SURYA.co.id, SURABAYA – Tragedi kebakaran KM Mutiara Santosa 2 di perairan utara Sumenep, Jawa Timur, tidak hanya menyisakan proses evakuasi yang menegangkan, tetapi juga memunculkan persoalan lain yang dirasakan langsung keluarga penumpang.
Di Posko Informasi Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Minggu (2/8/2026) malam, sejumlah keluarga mengaku kesulitan memperoleh kepastian mengenai keberadaan kerabat mereka karena data manifest kapal belum dapat dipastikan.
Situasi tersebut membuat kecemasan keluarga semakin memuncak, terlebih sebagian dari mereka telah menyerahkan berbagai dokumen identitas, mulai dari KTP hingga data kendaraan, namun belum memperoleh jawaban yang pasti.
Suasana haru dan cemas tampak menyelimuti area posko.
Puluhan keluarga terus berdatangan dengan harapan mendapatkan informasi terbaru mengenai anggota keluarga yang diduga berada di atas kapal saat insiden terjadi.
Salah seorang keluarga penumpang, Devi, warga Gresik, tampak mondar-mandir di posko informasi.
Ia mencari kepastian mengenai suaminya, Denny Tristiawan, sopir ekspedisi yang mengangkut material besi dan koil menuju Makassar.
Devi mengaku langsung menuju kantor ekspedisi setelah mengetahui kabar kebakaran kapal.
Dari sana, ia memperoleh informasi bahwa suaminya memang dijadwalkan berangkat menggunakan KM Mutiara Santosa 2.
"Saya cari, saya tanya-tanya ternyata kapal yang ditumpangi suami itu. Terus saya langsung datang ke garasi tempat kerjanya. Dari info teman-temannya, akhirnya saya ke sini bersama istri dan anaknya," ujarnya, dikutip dari Saksi Kata yang tayang di Youtube SURYA.co.id.
Namun, setibanya di Posko Informasi Pelabuhan Tanjung Perak, kepastian yang diharapkan belum juga didapat.
Menurut keluarga, petugas belum dapat memastikan keberadaan Denny melalui data manifest yang tersedia saat itu.
Baca juga: Menhub Ungkap Kendala Pendataan Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II, 2 Hal Ini Jadi Tantangan
Kondisi serupa dialami keluarga Rismanto atau yang akrab dipanggil Rinto.
Pria yang bekerja sebagai sopir truk ekspedisi itu terakhir memberi kabar kepada keluarganya saat hendak berangkat menuju Makassar.
Salah seorang anggota keluarganya mengaku telah menyerahkan berbagai dokumen pendukung kepada petugas.
"Saya sodorkan data lewat KTP tidak ada. Saya sodorkan data lewat nomor polisi juga tidak ada. Padahal data manifest penumpang katanya ada, tetapi daftar kendaraannya masih dicari," ungkapnya.
Ia mengatakan komunikasi terakhir dengan Rismanto terjadi pada malam sebelum kapal berlayar.
"Statusnya pukul 19.30 sudah persiapan berlayar. Setelah itu kami sudah tidak bisa menghubungi lagi. Sejak kabar kapal terbakar muncul, teleponnya sudah tidak aktif," katanya.
Keluarga bahkan telah menyerahkan foto korban, foto truk, STNK, hingga KTP agar proses pencarian lebih mudah dilakukan.
"Semua saya setor, termasuk STNK, foto truk, foto orangnya, foto KTP-nya. Tapi dari pagi sampai menjelang malam data manifest ini belum juga memberikan kepastian," ujarnya.
Bagi keluarga, proses evakuasi memang menjadi kewenangan tim penyelamat. Namun, mereka menilai kepastian data penumpang seharusnya dapat diperoleh lebih cepat.
"Kalau soal evakuasi itu urusannya Basarnas. Tapi Pelindo, operator kapal, dan agen pelayaran ini kerjanya apa? Dari pagi sampai malam kami belum mendapatkan kepastian data. Yang kami butuhkan pertama adalah memastikan apakah keluarga kami benar berada di kapal itu atau tidak," katanya.
Ia menambahkan, tanpa data yang jelas, keluarga tidak dapat mengetahui apakah kerabat mereka telah dievakuasi, masih berada di kapal, atau bahkan belum terdata.
"Kita tidak bisa berandai-andai. Yang pertama kami butuhkan adalah kepastian data dulu. Setelah itu baru bisa mengetahui bagaimana proses evakuasinya," ujarnya.
Selain menunggu perkembangan proses evakuasi, keluarga berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendataan penumpang dan kendaraan di kapal.
"Harapan saya, peristiwa ini menjadi evaluasi total terhadap sistem pelayaran kita. Jangan sampai keluarga korban menunggu dalam ketidakpastian seperti sekarang. Data manifest harusnya bisa diakses dengan cepat ketika terjadi keadaan darurat," tegasnya.
Menurutnya, keberadaan data manifest bukan sekadar administrasi keberangkatan, melainkan menjadi dasar utama bagi keluarga untuk memperoleh kepastian ketika musibah terjadi.
Di tengah penantian panjang itu, kabar baik akhirnya datang pada Senin (3/8/2026).
Tangis Devi pecah di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara setelah suaminya, Denny Tristiawan, dipastikan selamat dan berhasil tiba di Surabaya.
Meski demikian, pengalaman menunggu selama berjam-jam tanpa kepastian meninggalkan catatan penting bagi keluarga korban.
Mereka berharap tragedi KM Mutiara Santosa 2 menjadi momentum pembenahan sistem pendataan penumpang dan kendaraan agar proses identifikasi pada situasi darurat dapat berlangsung lebih cepat, akurat, dan tidak menambah beban psikologis keluarga yang sedang menunggu kabar orang-orang tercinta.