Alarm Berbunyi di Rusia, Bank-bank Mulai Krisis Uang Tunai!
GH News August 04, 2026 04:09 PM
Jakarta -

Bank-bank di Rusia mulai menghadapi tekanan likuiditas dalam mata uang rubel. Kondisi ini membuat kemampuan perbankan membeli obligasi pemerintah untuk membiayai defisit anggaran kian terbatas, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap upaya Moskow menutup lonjakan belanja perang melalui pinjaman domestik.

Dikutip dari , Selasa (4/8/2026), peringatan itu muncul ketika Kementerian Keuangan Rusia menghadapi defisit anggaran yang terus membesar dan berpotensi membutuhkan tambahan pinjaman hingga triliunan rubel pada tahun ini.

Vice President sekaligus Chief Financial Officer Sberbank, Taras Skvortsov, mengatakan sejak awal tahun telah terjadi penarikan dana tunai dari sistem perbankan sekitar 2 triliun rubel atau sekitar US$ 25,2 miliar. Kondisi tersebut membuat likuiditas perbankan semakin ketat.

"Saat ini, bank hanya memiliki dana yang cukup untuk dipinjamkan kepada nasabah. Itulah bisnis inti mereka," kata Skvortsov seperti dikutip .

"Anda dapat membeli obligasi OFZ, terutama tanpa premi yang signifikan, ketika Anda memiliki likuiditas berlebih dan yakin bahwa likuiditas tersebut akan tetap tersedia. Saat ini, situasinya justru sebaliknya," tambahnya.

OFZ merupakan obligasi pemerintah dalam mata uang rubel yang diterbitkan Kementerian Keuangan Rusia untuk membiayai pengeluaran negara.

Berdasarkan laporan , anggaran federal Rusia mencatat defisit sebesar 5,7 triliun rubel atau sekitar US$ 71,82 miliar pada semester I-2026, seiring pengeluaran pertahanan yang lebih tinggi dari rencana semula.

Pengeluaran Rusia untuk perang diperkirakan dapat melampaui anggaran tahun ini sebesar 4 triliun hingga 5 triliun rubel (US$ 50,4 miliar hingga US$ 63 miliar). Kondisi itu membuat Kementerian Keuangan perlu menghimpun tambahan pinjaman sebesar 2 triliun hingga 3 triliun rubel (US$ 25,2 miliar hingga US$ 37,8 miliar).

Padahal, dalam rencana anggaran 2026, pemerintah semula hanya menargetkan pinjaman domestik sebesar 4,4 triliun rubel atau sekitar US$ 55,44 miliar.

Namun, Kementerian Keuangan menangguhkan lelang obligasi pemerintah pada Juli setelah harga OFZ turun dan imbal hasilnya naik. Akibatnya, bank-bank yang memegang surat utang tersebut mencatat kerugian nilai pasar sekitar 200 miliar rubel atau sekitar US$ 2,52 miliar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.