Pedagang Bendera di Kayuagung OKI Mengeluh karena Kalah Saing dengan Toko Online
tarso romli August 04, 2026 12:27 AM

 

 

Baca juga: PEDAGANG Bendera di PALI Sepi Pembeli, Sehari Laku 2 Lembar, Bendera One Piece Tak Berani Jual

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG — Semarak menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terlihat di sepanjang jalan utama Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Deretan bendera Merah Putih dan umbul-umbul beraneka warna berkibar rapi menghiasi pinggir jalan yang dijajakan oleh para pedagang musiman.

Namun, semaraknya warna-warni atribut kemerdekaan tersebut tidak sejalan dengan nasib para penjualnya.

Memasuki awal Agustus 2026, para pedagang justru mengeluhkan lapak dagangan yang sepi pembeli, membuat omzet penjualan terjun bebas jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dayat, salah seorang penjual bendera yang membuka lapaknya di sekitar kawasan Taman Segitiga Emas Kayuagung, tampak hanya bisa termenung menatap tumpukan barang dagangannya, Senin (3/8/2026) siang.

Ia menceritakan bahwa dalam sepekan terakhir berjualan, jumlah warga yang datang untuk membeli atribut kemerdekaan masih sangat minim.

"Baru seminggu terakhir berjualan di sini, memang kondisinya masih sangat sepi pembeli. Meskipun setiap hari selalu ada saja bendera yang laku terjual, tapi jumlahnya jauh dari harapan," ujar Dayat.

Datang dengan membawa modal barang yang cukup banyak, yakni sebanyak 30 kodi atau sekitar 600 lembar bendera dan atribut, Dayat mengaku hingga kini baru sebagian kecil yang berhasil terjual.

"Awalnya saya ke sini bawa 30 kodi, sampai sekarang yang laku baru sekitar 2 kodi. Semoga saja minggu depan sudah mulai ramai," harapnya.

Meski pembeli tergolong sepi, Dayat tetap setia menunggu lapaknya dari pukul 06.00 WIB pagi hingga sore hari. Pembeli eceran dari kalangan masyarakat umum saat ini diakuinya bisa dihitung dengan jari, di mana warga yang datang biasanya hanya membeli satu atau dua lembar saja untuk dipasang di rumah.

Harapan utamanya kini hanya bertumpu pada pelanggan tetap dari kalangan instansi pemerintahan.

Kalah Saing dengan E-Commerce

Dayat secara terbuka menyebutkan bahwa biang keladi dari merosotnya omzet penjualan pedagang jalanan adalah maraknya tren belanja daring melalui aplikasi e-commerce.

Banyak instansi pemerintah hingga perusahaan swasta yang dahulu menjadi langganan tetap pedagang kaki lima, kini beralih memesan kebutuhan atribut kemerdekaan secara online.

"Kalau sebelum ada aplikasi online, saya berjualan di Kayuagung ini bisa habis antara 50 sampai 100 kodi. Tetapi sejak tiga tahun terakhir penjualan terus menurun, paling banyak terjual cuma 10 kodi," beber Dayat dengan nada lesu.

Selain itu, pembeli yang datang ke lapaknya kini hampir tidak ada lagi yang memborong dalam jumlah besar.

Mayoritas pembeli hanyalah penduduk lokal yang membeli satu atau dua bendera untuk keperluan rumah tangga.

Melihat lesunya situasi pasar tahun ini, Dayat memprediksi barang dagangannya tidak akan habis terjual hingga puncak perayaan 16 Agustus 2026 mendatang.

Kendati demikian, ia tetap menyimpan asa agar gelombang pembeli mulai meningkat saat memasuki pertengahan bulan Agustus.

"Biasanya mulai ramai kalau sudah pertengahan Agustus, semakin mendekat hari H biasanya makin ramai. Tapi prediksi saya sampai tanggal 16 Agustus nanti tidak akan habis semua, karena tahun ini terasa berbeda sekali dibanding tahun-tahun sebelumnya," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.