Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Biaya perjalanan dan kebutuhan selama menjalani pengobatan menjadi tantangan lain yang harus dihadapi keluarga Thalita Febia Kirana (9), anak asal Kampung Bandar Sakti, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah.
Baca juga: 2 Tewas, Toyota Calya Ringsek Usai Tabrakan dengan Bus Pariwisata di Jembrana
Meski terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan mandiri, keluarga Thalita mengaku tetap harus mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan operasional selama mendampingi putrinya menjalani rangkaian pemeriksaan hingga pengobatan di sejumlah rumah sakit.
Arna Septiani (34), ibu Thalita, mengatakan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat setiap perjalanan berobat menjadi perjuangan tersendiri. Selama ini, kebutuhan keluarga hanya bergantung pada penghasilan suaminya yang bekerja sebagai sopir harian lepas.
Pendapatan tersebut tidak selalu diterima setiap hari karena bergantung pada ada atau tidaknya muatan. Dalam sekali perjalanan, sang suami memperoleh penghasilan kotor sekitar Rp100.000.
"Penghasilan suami narik mobil tidak tentu. Kalau sedang sepi muatan, sebulan paling hanya dapat Rp300.000 sampai Rp400.000. Untuk makan sehari-hari saja pas-pasan, apalagi buat ongkos bolak-balik berobat Thalita," ujar Arna, Senin (3/8/2026).
Arna menyebut biaya yang harus dipikirkan bukan hanya pengobatan, tetapi juga kebutuhan perjalanan, makan, serta tempat tinggal sementara ketika harus membawa Thalita ke luar daerah untuk mendapatkan layanan medis.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika Thalita harus menjalani pemeriksaan dan tindakan medis di luar Lampung. Arna mengaku beberapa kali terpaksa mencari pinjaman agar putrinya tetap bisa mendapatkan penanganan kesehatan.
"Kami bayar BPJS mandiri, belum pernah mendapat bantuan BPJS PBI maupun bantuan program pemerintah. Kalau untuk biaya jalan berobat, terpaksa saya berutang ke mana-mana. Yang penting Thalita tetap bisa berobat dan punya harapan untuk sembuh," katanya.
Perjuangan keluarga ini bermula ketika Thalita didiagnosis mengalami tumor tulang jenis osteokondroma di salah satu rumah sakit di Lampung.
Karena saat itu belum tersedia dokter spesialis terkait yang dibutuhkan, Thalita kemudian dirujuk untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di Palembang. Dengan mengandalkan sisa tabungan dan uang pinjaman, Arna membawa putrinya menggunakan kereta api serta tinggal sementara di rumah singgah.
Namun, menurut Arna, perjalanan tersebut belum memberikan hasil seperti yang mereka harapkan. Setelah menunggu antrean selama sehari, dokter yang dituju disebut tidak dapat ditemui karena ada keperluan mendesak.
Arna mengatakan, saat itu pihak keluarga menerima pemeriksaan awal berupa dokumentasi kondisi benjolan melalui foto menggunakan ponsel dan mendapat penjelasan mengenai kemungkinan kondisi tersebut dapat membaik.
"Sudah jauh-jauh naik kereta, antre seharian, tetapi kami belum mendapatkan pemeriksaan lanjutan seperti yang kami harapkan. Ongkos perjalanan sudah keluar, sehingga kami pulang kembali ke Lampung," ungkap Arna.
Setelah kembali ke rumah, kondisi kesehatan Thalita menurun. Ia mengalami demam tinggi hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit setempat.
Melihat kondisi anaknya belum membaik, dokter yang sebelumnya menangani rujukan, Dr. Aditya, bersama bidan setempat menyarankan agar Thalita dibawa ke RS Ortopedi Prof. Dr. Soeharso di Solo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kembali dengan biaya dari hasil pinjaman, Arna membawa Thalita menuju Solo menggunakan bus. Sementara sang suami tetap berada di Lampung untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
"Saya berangkat berdua dengan Thalita ke Solo. Suami tetap di rumah karena harus bekerja mencari uang untuk biaya kami selama menjalani pengobatan di sana," tutur Arna.
Di Solo, Thalita menjalani pemeriksaan intensif dan kemudian mendapatkan tindakan operasi. Berdasarkan keterangan keluarga, dokter mendiagnosis Thalita mengalami osteokondroma, yaitu tumor tulang jinak yang dapat memengaruhi jaringan di sekitarnya.
Setelah menjalani operasi, Thalita harus menjalani perawatan sekitar satu bulan sebelum diperbolehkan kembali pulang. Meski tindakan tersebut berjalan lancar, keluarga tetap diminta melakukan pemantauan karena tumor memiliki kemungkinan tumbuh kembali seiring perkembangan tulang saat masa pertumbuhan.
Sekitar dua tahun setelah operasi, muncul persoalan kesehatan baru. Saat itu Thalita yang duduk di kelas 2 SD mulai mengalami demam tinggi berulang hingga beberapa kali dalam sebulan, pusing mendadak ketika berada di sekolah, serta keluhan nyeri saat buang air kecil.
Arna kemudian membawa putrinya menjalani pemeriksaan bersama dokter spesialis anak, Dr. Ernes Putti Bungsu. Hasil pemeriksaan darah dan urine menunjukkan adanya peningkatan kadar leukosit (sel darah putih), sehingga Thalita dirujuk ke dokter spesialis ginjal anak, Dr. Elvi, di Bandar Lampung.
Dari hasil pemeriksaan kultur urine dan USG ginjal, keluarga mendapat informasi bahwa Thalita mengalami beberapa kondisi medis, di antaranya:
Retensi urine, yaitu kondisi ketika kandung kemih belum mampu mengosongkan urine secara optimal sehingga masih terdapat sisa urine sekitar 50 mililiter. Infeksi bakteri, dengan ditemukannya bakteri Escherichia coli (E. coli) pada saluran kemih.
Gangguan pada ginjal, akibat infeksi yang diduga mengalami refluks atau aliran balik menuju ginjal sehingga salah satu ginjal mengalami pengecilan (atrofi).
"Thalita sering demam dan mengeluh sakit saat buang air kecil. Saat diperiksa dokter ginjal, kami baru tahu kondisinya sudah sampai memengaruhi ginjal. Sebagai ibu, saya sedih mendengar kabar itu," kata Arna.
Saat ini, Thalita masih harus menjalani kontrol dan pengobatan rutin di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RS Urip Sumoharjo dan RSUD Abdul Moeloek.
Untuk membantu kebutuhan operasional pengobatan, Arna mengatakan Ibu Kasun (Kepala Dusun) bersama warga sekitar berinisiatif mengumpulkan donasi secara swadaya sebesar Rp1.400.000.
Bantuan tersebut menjadi dukungan bagi keluarga yang masih harus memikirkan biaya perjalanan dan kebutuhan selama menjalani pengobatan jangka panjang.
"Saya sangat berterima kasih kepada Ibu Kasun dan tetangga yang sudah membantu kami. Uang itu sangat berarti untuk kebutuhan berobat Thalita. Namun, kami tetap berharap ada perhatian dan dukungan lebih lanjut agar pengobatan anak saya bisa terus berjalan," pungkas Arna.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)