2 Bendungan di Lampung Berpotensi Defisit Air Saat Puncak Kemarau 2026, BBWS Siapkan Mitigasi
taryono August 03, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Memasuki puncak musim kemarau 2026, dua dari lima bendungan utama yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung diproyeksikan mengalami defisit air apabila tidak terjadi hujan sama sekali. 

Baca juga: Polres Tulangbawang Apel Satset Siap Jaga Kamtibmas Kondusif

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BBWS Mesuji Sekampung menyiapkan jaringan irigasi air tanah, sumur bor, serta cadangan pompa air guna menjaga pasokan irigasi dan air baku di Provinsi Lampung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Lampung. 

Menghadapi periode tersebut, BBWS Mesuji Sekampung melakukan pemetaan terhadap daya tahan pasokan air dari lima bendungan utama, yakni Bendungan Batutegi di Kabupaten Tanggamus, Bendungan Way Sekampung di Kabupaten Pringsewu, Bendungan Margatiga dan Bendungan Way Jepara di Kabupaten Lampung Timur, serta Bendungan Way Rarem di Kabupaten Lampung Utara.

Berdasarkan hasil pemetaan, kondisi ketersediaan air pada lima bendungan tersebut berada dalam tingkat keamanan yang berbeda. 

Tiga bendungan masih memiliki cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir 2026, sedangkan dua bendungan di Lampung Timur berpotensi mengalami kekurangan pasokan apabila tidak mendapatkan tambahan curah hujan.

Bendungan Batutegi menjadi salah satu penopang utama sistem pengelolaan air di Lampung dengan cadangan air terbesar. 

Hingga saat ini, bendungan tersebut masih memiliki volume tampungan sekitar 379,49 juta meter kubik yang mampu mendukung kebutuhan irigasi lebih dari 28.500 hektare lahan pertanian.

Selain memenuhi kebutuhan irigasi, pasokan air dari Bendungan Batutegi juga dimanfaatkan untuk memperkuat Bendungan Way Sekampung yang berada di bagian hilir. 

Kolaborasi kedua bendungan tersebut diproyeksikan mampu menjaga kebutuhan air baku bagi masyarakat, termasuk layanan PDAM di Bandar Lampung, Metro, dan Pringsewu, sekaligus mendukung pengairan sekitar 32.676 hektare lahan pertanian.

Sementara itu, Bendungan Way Rarem masih memiliki cadangan air sekitar 20,43 juta meter kubik. Volume tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi sekitar 4.669 hektare sawah.

Berbeda dengan kondisi tiga bendungan tersebut, Bendungan Way Jepara dan Bendungan Margatiga menghadapi risiko defisit air apabila tidak terjadi hujan selama puncak musim kemarau.

Bendungan Way Jepara diproyeksikan mengalami kekurangan air sekitar 15,48 juta meter kubik. 

Kondisi itu membuat kemampuan pelayanan irigasinya turun menjadi sekitar 1.757 hektare dari target layanan seluas 2.916 hektare sawah.

Adapun Bendungan Margatiga diproyeksikan mengalami defisit sekitar 21,22 juta meter kubik. 

Dengan kondisi tersebut, pasokan air untuk Daerah Irigasi Jabung Kiri diperkirakan hanya mampu melayani 2.004 hektare dari total potensi layanan 3.600 hektare.

Untuk mengurangi dampak kekurangan air tersebut, BBWS Mesuji Sekampung mengoptimalkan pemanfaatan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui sumur bor yang telah dibangun di sejumlah wilayah.

Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, mengatakan saat ini terdapat 115 unit sumur bor eksisting dengan total debit air mencapai 217,95 liter per detik. Infrastruktur tersebut mampu mengairi sekitar 2.044 hektare lahan pertanian.

"Saat ini, terdapat 115 unit sumur bor eksisting dengan total debit air 217,95 liter per detik yang mengaliri 2.044 hektare lahan pertanian," ujar Elroy dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).

Berdasarkan sebarannya, jumlah sumur bor terbanyak berada di Kabupaten Lampung Selatan dengan 74 unit. Selanjutnya, Kabupaten Lampung Timur memiliki 27 unit, Lampung Tengah 11 unit, Pringsewu 2 unit, dan Pesawaran 1 unit.

Selain mengoptimalkan fungsi sumur bor yang telah tersedia, pemerintah juga mengusulkan pembangunan sumur bor baru di sejumlah wilayah yang memiliki tingkat risiko kekeringan tinggi.

Beberapa lokasi prioritas yang diusulkan meliputi Kecamatan Terusan Nunyai, Terbanggi Besar, dan Way Pengubuan di Kabupaten Lampung Tengah; Kecamatan Tumi Jajar dan Tulang Bawang Udik di Kabupaten Tulang Bawang Barat; serta Kecamatan Bumi Agung di Kabupaten Lampung Timur.

Upaya tersebut dilakukan sejalan dengan arahan Menteri Pekerjaan Umum kepada seluruh jajaran Balai Wilayah Sungai melalui Memorandum Nomor SA0204/B/Mn/2026/24.

Dalam arahan tersebut, Menteri PU menekankan lima langkah utama yang harus dilaksanakan, yakni penguatan mitigasi, pemantauan intensif terhadap ketersediaan air, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), kesiapsiagaan sarana dan prasarana, serta penguatan koordinasi lintas sektor.

"Menteri PU menegaskan lima langkah utama yang wajib dilakukan oleh jajaran balai wilayah sungai, yaitu penguatan langkah mitigasi, pemantauan intensif ketersediaan air, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), kesiapsiagaan sarana dan prasarana, serta penguatan koordinasi lintas sektor," papar Elroy.

Lebih lanjut, BBWS Mesuji Sekampung terus melakukan pemantauan terhadap elevasi muka air bendungan, menyiapkan cadangan pompa air, serta berkoordinasi secara aktif dengan BMKG terkait pelaksanaan hujan buatan melalui OMC apabila elevasi bendungan mendekati batas minimum kritis.

Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan air bagi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pengamanan produksi pangan nasional, khususnya di Provinsi Lampung.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.