Api dari Dek Belakang, Penyintas Ceritakan Kepanikan di KMP Mutiara Sentosa II
Asmadi Pandapotan Siregar August 04, 2026 10:03 AM

BANGKAPOS.COM, SURABAYA -- Tangis keluarga pecah di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur, Senin (3/8), saat menunggu kepastian nasib kerabat yang menjadi korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II. Di depan kamar jenazah, mereka bergantian menyerahkan data ante mortem untuk membantu proses identifikasi lima korban tewas.

Sementara itu, kesaksian para penyintas mulai mengungkap detik-detik mencekam ketika kobaran api memaksa penumpang melompat ke laut demi menyelamatkan diri.

Lima kantong jenazah tiba bertahap sejak dini hari dan langsung dibawa ke ruang forensik. Tim Dokter Kepolisian Polda Jawa Timur membuka posko post mortem untuk mencocokkan identitas korban dengan data dari keluarga.

“Sudah ada beberapa kantong jenazah di lokasi. Mohon waktu, nanti rincian resminya akan disampaikan oleh Kabid Humas Polda Jatim,” ujar Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda Jatim AKBP dr. Adam Bimantoro.

Di antara keluarga yang menanti kabar, Sri Rahayu, warga Tulungagung, masih berharap adiknya, Sari Sukoco (39), sopir truk ekspedisi tujuan Sulawesi, ditemukan selamat. Harapan itu sempat muncul dari cerita Bambang Susilo (36), kernet yang bekerja bersama korban dan berhasil lolos dari maut.

Bambang menjadi saksi saat api melumpuhkan kapal. Ia mengaku mengajak Sari melompat ke laut, tetapi rekannya justru memintanya menyelamatkan diri lebih dahulu.

“Saya melompat duluan dari atas kapal, tingginya sekitar 10 meter karena hawa sudah sangat panas. Saya sempat mengajak Mas Sari ikut, tapi dia menyuruh saya lompat duluan. Setelah saya di laut, saya sudah tidak tahu lagi keberadaannya,” tutur Bambang.

Menurut Bambang, asap mulai terlihat sekitar pukul 06.00 WIB. Seluruh penumpang dan awak kapal sudah mengenakan jaket pelampung. Namun, sekoci tidak dapat digunakan karena api muncul dari area parkir truk di dek belakang, tepat di jalur menuju peralatan penyelamat.

“Sekoci ada di ekor kapal. Tapi api sudah membesar dari dek belakang sehingga tidak ada yang berani ke sana. Jalan satusatunya lari ke haluan lalu melompat,” ujarnya.

Keputusan itu membuat Bambang terjun dari ketinggian lebih dari 10 meter. Setelah berada di laut, ia terombang-ambing hampir empat jam. Dalam kondisi kelelahan, ia bersama beberapa korban lain saling bergandengan tangan agar tidak terseret ombak dan berusaha menjauh dari lambung kapal yang masih terbakar.

“Muka saya panas sekali. Saya bilang, ‘Ayo Mbak, kita usahakan jauh dari bawah kapal.’ Ada enam orang yang saling bergandengan. Alhamdulillah semuanya selamat,” kenangnya.

Namun, Bambang harus menerima kenyataan pahit. 

Rekannya yang telah bekerja bersamanya sekitar 10 tahun tidak pernah berhasil menyusul melompat.

“Sudah saya ajak melompat bareng, tapi beliau hanya mengangguk dan tetap bertahan di atas. Mungkin grogi atau takut ketinggian. Itu terakhir kali saya melihat beliau sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia oleh Tim SAR,” katanya.

Terapung 6 Jam 

Kesaksian serupa disampaikan awak kapal Muhammad Isti Isnu Pratama (18). Ia mengaku sedang tidur ketika kebakaran terjadi. Sekitar pukul 06.00 WIB, ia mendapat informasi api berasal dari dek kendaraan.

“Infonya dari muatan kendaraan yang membawa tinner. Kena panas lalu meledak,” ujarnya.

Menurut Isti, ledakan sempat mereda, tetapi api kembali membesar sehingga seluruh penumpang diarahkan menuju haluan kapal sambil mengenakan pelampung. Kapal-kapal di sekitar lokasi mulai berdatangan sekitar pukul 10.00 WIB. Penumpang kemudian diperintahkan melompat ke laut dan bertahan hingga dievakuasi.

“Saya terombang-ambing sampai sekitar jam empat sore sebelum akhirnya diselamatkan,” katanya. 

Meski baru sekitar 10 hari bekerja sebagai awak kapal, ia mengaku tidak trauma dan tetap ingin berkarier di dunia pelayaran. 

Sementara itu, operasi pencarian korban masih berlangsung. 

Berdasarkan data Basarnas Surabaya hingga Senin dini hari, sebanyak 234 orang telah dievakuasi, terdiri atas 229 korban selamat dan lima korban meninggal dunia. Tim SAR gabungan masih memperluas pencarian karena terdapat perbedaan data jumlah orang di atas kapal.

Data sementara menyebut KMP Mutiara Sentosa II mengangkut 271 orang, terdiri atas 232 penumpang, 26 anak buah kapal (ABK), dan 13 ABK tambahan. Namun, angka tersebut masih diverifikasi karena terdapat informasi lain yang menyebut jumlah orang di atas kapal mencapai 283.

Penyebab Kebakaran

Di sisi lain, Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Jawa Timur mulai menyelidiki penyebab kebakaran. 

Polisi belum menyimpulkan sumber api meski beredar dugaan kebakaran dipicu korsleting pada salah satu truk bermuatan plastik.

Direktur Polairud Polda Jatim Kombes Pol Arman Asmara mengatakan dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium forensik. Penyelidikan juga belum dapat dilakukan secara maksimal karena kapal masih sangat panas, rusak berat, dan miring ke sisi kanan sehingga membahayakan petugas. 

“Masih ada sisa panas. Belum berani orang mendekat untuk memastikan karena kapalnya miring ke kanan,” ujarnya.

Selain mengusut penyebab kebakaran, polisi juga memverifikasi manifes penumpang untuk memastikan jumlah korban dan mengetahui ada tidaknya penumpang yang belum tercatat.

KMP Mutiara Sentosa II milik PT Atosim Lampung Pelayaran terbakar saat berlayar dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Makassar, Minggu pagi. Informasi pertama diterima Kantor SAR Surabaya sekitar pukul 08.24 WIB setelah mendapat laporan dari Syahbandar Tanjung Perak. 

Nahkoda sebelumnya melaporkan kebakaran terjadi sekitar pukul 06.00–07.00 WIB di perairan utara Kabupaten Sumenep sebelum komunikasi dengan kapal terputus. Hingga Senin, pencarian korban, proses identifikasi jenazah, dan penyelidikan penyebab kebakaran masih terus berlangsung. (Kompas.com/Surya.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.