Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Tradisi Bukhere (sarang ikan) dari wilayah Sentani menjadi inspirasi bagi dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua untuk menggelar pementasan teater musikal boneka berbasis ecoliteracy.
Bhukere merupakan tradisi pembuatan sarang ikan sekaligus alat tangkap ikan tradisional dari masyarakat [Suku Sentani] di Kampung Ayapo di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Baca juga: Peringati Hari Lingkungan Hidup, Astra Motor Papua Bersih-bersih Kali Acai Kota Jayapura
Alat ini juga berfungsi untuk melestarikan lingkungan, menjaga ketersediaan sumber daya perairan, dan meningkatkan populasi ikan lokal.
Sedangkan Kampung Ayapo ini terletak di pinggiran Danau Sentani, tepatnya di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua
Kegiatan tersebut mengangkat karakter biota akuatik khas Danau Sentani, kegiatan ini bertujuan mengedukasi anak usia dini mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan budaya lokal.
Kegiatan yang berlangsung di Saanjh Cafe, Waena, Kota Jayapura, pada Selasa (4/8/2026) ini melibatkan puluhan siswa dari PAUD Melody Kids dan Raudhatul Athfal Yaa Bunayya.
Wakil Rektor I ISBI Tanah Papua, Dr Yulini Rinanti, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan karya inovatif dosen ISBI, Putri Prabu Utami, bersama timnya.
Baca juga: Menteri Lingkungan Hidup: Pulau di Raja Ampat Keruh akibat Aktivitas Tambang Nikel
Proyek tersebut berhasil memenangkan hibah Program Dana Indonesia Raya (sebelumnya Dana Indonesiana) dari Kementerian Kebudayaan.
Dalam pelaksanaannya, ISBI berkolaborasi dengan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) dan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cendrawasih (Uncen)..
"Kegiatan ini sangat luar biasa bagi kami karena menjadi wujud pelaksanaan tugas utama perguruan tinggi, yaitu Tridharma Perguruan Tinggi," ujar Dr. Yulini.
Baca juga: PTFI Gandeng Dinas Lingkungan Hidup Mimika Bersih Kali Sempan Timika
Rangkaian acara ini tidak hanya menyajikan pementasan seni, tetapi juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang membahas isu-isu pelestarian budaya dan lingkungan hidup.
Isu Sampah dan Biota Danau Sentani
Ketua Tim Proyek, Putri Prabu Utami, mengungkapkan bahwa pementasan ini membutuhkan proses panjang selama kurang lebih satu tahun, mulai dari pengajuan proposal hingga produksi pementasan.
Pertunjukan teater musikal boneka ini memadukan unsur musik, tari, dan drama. Menurut Putri, tradisi Bukhere kini sudah mulai pudar.
Baca juga: Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nabire: Sampah di Depan Pasar Kalibobo Akan Segera Dievakuasi
Sementara populasi ikan asli Danau Sentani kian menurun akibat penangkapan berlebih serta ancaman ikan predator.
Sebab itu, timnya memperkenalkan kembali jenis-jenis ikan asli Danau Sentani yang terancam punah atau mulai langka, seperti Ikan Hiu Gergaji, Ikan Merah, Pelangi Merah, Pelangi, dan Gabus Sentani
"Jadi kami membuat properti dan 15 karakter boneka memanfaatkan limbah sampah terdaur ulang. 12 lagu anak-anak bertema lingkungan dan kebudayaan Papua untuk mengiringi pertunjukan," ujarnya.
Baca juga: Jumat Bersih, Strategi Dinas Lingkungan Hidup Perangi Sampah di Kabupaten Nabire
Putri menambahkan, pendekatan media boneka dan musik dipilih karena sejalan dengan arahan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO mengenai pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini dengan metode yang interaktif.
Sementara itu, Wakil Direktur Dr. Lilian menyampaikan bahwa dampak program ini tidak hanya menyasar siswa PAUD, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa pendidikan di Uncen.
"Melalui teater ini, para calon pengajar belajar berinovasi. Ketika kelak menjadi guru, mereka dituntut melahirkan karya kreatif untuk membuka wawasan murid agar lebih mengenal dan mencintai budayanya," pungkasnya. (*)