Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air di sejumlah wilayah sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang beriringan dengan El Nino.

Setelah menghadiri Dialog Nasional Dampak El Nino di kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jakarta, Selasa, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan berkurangnya curah hujan akibat El Nino dapat berdampak pada menurunnya pasokan air yang masuk ke waduk-waduk di Indonesia.

Padahal, waduk tersebut memiliki peran penting untuk kebutuhan air baku, pertanian, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

"Oleh karena itu BMKG bekerja sama dengan para pemangku kepentingan, pengelola waduk, Kementerian Pekerjaan Umum, dan sebagainya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk," kata Tri.

Ia menjelaskan operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di sejumlah wilayah untuk mendukung ketersediaan air, termasuk wilayah tangkapan air yang menopang sektor energi seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Poso di Sulawesi Tengah.

"Saat ini kami sedang melaksanakan operasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, supaya pasokan energi, air, dan pertanian bisa terjaga dengan baik," ujarnya.

Tri mengatakan operasi modifikasi cuaca juga menjadi salah satu langkah mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi kemarau yang lebih kering.

Menurut dia, berkurangnya curah hujan menyebabkan pasokan air ke kubah-kubah gambut menurun, sementara proses penguapan tetap berlangsung sehingga lahan gambut menjadi lebih kering dan lebih mudah terbakar.

"Untuk mitigasi itu juga dilakukan operasi modifikasi cuaca dengan metode pembasahan lahan-lahan gambut supaya gambut tetap basah, sehingga sulit dibakar, apalagi terbakar," katanya.

Langkah antisipasi tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7), untuk membahas dampak kemarau yang beriringan dengan El Nino.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden menginstruksikan jajaran pemerintah melakukan sejumlah langkah antisipasi, termasuk menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan serta lahan.

Usai rapat, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan BMKG akan memperkuat dukungan menghadapi musim kemarau dan El Nino melalui operasi modifikasi cuaca.

Dikutip dari keterangan BPMI Setpres, Faisal menjelaskan terdapat enam provinsi yang menjadi fokus utama pelaksanaan operasi modifikasi cuaca untuk pencegahan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BMKG menyatakan El Nino yang mulai aktif pada Juni 2026 telah memasuki fase kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. El Nino diperkirakan berlangsung selama sekitar 9–12 bulan atau hingga sekitar Mei 2027. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode El Nino berlangsung.

Curah hujan pada Agustus hingga September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah sehingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.

Sementara itu, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober 2026 sehingga pengaruh El Nino terhadap pola hujan di Indonesia diperkirakan semakin berkurang.