Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menjadi salah satu pasar investasi emas dengan pertumbuhan paling kuat di dunia pada kuartal II 2026. Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC) mencatat permintaan emas batangan dan koin di Indonesia melonjak 40% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 15 ton, meski harga emas global sempat terkoreksi setelah mencetak rekor pada awal tahun.
Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, mengatakan, Indonesia kembali menjadi salah satu pasar emas dengan kinerja investasi terkuat secara global pada kuartal kedua.
"Permintaan emas batangan dan koin melonjak hingga 40% (y/y) meskipun kenaikan harga emas melandai. Ketahanan permintaan ini mencerminkan adanya pergeseran perilaku investor," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).
"Alih-alih sekadar merespons fluktuasi harga jangka pendek, semakin banyak investor di Indonesia yang memandang emas sebagai aset strategis untuk jangka panjang, terutama di tengah berlanjutnya pelemahan rupiah dan ketidakpastian prospek ekonomi domestik," tambah dia.
Menurut WGC, lonjakan permintaan tersebut menunjukkan semakin kuatnya peran emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) bagi masyarakat Indonesia. Pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi membuat investor memilih mengalihkan sebagian dana mereka ke emas untuk menjaga nilai aset.
Secara global, total permintaan emas pada kuartal II 2026 relatif stabil di level 1.269 ton. Sementara itu, sepanjang semester pertama 2026, permintaan emas meningkat 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sekitar 2.522 ton dengan nilai mencapai US$ 380 miliar.

World Gold Council juga menilai langkah pemerintah meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Kegiatan Usaha dan Ekosistem Bulion Indonesia menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri emas nasional.
Shaokai Fan mengatakan, peluncuran Bullion Ecosystem Development Roadmap Indonesia juga mencerminkan semakin besarnya pengakuan terhadap peran strategis emas dalam sistem keuangan nasional.
"Ke depan, kami memperkirakan bahwa inisiatif ini, yang didukung oleh kuatnya fundamental investasi jangka panjang, akan mendorong partisipasi investor secara lebih luas sekaligus membuka akses ke beragam produk investasi emas," jelasnya.
Di sisi lain, permintaan perhiasan emas di Indonesia justru masih mengalami tekanan. WGC mencatat permintaan perhiasan turun 10% dibandingkan tahun sebelumnya dan melanjutkan tren penurunan selama 13 kuartal berturut-turut.
Menurut laporan tersebut, tingginya harga emas membuat konsumen lebih memilih membeli perhiasan dengan kadar emas yang lebih rendah. Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.

Secara global, investasi emas menunjukkan dinamika yang berbeda pada kuartal II 2026. Permintaan melalui exchange traded fund (ETF) emas, emas batangan, dan koin turun menjadi 262 ton akibat koreksi harga emas yang meredam antusiasme investor setelah lonjakan pada awal tahun.
Namun demikian, analis senior pasar World Gold Council, Louise Street, menilai fundamental pasar emas masih sangat kuat.
"Tren kenaikan harga emas di awal tahun mulai melandai pada kuartal kedua dan memasuki fase konsolidasi usai terkoreksi dari rekor tertinggi. Meski demikian, pasar tetap disokong oleh fundamental yang kuat, menegaskan peran emas sebagai instrumen diversifikasi dan aset penyimpan nilai. Walau arus modal ke ETF emas meredup akibat koreksi harga, aksi beli konsisten dari bank sentral serta meningkatnya investasi di luar bursa resmi tetap mampu mendorong total permintaan emas tumbuh 2% (y/y) sepanjang semester pertama."
Memasuki paruh kedua 2026, WGC memperkirakan investasi akan tetap menjadi motor utama permintaan emas dunia. Minat investor Asia diprediksi semakin dominan, sementara pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan tetap berlanjut meski tidak seagresif beberapa tahun terakhir. Bagi Indonesia, kondisi tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat ekosistem bulion nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap berbagai instrumen investasi emas.