TRIBUNJOGJA.COM - Tribunners, pernahkah seharian rebahan sambil scroll media sosial atau nonton film tapi begitu malam tiba rasanya malah makin capek?
Badan memang tidak banyak bergerak, tetapi pikiran terasa penuh dan mata semakin lelah.
Banyak orang mengira istirahat berarti cukup berbaring di kasur tanpa melakukan aktivitas berat.
Padahal, tubuh dan otak punya cara yang berbeda untuk memulihkan energi. Jadi, meski badan sedang diam, bukan berarti pikiran ikut beristirahat.
Di era serba digital seperti sekarang, kita memang hampir tidak pernah benar-benar "berhenti".
Saat menunggu makanan datang, membuka media sosial. Saat perjalanan pulang, menonton video. Sebelum tidur pun masih sempat membalas chat atau scrolling tanpa sadar hingga larut malam.
Akibatnya, otak terus menerima rangsangan tanpa jeda.
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan layar, terutama menjelang waktu tidur, dapat mengganggu kualitas istirahat karena membuat otak tetap aktif dan sulit memasuki fase tidur yang benar-benar pulih.
Rebahan Belum Tentu Bikin Otak Ikut Istirahat
Rebahan memang bisa membuat tubuh terasa lebih rileks setelah beraktivitas seharian.
Namun, kalau selama rebahan kamu masih berpindah dari TikTok ke Instagram, lalu lanjut membuka chat dan menonton video, sebenarnya otak masih bekerja.
Setiap informasi yang masuk tetap diproses.
Notifikasi, video berdurasi singkat, hingga berbagai konten yang terus berganti membuat otak terus menerima stimulasi baru.
Tidak heran kalau setelah satu jam scrolling, yang muncul justru rasa lelah, sulit fokus, bahkan kepala terasa penuh.
Karena itu, istirahat bukan hanya soal berhenti bergerak, tetapi juga memberi kesempatan bagi pikiran untuk mengurangi beban yang selama ini diterimanya.
Screen Fatigue Itu Nyata
Pernah merasa mata perih, kepala terasa berat, atau sulit berkonsentrasi setelah terlalu lama menatap layar laptop dan handphone?
Kondisi ini sering disebut sebagai screen fatigue atau kelelahan akibat penggunaan layar.
Bukan hanya mata yang bekerja keras, perhatian dan kemampuan otak untuk memproses informasi juga ikut terkuras.
Apalagi jika setiap hari harus bergantian membuka laptop, tablet, dan handphone tanpa jeda yang cukup.
National Sleep Foundation juga menemukan bahwa paparan layar, terutama sebelum tidur, berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih buruk.
Cahaya dari layar serta konten yang terus menarik perhatian membuat tubuh lebih sulit merasa mengantuk secara alami.
Itulah mengapa kadang kita merasa sudah "istirahat" berjam-jam, tetapi tetap bangun dalam keadaan lesu.
Baca juga: Dampak Kekeringan, Pemkab Gunungkidul Sudah Salurkan Hampir 3,5 Juta Liter Air Bersih ke Masyarakat
Passive Rest dan Active Rest, Apa Bedanya?
Tidak semua bentuk istirahat memberikan manfaat yang sama. Secara sederhana, istirahat bisa dibagi menjadi dua.
Passive rest adalah waktu ketika tubuh benar-benar berhenti beraktivitas, misalnya tidur, tidur siang singkat, atau sekadar berbaring tanpa banyak melakukan apa pun.
Sementara itu, active rest adalah aktivitas ringan yang justru membantu tubuh dan pikiran pulih, seperti berjalan santai, melakukan peregangan, membaca buku, berkebun, atau mendengarkan musik dengan tenang.
Banyak orang menganggap active rest terdengar melelahkan.
Padahal, setelah seharian duduk di depan layar, berjalan kaki selama 15–20 menit justru bisa terasa lebih menyegarkan dibanding terus rebahan sambil menggenggam handphone.
Kuncinya adalah memilih jenis istirahat yang berbeda dari aktivitas yang membuatmu lelah.
Kalau sepanjang hari otak dipakai untuk berpikir, cobalah memberi tubuh kesempatan bergerak ringan.
Sebaliknya, jika pekerjaanmu menguras tenaga fisik, tidur yang cukup bisa menjadi bentuk pemulihan terbaik.
Tanda-Tanda Kamu Butuh Istirahat Berkualitas
Kadang tubuh sudah memberi sinyal, hanya saja kita sering mengabaikannya. Beberapa tanda yang cukup umum antara lain:
Kalau tanda-tanda ini sering muncul, bisa jadi yang kamu butuhkan bukan tambahan waktu rebahan, melainkan istirahat yang benar-benar berkualitas.
Durasi tidur memang penting, tetapi kualitasnya juga tidak kalah berpengaruh terhadap rasa segar, energi, dan kemampuan berkonsentrasi keesokan harinya.
Cara Mendapatkan Quality Rest
Quality rest tidak selalu harus liburan jauh atau tidur seharian. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dicoba, seperti:
Iistirahat bukan soal seberapa lama rebahan, melainkan apakah tubuh dan pikiran benar-benar mendapat kesempatan untuk pulih.
Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu merasa mudah lelah meski sudah banyak bermalas-malasan, mungkin yang perlu diubah bukan durasi rebahannya, tetapi cara beristirahatnya.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)