Jatim Quattrick Juara Umum LKS Nasional, Ini Strategi Pembinaannya
Titis Jati Permata August 03, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Empat kali berturut-turut menjadi juara umum Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Pendidikan Menengah Tingkat Nasional bukan hasil yang diraih secara instan.

Dominasi Jawa Timur dalam ajang kompetensi siswa vokasi tersebut lahir dari pola pembinaan yang dilakukan secara sistematis, berjenjang, dan berkelanjutan.

Pada LKS Dikmen Nasional 2026, kontingen Jawa Timur kembali keluar sebagai juara umum setelah mengoleksi 30 medali. Rinciannya, 18 medali emas, tujuh perak, dan lima perunggu.

Capaian tersebut mengantarkan Jawa Timur mengungguli DKI Jakarta di posisi kedua dan Jawa Tengah di peringkat ketiga.

Prestasi itu sekaligus memperpanjang catatan quattrick juara umum sejak 2023.

Bukan Faktor Keberuntungan

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, keberhasilan mempertahankan gelar juara umum menunjukkan kekuatan sistem pembinaan pendidikan vokasi di Jawa Timur.

Menurutnya, persaingan dalam LKS tingkat nasional sangat ketat, terutama dengan provinsi yang memiliki tradisi kuat dalam pendidikan vokasi seperti Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

"Target kita jelas, yaitu memberikan hasil terbaik di tingkat nasional. Kompetitor kita juga sangat kuat. Karena itu, seluruh persiapan dilakukan secara matang, terukur, dan terus dievaluasi," ujar Aries kepada SURYA.co.id di Surabaya, Senin (3/8/2026).

Baca juga: Surabaya Batal Masukkan Mobile Legends ke Ekskul, Dinas Pendidikan Ungkap Alasannya

Ia menegaskan, LKS bukan hanya ajang mengejar medali, tetapi juga menjadi indikator kualitas pendidikan vokasi dan kesiapan lulusan SMK menghadapi dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.

Seleksi Berjenjang hingga Training Center

Untuk mencetak peserta terbaik, proses pembinaan dilakukan sejak tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.

Siswa yang lolos seleksi tidak langsung dikirim ke tingkat nasional. Mereka terlebih dahulu mengikuti pemusatan latihan atau training center selama satu hingga tiga bulan sesuai bidang lomba.

Pelatihan dilakukan melalui berbagai tempat, mulai dari sekolah, lembaga pelatihan, hingga fasilitas milik dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Dalam proses tersebut, peserta dilatih meningkatkan kemampuan teknis, mulai dari ketelitian, kecepatan kerja, penguasaan teknologi, kreativitas, hingga kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai standar industri.

Evaluasi Jadi Kunci Pertahankan Prestasi

Aries menjelaskan, setiap hasil kompetisi selalu menjadi bahan evaluasi untuk menyusun strategi pembinaan berikutnya.

Dinas Pendidikan Jawa Timur tidak hanya menghitung jumlah medali, tetapi juga menganalisis kekuatan dan kelemahan peserta di setiap bidang lomba.

"Kita tidak hanya melihat berapa medali yang diperoleh, tetapi mengevaluasi setiap bidang lomba. Kita pelajari apa yang sudah kuat, apa yang masih menjadi kelemahan peserta, serta bagaimana perkembangan kompetitor dari provinsi lain," katanya.

Dalam proses pembinaan, Dinas Pendidikan juga melibatkan praktisi industri, tenaga ahli, mantan juara, hingga peserta WorldSkills agar standar latihan mendekati kompetisi internasional.

Simulasi Lomba Dibuat Mirip Kondisi Nasional

Salah satu strategi pembinaan dilakukan dengan menghadirkan simulasi perlombaan yang menyerupai kondisi sebenarnya.

Peserta tidak hanya diuji kemampuan teknis, tetapi juga menghadapi tantangan seperti mystery box, yakni persoalan yang baru diketahui saat perlombaan berlangsung.

"Soal-soal yang kita siapkan harus mendekati standar nasional. Tenaga ahli dari industri dan mantan juara WorldSkills juga menerapkan standar tinggi. Dari proses itulah kita menentukan peserta terbaik yang benar-benar siap," jelas Aries.

Menurutnya, kebutuhan industri yang terus berkembang membuat siswa SMK harus memiliki kemampuan lebih dari sekadar keterampilan teknis.

Kemampuan analisis, komunikasi, kreativitas, serta pemecahan masalah menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki peserta.

Mental Juara Ikut Ditempa

Selain kemampuan teknis, pembinaan juga diarahkan untuk membangun mental bertanding.

Selama training center, siswa dibiasakan mengikuti simulasi kompetisi dengan tekanan waktu dan standar penilaian yang menyerupai lomba nasional.

"Peserta harus memiliki keterampilan sekaligus mental juara. Kemampuan teknis harus diikuti ketenangan, keberanian mengambil keputusan, disiplin, dan kepercayaan diri ketika berada di arena lomba," tegas Aries.
Pendampingan juga terus dilakukan oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama Bidang Pembinaan SMK, MKKS SMK, kepala sekolah, guru pembimbing, mentor, serta pendamping.

Tidak hanya aspek teknis, kondisi kesehatan dan kesiapan mental peserta juga menjadi perhatian selama kompetisi berlangsung.

Prestasi Jadi Modal Menuju Level Internasional
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi kepada para siswa berprestasi sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras seluruh pihak yang terlibat.

Aries menegaskan, capaian tersebut bukan akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal untuk membawa siswa berprestasi ke kompetisi tingkat regional maupun internasional.

"Medali nasional bukan titik akhir. Anak-anak yang sudah menunjukkan kemampuan terbaik harus terus dibina agar memiliki kesempatan membawa nama Indonesia di kompetisi tingkat regional dan internasional," ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan empat kali menjadi juara umum merupakan hasil kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, guru, industri, orang tua, dan para siswa.

"Prestasi ini bukan akhir, melainkan energi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Target besarnya adalah melahirkan sumber daya manusia Jawa Timur yang kompeten, berkarakter, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global," pungkas Aries.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.