Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Perusahaan multimoda internasional, PT Trans Continent menegaskan komitmennya untuk membuka konektivitas pelayaran logistik antara Aceh dan Malaysia.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung ekspor komoditas unggulan Aceh sekaligus memperkuat rantai distribusi barang ke pasar internasional.
Komitmen tersebut disampaikan CEO Trans Continent, Ismail Rasyid dalam podcast Serambi Talks yang dipandu Pemimpin Redaksi (Pemred) Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, Senin (3/8/2026).
Ismail mengungkap, bisnis logistik telah menjadi fokus utama perusahaan selama puluhan tahun.
Pengalaman panjang itu mendorong Trans Continent untuk tetap konsisten mengembangkan konektivitas logistik di Aceh meski menghadapi berbagai tantangan.
“Sebenarnya kami di logistik ini sudah 40 tahun, 10 tahun bekerja dengan perusahaan lain yang profesional dan 25 tahun kita usaha sendiri,” ungkap Ismail.
“Konektivitas logistik ini sudah merupakan bagian daripada darah ya, dan mengalir dalam diri saya sendiri,” katanya.
Baca juga: Trans Continent Fokus Pulihkan Operasional Pasca Bencana di Aceh dan Sumut
Menurut dia, Aceh membutuhkan dukungan sektor logistik yang mampu menunjang pengembangan agroindustri, perdagangan, serta distribusi berbagai komoditas daerah ke luar Aceh maupun ke pasar internasional.
Trans Continent sendiri, kata dia, telah beroperasi di Aceh sejak 2018.
Perusahaan itu membangun infrastruktur dan basis operasional di kawasan Krueng Raya, Aceh Besar.
Meski bisnis yang dijalankan belum memberikan keuntungan maksimal, operasional tetap dipertahankan hingga saat ini.
“Tapi dari 2018 hingga hari ini, kami masih subsidi untuk kegiatan kami yang ada di Aceh,” ujarnya.
Saat ini, perusahaan masih mempertahankan operasional di Banda Aceh dan terus melakukan pengembangan di Aceh Utara.
Selain menambah tenaga kerja, Trans Continent juga telah membeli lahan untuk pengembangan infrastruktur logistik serta menjalin kerja sama dengan Pelindo di Lhokseumawe.
Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah hambatan yang menghambat perkembangan sektor logistik di Aceh.
Baca juga: PT Trans Continent Lakukan Penggemukan 150 Sapi di Gorontalo, Targetkan Kapasitas 1.000 Ekor
Salah satunya adalah belum terbangunnya ekosistem usaha yang terintegrasi, termasuk kesiapan pelabuhan dan regulasi yang dinilai belum selaras.
“Beberapa hambatan yang sangat dilematis di kita adalah ekosistem dunia usaha swasta ini belum terkoneksi dengan baik,” beber dia.
“Baik itu yang berkaitan dengan infrastruktur di pelabuhan, kesiapan pelabuhan, kemudian juga beberapa regulasi yang belum linier,” katanya.
Meski demikian, Trans Continent tetap melanjutkan kajian pembukaan jalur kargo laut dari Banda Aceh ke Malaysia.
Perusahaan menargetkan Port Klang sebagai pelabuhan utama karena berfungsi sebagai hub internasional menuju berbagai negara tujuan ekspor.
“Trans Continent tetap akan konsisten untuk melakukan lanjutan kajian pelaksanaan untuk dilaksanakan pembukaan jalur rute kargo, khususnya Banda Aceh ke Malaysia,” tegas Ismail.
“Terutama tujuan utamanya adalah sebagai Port Klang, karena itu pelabuhan transit hub untuk internasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ismail menjelaskan, bahwa kapal yang akan dioperasikan nantinya bersifat fleksibel dan dapat melayani rute ke Penang maupun pelabuhan lain di Malaysia.
Baca juga: Cek Kesiapan Pelabuhan, Mualem Tekankan Pentingnya Kelancaran Pelayaran Aceh–Penang
Saat ini kajian biaya operasional jalur Aceh-Malaysia telah hampir selesai.
“Jadi diskusi ini terus berlanjut dan hingga hari ini, kajian kami khusus untuk cost lokal ini sudah terbentuk,” papar dia.
“Cost antara Aceh dengan Malaysia untuk pengoperasian kapal sudah terbentuk,” tukas Ismail.
“Kami juga hampir melakukan finalisasi untuk yang dari Port Klang khususnya, karena target internasional adalah untuk ke Eropa, ke Cina,” ungkapnya.
Dari sisi komoditas, kata Ismail, Trans Continent melihat sektor agro menjadi peluang terbesar untuk mendukung keberlanjutan pelayaran logistik tersebut.
Beberapa komoditas yang dinilai potensial antara lain kelapa, kemiri, serta berbagai hasil perkebunan dan pertanian lainnya.
Meski begitu, perusahaan menegaskan perannya hanya sebagai penyedia jasa logistik, bukan pelaku perdagangan.
Karena itu, keberhasilan pembukaan jalur kargo juga membutuhkan dukungan pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, serta masyarakat.
“Fokus kami adalah sebagai transporter, sebagai logistics provider,” ungkap Ismail.
Baca juga: Mawardi Nur Tegaskan Visi Besar PEMA, dari Ekspor Kopi Hingga Pelayaran Aceh - Penang
“Tugasnya logistics provider adalah kalau ada aktivitas masyarakat yang mereka melakukan perdagangan antar-daerah, antar-kota, antar-pulau, antar-negara, nah tugas kami itu memberikan satu layanan yang fleksibel, ekonomis,” jelasnya.
Untuk itu, Ismail berharap seluruh pemangku kepentingan dapat membangun sinergi agar komoditas Aceh memiliki standar ekspor yang jelas dan pasokan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, konektivitas pelayaran logistik Aceh-Malaysia dapat berjalan secara konsisten dan memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami konsisten sampai dengan pelaksanaan. Tapi enggak mungkin bunuh diri,” tutur Ismail.
“Kalau kita sudah melakukan kajian itu terus nanti kesiapan kita siap, barangnya cuma sekali pukul setelah itu enggak ada lagi, nah ini juga menjadi pertimbangan,” pungkasnya.(*)