TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan untuk remaja kristen.
Dalam isi renungan ini dikhususkan untuk para remaja kristen dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Agar hidup sesuai dengan firman Tuhan.
Renungan ini pun bisa digunakan para remaja atau pembina remaja yang akan memimpin ibadah.
Ataupun dalam pertemuan kelompok kecil remaja.
Pembacaan alkitab terdapat pada Yeremia 31:1-14.
Tema perenungan adalah Tuhan Mengasihi UmatNya dengan Kasih yang Kekal.
Khotbah:
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, kata orang "cinta mengalahkan segalanya."
Benarkah demikian? Ya, cinta Allah mengalahkan segalanya.
Cinta kasih Allah terbukti mengalahkan kuasa dosa dan kuasa maut.
Di dalam Yesus Kristus yang telah mati di atas kayu salib dan bangkit itu, cinta kasih Allah dinyatakan, menang demi
keselamatan orang berdosa.
Bukankah cinta kasih Allah tidak ada bandingnya?
Pemberontakan demi pemberontakan orang Israel dan Yehuda sebagai umat Allah, membuat mereka menerima
hukuman dari Allah.
Bukan karena Allah telah membuang mereka untuk selama-lamanya, melainkan karena kasih-Nya kepada
umat-Nya.
Orang Israel dibuang ke Asyur, sementara orang Yehuda dibuang ke Babel. Tahun-tahun di negeri asing tersebut dimaksudkan agar umat Allah menyadari dosa-dosa mereka, lalu berbalik mencari wajah Allah yang penuh kasih itu.
Wajah Allah yang penuh kasih itu menyatakan diri dalam penghukuman-Nya, sekaligus janji untuk pemulihan umat Allah.
Mereka takkan selama-lamanya di tanah pembuangan. Melalui Nabi Yeremia, janji pemulihan tersebut diserukan dan disampaikan kepada umat Allah!
Allah mengklaim Israel dan Yehuda sebagai umat milik kepunyaan-Nya dengan mengatakan bahwa Ia adalah Allah atas
kaum keluarga umat-Nya.
Mereka disebut-Nya sebagai orang-orang yang telah menerima kasih karunia-Nya, bahkan kasih karunia itu menjangkau umat-Nya dalam keadaan mereka yang laksana berada di padang gurun dan terluput dari pedang.
Ya, tahun-tahun di pembuangan adalah masa yang sangat sulit bagi umat Allah, jauh dari Yerusalem, terpisah dan terpencar-pencar di negeri asing, bahkan mereka yang terluput hanis menjalani hidup dengan adat istiadat asing yang berbeda dari cara hidup umat Allah.
Namun penghukuman di tanah pembuangan itu segera akan berakhir, pemulihan dari Allah sedang terjadi bagi
umat-Nya.
Alasannya adalah karena cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Tuhan berfirman kepada umat-Nya melalui Yeremia,
"Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu."
Kasih Allah bagi umatNya adalah kekal dan karenanya terus berlanjut, bahkan di tengah situasi umat Allah yang jauh dari ideal.
Di tengah keadaan yang demikian, kasih Allah tak pernah berubah.
Allah menegaskan janji-Nya kepada orang Israel dan Yehuda, bahwa Ia akan membangun mereka kembali.
Mereka akan menghiasi diri dan akan menari dalam sukaria sebagai orang-orang yang telah dibebaskan dan menang.
Gunung Samaria dan gunung Efraim yang menunjuk pada Israel utara akan penuh dengan kebun anggur yang berlimpah hasil.
Kekalahan dalam perang telah menjadikan tanah Israel gersang, terutama hidup yang seakan tak punya harapan apa-apa lagi.
Namun pemulihan dari Tuhan akan membalikkan keadaan gersang tersebut menjadi keadaan penuh kelimpahan: gandum, anggur, dan minyak, anak kambing domba dan lembu sapi, serta harapan baru.
Mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik. Orang-orang menunjuk kepada Sion sebagai tanda kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, sekaligus pemulihan yang akan terjadi juga bagi Yehuda di selatan Israel dan di Yerusalem.
Sorak-sorai dan sukacita akan memenuhi umat Allah karena Tuhan menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel yang terluput.
Pengakuan tentang Allah yang menyelamatkan menjadi pengakuan iman umat Allah dari generasi ke generasi, menjadi
doa dan pengharapan umat yang ditujukan kepada Allah.
Penyelamatan itu sendiri dikonkritkan dengan janji bahwa Allah akan membawa mereka dari tanah utara yang menunjuk pada Asyur dan Babel.
Bahkan mereka yang memiliki keterbatasan seperti kelumpuhan, atau mereka yang dalam keadaan tidak ideal untuk berjalan pulang seperti ibu hamil, akan berjalan bersama dalam arak-arakan besar pulang ke tanah perjanjian.
Di sinilah cinta kasih Allah dinyatakan secara penuh: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, menjaga mereka laksana gembala menjaga kawanan dombanya.
Ia membebaskan dan menebus mereka! Semua orang dari segala umur, dari para imam sampai umat Allah, akan bersukacita dan bergembira atas perbuatan Tuhan yang menyelamatkan mereka, laksana orang yang terlepas dari perkabungan dan keadaannya berubah menjadi kegirangan.
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, kita pun rindu mengalami sukacita dan kegirangan
sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepada orang Israel dan orang Yehuda melalui Nabi Yeremia, dan sudah seharusnya kita bersukacita dan bergirang.
Mengapa? Karena kelepasan dan pembebasan Allah telah teralami dalam hidup kita sebagai orang percaya melalui karya kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus di atas kayu salib.
Kuasa dosa tak lagi membelenggu kita, kuasa maut tak lagi menakutkan kita.
Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat yang memiliki kita dan kasih-Nya tak berhenti dicurahkan-Nya kepada kita. Lantas, apa lagi yang kurang?
Sebagaimana orang Israel dan Yehuda, kita yang dibebaskan dan diselamatkan masuk ke dalam suatu proses yang disebut proses pemulihan.
Paulus menggunakan dua kata untuk menjelaskan hal ini: kita dibenarkan dan kita masuk dalam proses pengudusan.
Allah rindu kita mencerminkan hidup yang telah diselamatkan itu dalam kehidupan yang terus dipulihkan.
Kalau dulu kita sering berdusta, kini kita dipulihkan untuk herkata-kata dalam kebenaran, juga berbagai contoh lainnya.
Cinta kasih Allah akan melakukannya, sebab cinta kasih yang benar tidak membiarkan seseorang terus dalam keadaannya yang lama dan merusak, tetapi mendorong seseorang untuk terus dibaharui dan mengalami segala yang baik.
Maka, dalam proses di masa muda kita, di mana Allah terus memulihkan dan membentuk kita, ingatlah selalu akan cinta kasih-Nya yang kekal atas kita.
Pandanglah pada Yesus Kristus senantiasa dan segala yang telah dilakukan-Nya bagi keselamatan kita.
Di sana kita akan menyadari betapa kita sangat dikasihi, Amin.