Merdeka yang Terasa Belum Sempurna
suhendri August 02, 2026 10:03 PM

Oleh: Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom. - Guru Informatika MTsS Plus Bahrul Ulum Sungailiat, Bangka 

SETIAP tanggal 17 Agustus, seluruh penjuru negeri bersorak menyambut hari kemerdekaan. Bendera Merah Putih dikibarkan dengan gagah, lagu kebangsaan bergema di mana-mana, dan lambaian bendera kecil di tangan warga menjadi pemandangan yang menyentuh hati. Kita merayakan bebasnya bangsa ini dari belenggu penjajahan, berterima kasih kepada pahlawan yang telah berkorban nyawa dan harta demi satu kata: Merdeka.

Namun, di tengah kemeriahan perayaan itu, jujurlah sejenak: apakah kemerdekaan yang kita nikmati hari ini sudah sepenuhnya merdeka? Secara de jure, kita memang bebas. Tidak ada lagi penjajah asing yang menginjak bumi pertiwi, tidak ada lagi perintah dalam bahasa asing yang memerintah hidup mati rakyat kita. Tetapi secara hakiki, kemerdekaan kita masih terasa "gagal" atau setidaknya belum tuntas sepenuhnya.

Kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari kekuasaan bangsa asing. Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap anak bangsa bebas dari kebodohan, bebas dari kemiskinan, bebas dari ketidakadilan, dan bebas dari rasa takut.

Sayangnya, lebih dari tujuh puluh tahun berlalu, bayang-bayang "penjajah baru" masih terlihat jelas di sini. Penjajah itu bukan lagi tentara berseragam asing, melainkan kebodohan yang masih menguasai jutaan pikiran, kemiskinan yang masih membelenggu jutaan kehidupan, ketimpangan kesempatan yang masih memisahkan anak bangsa menjadi dua kelompok besar: yang serba berkecukupan dan yang serba kekurangan. Di sinilah letak kegagalan kemerdekaan kita: kita telah merdeka secara politik, namun belum merdeka sepenuhnya dalam pendidikan, ekonomi, dan keadilan sosial.

Lihatlah pendidikan yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara, namun masih banyak anak-anak di pelosok negeri yang terpaksa berjuang hanya untuk bisa masuk ke dalam ruang kelas yang layak. Masih ada yang harus menyeberangi sungai, mendaki bukit berbahaya, atau berjalan berjam-jam demi selembar ilmu. Padahal, kemerdekaan tanpa kemerdekaan berpikir adalah kemerdekaan yang rapuh. Jika pikiran rakyat masih dibelenggu kebodohan, maka kemerdekaan itu hanyalah nama tanpa isi.

Di sisi lain, ekonomi yang seharusnya berputar di tangan rakyat, justru sering kali dikuasai oleh segelintir kelompok saja. Kesenjangan yang makin melebar menampakkan wajah pahit kemerdekaan yang belum berpihak pada yang lemah. Rakyat kecil masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, sementara kekayaan alam negeri ini mengalir deras meninggalkan mereka.

Bukankah kemerdekaan berarti keadilan bagi semua anak bangsa? Jika tidak demikian, maka kemerdekaan itu memang belum tuntas.

Kita juga belum sepenuhnya merdeka dari ketidakadilan dan ketertinggalan budaya. Masih banyak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat banyak. Masih ada kebiasaan membiarkan diri terbelenggu oleh kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama.

Kita bebas menyuarakan pendapat, namun belum tentu bebas menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut atau dikucilkan. Kita bebas bergerak ke mana saja, namun masih terbelenggu oleh kemalasan, ketidakdisiplinan, dan rasa tidak peduli terhadap sesama. Inilah bentuk kegagalan kemerdekaan yang paling nyata: ketika kita bebas secara lahir, namun masih diperbudak oleh sifat-sifat buruk dan pola pikir yang belum maju.

Namun, menyadari bahwa kemerdekaan ini belum sempurna bukan berarti kita putus asa. Justru kesadaran inilah yang seharusnya menjadi titik awal perjuangan baru. Jika dulu pahlawan kita berjuang melepaskan negeri dari penjajahan fisik, maka tugas kita saat ini adalah melenyapkan penjajahan dalam pikiran dan kehidupan.

Kita harus berjuang agar setiap anak bangsa benar-benar merdeka dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Kita harus berjuang agar kekayaan alam negeri ini kembali bermanfaat secara merata bagi seluruh rakyat. Kita harus berjuang agar keadilan benar-benar menjadi milik semua orang, bukan hanya milik mereka yang berkuasa atau kaya raya.

Kemerdekaan yang "gagal" ini adalah teguran halus bagi kita semua. Bahwa warisan luhur para pahlawan belum sepenuhnya kita wujudkan sesuai harapan. Bahwa tugas menjaga dan mengisi kemerdekaan ini belum selesai. Bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh agar satu hari nanti, kita dapat berkata dengan penuh keyakinan: Ya, negeri ini benar-benar merdeka. Merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari ketidakadilan, dan merdeka menjadi bangsa yang bermartabat, sejahtera, dan beradab.

Sampai saat itu tiba, mari kita jadikan kesadaran ini sebagai bahan bakar semangat untuk terus berjuang, memperbaiki diri, dan membangun negeri dengan tulus. Karena merdeka itu bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga cita-cita yang harus kita wujudkan hari demi hari, tanpa kenal lelah. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.