Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso meyakini neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus secara bulanan seiring mulai stabilnya harga minyak dunia.
"Kami optimistis kalau harga minyak ini mulai stabil, nanti Juni-Juli, karena kan angkanya nanti baru Juli, mudah-mudahan surplus ya untuk bulanannya. Tapi kalau year on year-nya atau kumulatif, Januari-Juli ya optimistis makin surplus," ucapnya di Jakarta, Selasa.
Budi mengatakan, kinerja ekspor Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pada periode Januari-Juni 2026, ekspor Indonesia tercatat meningkat 3,9 persen, dengan neraca perdagangan secara kumulatif masih membukukan surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS.
"Ekspor kita ini kan tetap bertumbuh, Januari-Juni kan kita ekspor naik 3,9 persen," ujar Budi.
Ia menjelaskan, neraca perdagangan Indonesia sempat mengalami defisit pada Mei dan Juni 2026. Namun, nilai defisit tersebut mulai mengalami penurunan, dari sebelumnya 1,6 miliar dolar AS pada Mei menjadi 0,45 miliar dolar AS pada Juni.
"Memang bulan ini, bulan Juni itu kan kita defisit 0,45 miliar dolar, kemudian bulan Mei kemarin kan 1,6 miliar dolar AS. Artinya defisitnya udah mulai turun, ekspor kita surplusnya juga meningkat," katanya.
Budi menilai, apabila tidak memperhitungkan dampak kenaikan harga minyak dunia, neraca perdagangan Indonesia sebenarnya masih berada dalam kondisi surplus. Lonjakan harga minyak pada Maret-April yang sempat menembus 100 hingga 110 dolar AS per barel menjadi faktor yang menekan kinerja perdagangan.
"Padahal sebelumnya kan di bawah 100 (dolar AS). Jadi sebenarnya kalau kita hitungan angka harga minyak, Mei-Juni itu kita surplus sebenarnya," katanya.
Selain itu disampaikan dia, pihaknya juga terus mendorong peningkatan ekspor ke Thailand. Budi menyebut penguatan perdagangan kedua negara akan dilakukan melalui peningkatan volume ekspor serta diversifikasi produk.
Menurutnya, hubungan perdagangan Indonesia-Thailand memiliki peluang besar karena kedua negara memiliki produk yang saling melengkapi.
"Jadi diversifikasi dan volume yang sudah ada akan kita tingkatkan," kata Budi.
Ia menambahkan, karakter perdagangan yang saling membutuhkan dapat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara karena berpotensi mengurangi hambatan perdagangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus senilai 3,58 miliar dolar AS pada periode Januari-Juni 2026.
“Sepanjang Januari-Juni 2026, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin (3/8).
Lebih lanjut, Ateng merinci bahwa surplus sepanjang semester pertama tahun 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar 19,35 miliar dolar AS. Sementara untuk komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 15,77 miliar dolar AS.





