BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Kekeringan di Kalimantan Selatan tak hanya mengancam tanaman padi yang sudah ditanam. Persemaian yang menjadi tahap awal produksi pada pun mulai terdampak akibat keterbatasan air selama musim kemarau.
Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTH) Kalsel mencatat hingga akhir Juli 2026 sebanyak 275 kilogram benih persemaian terdampak kekeringan.
Dari jumlah tersebut, 125 kilogram di antaranya dilaporkan mengalami puso.
Kepala BPTH Kalsel, Lestari Fatria Wahyuni mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena kekeringan masih berpotensi meluas jika hujan belum turun dalam waktu dekat.
“Menurut prediksi BKMG, puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September dan berpotensi lebih panjang karena pengaruh el nino,” katanya, Senin (3/8/2026).
Baca juga: Kesaksian Sopir Ambulans Evakuasi Kecelakaan Maut Mahasiswa KKN di Tanahbumbu: 6 Meninggal di Tempat
Baca juga: BMKG Ungkap Fakta Gempa di Tabalong Kalsel, Warga Akui Tak Ada yang Rasakan Getaran
Dampak terparah pada persemaian terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sebanyak 125 kilogram persemaian yang terdampak di daerah tersebut seluruhnya mengalami puso.
Sementara itu, Kabupaten Tanahbumbu mencatat 150 kilogram persemaian terdampak, meski belum dilaporkan mengalami puso.
Persoalan air juga terjadi pada lahan produksi. Hingga 31 Juli 2026, BPTPH Kalsel mencatat 6.691 hektare lahan padi mengalami kekeringan.
Kabupaten Tanahlaut menjadi wilayah dengan lahan terdampak paling luas, yakni 3.383 hektare. Berikutnya Baritokuala 1.919 hektare, Kabupaten Banjar 622 hektare, dan Tanahbumbu 446 hektare.
Sekitar 1,3 hektare di antaranya telah mengalami puso. Kekeringan juga tercatat pada tanaman jagung seluas 5,5 hektare, meski belum ditemukan laporan puso.
Lestari mengatakan kondisi tersebut masih dapat memburuk jika pasokan air tidak segera bertambah. Petugas di lapangan, kata dia, kini memantau sumber air yang masih tersedia untuk membantu mempertahankan lahan pertanian.
Di kawasan lahan pasang surut seperti Batola, petani didorong memanfaatkan sumur pertanian karena air di wilayah tersebut memiliki tingkat keasaman cukup tinggi. Sementara sumber air lain diupayakan melalui pompanisasi dengan koordinasi bersama pemerintah daerah dan Balai Wilayah Sungai.
“Kami terus mengoptimalkan sumber air yang ada. Koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah dan Balai Wilayah Sungai agar pengairan ke lahan pertanian tetap bisa berjalan,” katanya.
BPTPH juga berharap operasi modifikasi cuaca dapat membantu mengurangi tekanan kekeringan di sejumlah wilayah.
Petani turut diminta tidak membakar jerami setelah panen. Sisa tanaman dianjurkan dimanfaatkan sebagai kompos melalui Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus menekan risiko kebakaran lahan selama musim kemarau.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)