TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG SELATAN - Aksi tawuran yang diduga melibatkan sekelompok remaja berubah menjadi teror di kawasan Gang Swadaya, Jalan Ki Hajar Dewantara, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Minggu (2/8/2026) dini hari.
Para pelaku diduga membawa senjata tajam dan melemparkan bom molotov ke arah permukiman warga hingga menyebabkan dua orang terluka serta merusak sejumlah fasilitas.
Ketua RW 05, Supriadi, mengatakan situasi di lingkungan tersebut semula berlangsung kondusif.
Bersama warga, ia baru saja menyelesaikan kerja bakti memasang bendera Merah Putih untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca juga: Viral Bocah SD Diduga Dibully di Pontang Serang, Kasus Berakhir Damai Lewat Mediasi
Sekitar pukul 03.00 WIB, seluruh kegiatan selesai dan warga kembali ke rumah masing-masing setelah membersihkan lingkungan.
"Alhamdulillah, jam tiga pemasangan bendera selesai. Setelah bersih-bersih saya bilang, kalau memang sudah bersih kita kondusif, lalu warga beristirahat," ujarnya.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Supriadi mengaku dikejutkan oleh teriakan seorang remaja perempuan yang meminta pertolongan karena permukiman mereka diserang.
"Tiba-tiba remaja perempuan teriak, "Bapak RW, Bapak RW, kita diserang"," tuturnya.
Mendengar teriakan tersebut, Supriadi langsung keluar rumah untuk memastikan situasi. Saat itulah ia melihat sekelompok remaja yang diduga sebagai pelaku telah memasuki kawasan permukiman sambil membawa senjata tajam.
"Saya keluar rumah, ternyata benar. Penyerang sudah sampai dekat rumah saya. Mereka semua bersenjatakan celurit yang panjang-panjang," katanya.
Menurut keterangan warga, lanjut Supriadi, kelompok tersebut kemudian menyerang ke dalam gang permukiman sambil melemparkan bom molotov ke arah rumah warga.
Kobaran api langsung membesar dan memicu kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan diri serta memadamkan api agar tidak merembet ke bangunan lain.
Supriadi menyebut para pelaku diduga mengambil botol berisi bensin dari sebuah warung Madura sebelum kembali melakukan pelemparan.
"Mereka mengambil bensin di Toko Madura, lalu dilempar lagi sampai api membesar ke atas," ungkapnya.
Besarnya kobaran api membuat seluruh warga panik karena khawatir terjadi kebakaran besar di lingkungan padat penduduk tersebut.
"Semua panik, takut terjadi kebakaran. Makanya warga pada menjerit semua," kata Supriadi.
Aksi penyerangan itu meninggalkan sejumlah kerusakan di lingkungan RW 05. Gapura yang telah berdiri selama puluhan tahun dirusak hingga roboh, kaca rumah warga pecah, dan satu unit sepeda motor nyaris dibakar.
Beruntung, api berhasil dipadamkan sehingga rumah yang menjadi sasaran tidak sampai hangus terbakar.
"Gapura yang sudah kita pasang puluhan tahun dirubuhkan. Motor juga sempat dibakar, alhamdulillah bisa diamankan. Kaca-kaca rumah warga juga dipecahkan," ujar Supriadi.
Selain kerusakan material, 2 warga menjadi korban dalam peristiwa itu.
Seorang warga mengalami luka bacok di bagian kepala, kedua tangan, dan badan sehingga harus mendapatkan perawatan medis. Sementara seorang warga lainnya mengalami luka pada kaki yang disebut akibat siraman air keras.
Supriadi menilai dampak yang paling berbahaya justru berasal dari lemparan bom molotov yang nyaris memicu kebakaran besar di permukiman.
"Kalau tidak diantisipasi bisa jadi kebakaran. Yang satu luka bacok di kepala, tangan, dan badan. Yang satu lagi kena siraman air keras," katanya.
Pasca-kejadian, warga mengaku masih dihantui rasa cemas dan berharap pelaku segera ditangkap.
Ketua RW mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar tidak terlibat aksi kekerasan maupun tawuran yang dapat berujung pada pelanggaran hukum dan membahayakan masyarakat.
Sementara itu, Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq menerima laporan masyarakat melalui layanan Call Center Polri 110 Minggu dini hari.
Petugas langsung mendatangi lokasi, melakukan penyisiran, membubarkan kelompok yang terlibat, serta memastikan situasi kembali aman dan kondusif.
Polisi berkoordinasi dengan Brimob Yon C Pelopor untuk melakukan penebalan personel di titik-titik rawan sebagai langkah antisipasi.
Bambang menegaskan penanganan tawuran tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.
"Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, peduli terhadap lingkungan, serta segera melaporkan setiap potensi gangguan kamtibmas melalui Call Center Polri 110 atau Bhabinkamtibmas setempat," ujar Bambang.
Bambang mengatakan, saat ini Unit Reskrim Polsek Ciputat Timur masih melakukan penyelidikan dan pendalaman terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
"Proses penyelidikan dilakukan secara profesional berdasarkan alat bukti dan fakta yang ditemukan di lapangan guna mengungkap secara tuntas rangkaian kejadian," pungkasnya.