawat darurat yang sebelumnya harus dirujuk ke luar daerah kini sudah dapat ditangani langsung di RSUD Depati Bahrin," bebernya.

Dengan bertambahnya berbagai spesifikasi layanan dan sub-spesialis yang ada, level kompetensi RSUD Depati Bahrin terus meningkat. Yogi Yamani menargetkan, dalam waktu dekat rumah sakit ini akan menjadi UUBK (Unit Pelaksana Teknis Daerah Rumah Sakit dengan Uji Coba Layanan Berkelanjutan atau setara kelas B), di mana kompetensinya dinilai sudah hampir setara dengan rumah sakit rujukan utama.

Terkait ketersediaan fasilitas penunjang, RSUD Depati Bahrin saat ini memiliki total 268 tempat tidur. Pengelolaan pasien dilakukan secara berputar menyesuaikan tingkat kebutuhan dan ketersediaan tempat tidur yang ada.

"Karena tempat tidurnya 268, kita hanya mampu merawat 268 tidak. Tidak, jadi dia akan berputar, ada yang keluar, ada yang masuk terus itu. Jadi sebanyak-banyaknya pasien yang berobat kita terima, tergantung tempat tidurnya masih ada atau tidak," jelasnya.

Ia juga memastikan, sebagian besar masyarakat di Kabupaten Bangka, saat ini sudah memiliki berbagai jaminan kesehatan, seperti BPJS Kesehatan, jaminan tenaga kerja, asuransi lainnya, hingga jaminan sosial kerja.

Oleh karena itu, pihak rumah sakit berkomitmen untuk memberikan pelayanan optimal bagi setiap pasien, termasuk bagi pasien gawat darurat yang belum memiliki jaminan aktif. "RSUD Depati Bahrin akan mendahulukan penanganan medis terlebih dahulu, baru kemudian membantu mengurus proses administrasi BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) pasien," tegasnya.

"Terlebih dengan adanya fasilitas terpadu seperti keberadaan Mal Pelayanan Publik (MPP), proses pengurusan administrasi bagi masyarakat kini diklaim menjadi jauh lebih cepat dan terpusat di satu tempat," tambahnya. (v1)

Pendapatan Lampaui Target
RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Bahrin Sungailiat, Kabupaten Bangka terus mengoptimalkan kinerja keuangan dan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat.

Direktur RSUD Depati Bahrin Sungailiat, dr Yogi Yamani, mengungkapkan target pendapatan rumah sakit mengalami penyesuaian setiap tahunnya seiring dengan peningkatan mutu layanan. "Untuk sekarang ini sudah Rp40 miliar, kalau tahun ini Rp76 miliar. Tapi nanti ada revisi di ABT (Anggaran Belanja Tambahan), akan dinaikkan untuk target di awal kemarin sudah mencapai 50 persen," kata Yogi Yamani, Sabtu (1/8).

Diakuinya, di tahun 2025, pendapatan RSUD Depati Bahrin Sungailiat melampui target yang ditargetkan di awal dan melebihi 100 persen target. "Targetnya berubah-ubah, kalau tahun 2025 kemarin Rp72 miliar. Kemudian, capaiannya Rp87 miliar. Jadi, capaiannya 100 persen lebih," ungkapnya.

Yogi Yamani menyebut, pendapatan RSUD Depati Bahrin Sungailiat murni dari BLUD mulai dari pelayanan sampai ke pendapatan yang sah lainnya. "Pendapatan ya misal retribusi parkir, kantin dan martnya. Kemudian dari sewa ATM, sewa tower telkom. BPJS dari pelayanan tadi, BPJS itu pasien yang kita layani dan kita mengajukan klaim dan BPJS membayarnya," jelasnya.

Diakuinya, bahkan pendapatan terbesar RSUD Depati Bahrin Sungailiat berasal dari BPJS kesehatan yang sampai saat ini masih besar atau tinggi dibandingkan dengan pendapatan lain. "Sumber-sumber pelayanan ada dari BPJS, pasien umum, pasien asuransi dan ketenagakerjaan dan jasa raharja. BPJS, jadi hampir 90 persen pendapatan kita ini dari BPJS," ungkapnya. (v1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.