Girl Math, Tren Logika Belanja yang Lucu tapi Berisiko Bikin Boros
Asnida Riani August 05, 2026 09:00 AM

Liputan6.com, Jakarta - Girl math jadi salah satu tren yang muncul dari waktu ke waktu di media sosial. Istilah ini merujuk pada cara berpikir yang digunakan sebagian perempuan untuk membenarkan keputusan berbelanja, terutama saat membeli barang yang sebenarnya tidak masuk dalam kebutuhan utama.

Meski terdengar seperti perhitungan keuangan, melansir Mashable, Senin (13/7/2026), konsep tersebut lebih banyak dikemas sebagai humor yang menggambarkan kebiasaan sehari-hari dibandingkan panduan mengelola uang.

Tren ini berkembang setelah banyak kreator membagikan logika unik di balik keputusan membeli suatu barang. Konten-konten tersebut mengundang respons karena banyak pengguna media sosial merasa memiliki pengalaman serupa ketika mencoba merasionalisasi pengeluaran.

"Girl math di sini tidak masalah. Yang penting adalah, jika ini pembelian sekali saja, saya akan khawatir. Tapi sekarang semua orang berpikir seperti ekonom… 'Di mana skala ekonominya? Bagaimana saya bisa mendapatkan nilai terbaik untuk uang saya?' dan saya menyukai cara berpikir itu," kata ekonom Brad Olsen saat mengulas fenomena tersebut dalam program radio Fletch, Vaughan & Hayley.

Di balik candaan yang beredar, girl math sebenarnya mengadopsi beberapa konsep ekonomi sederhana. Salah satunya adalah cost per wear, yakni menghitung biaya sebuah barang berdasarkan seberapa sering barang tersebut digunakan.

Semakin sering dipakai, biaya penggunaan setiap kali mengenakan barang itu menjadi semakin rendah sehingga pembelian dianggap lebih masuk akal. Konsep berikutnya adalah biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak bisa diperoleh kembali.

Dalam logika girl math, uang yang dikembalikan setelah mengembalikan barang ke toko kerap dianggap sebagai dana "gratis" untuk membeli produk lain. Cara berpikir tersebut bukan merupakan prinsip keuangan yang sesungguhnya, melainkan bentuk humor yang banyak digunakan dalam konten media sosial.

 

Popularitas Girl Math

Girl Math sebagai jawaban stigma pada perempuan yang boros./copyright unsplash/Anh Vy
Girl Math sebagai jawaban stigma pada perempuan yang boros./copyright unsplash/Anh Vy

Prinsip lain yang sering muncul adalah prospective cost, yaitu mempertimbangkan biaya yang dapat dihindari pada masa mendatang. Misalnya, membeli baramg saat diskon besar lebih menguntungkan meski pemakaiannya masih akan dilakukan nanti.

Popularitas girl math juga dipengaruhi cara penyampaiannya yang ringan dan mudah dipahami. Banyak kreator menggunakannya untuk membahas pengalaman berbelanja, perawatan diri, dan pembelian barang fesyen tanpa bermaksud memberikan nasihat finansial.

Tren ini bahkan melahirkan berbagai video yang memperlihatkan laki-laki kebingungan memahami logika tersebut, sementara para perempuan justru menganggapnya sebagai lelucon yang hanya dipahami sesama mereka.

"Ini adalah gaya hidup sekaligus delusi," ujar Shannon Trim dalam salah satu video TikTok saat menjelaskan fenomena girl math. Produser program Fletch, Vaughan & Hayley itu juga terlibat dalam segmen khusus yang membantu pendengar menggunakan logika girl math untuk membenarkan pembelian barang dengan harga tinggi.

 

Menuai Kritik

Ilustrasi girl math. (Foto by AI)
Ilustrasi girl math. (Foto by AI)

Meski dikemas sebagai hiburan, tren ini tetap menuai kritik. Sebagian pihak menilai girl math berpotensi membuat kebiasaan belanja berlebihan terlihat wajar bila dipahami tanpa konteks.

Kekhawatiran tersebut semakin relevan di tengah maraknya layanan buy now, pay later yang mempermudah masyarakat melakukan transaksi tanpa membayar penuh di awal. Sejumlah pengamat juga menilai tren tersebut dapat mengaburkan persoalan yang lebih besar.

Di antaranya, yakni tekanan sosial terhadap perempuan untuk terus membeli pakaian, kosmetik, atau produk penunjang penampilan. Pembahasan mengenai pink tax, yaitu kondisi ketika produk yang ditujukan bagi perempuan dijual dengan harga lebih mahal dibandingkan produk serupa untuk laki-laki, juga kerap muncul dalam diskusi mengenai girl math.

 

Pahami Konteksnya

Ilustrasi girl math. Credit: pexels.com/Artem
Ilustrasi girl math. Credit: pexels.com/Artem

Di sisi lain, banyak pengguna TikTok memandang girl math sekadar bentuk satire terhadap stereotipe lama yang menganggap perempuan tidak mampu mengelola keuangan.

Melalui humor, mereka justru menunjukkan kesadaran bahwa logika tersebut tidak sepenuhnya rasional dan hanya menjadi cara menyenangkan untuk membicarakan kebiasaan belanja bersama komunitasnya.

Karena itu, memahami girl math perlu disertai konteks yang tepat. Tren ini memang menghibur dan mudah dipahami karena dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Namun keputusan finansial tetap sebaiknya didasarkan pada kondisi keuangan pribadi, kebutuhan, serta kemampuan mengelola anggaran, bukan semata-mata pada logika yang viral di media sosial.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.