Menstrual cup kini semakin banyak digunakan sebagai alternatif pembalut sekali pakai saat menstruasi.
Selain lebih ramah lingkungan, alat berbahan silikon medis ini juga dinilai memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan.
Salah satunya adalah risiko infeksi yang relatif lebih rendah dibandingkan penggunaan pembalut.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada cara penggunaan dan kebersihan menstrual cup.
Dokter Spesialis Dermatovenerologi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta, dr. Putri Oktriana Rahman, Sp.DV, menjelaskan alasan di balik rendahnya risiko infeksi pada menstrual cup dibandingkan pembalut.
dr. Putri Oktriana Rahman menjelaskan bahwa darah menstruasi merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Ketika darah tertampung cukup lama di dalam pembalut, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berkembangnya mikroorganisme, terutama jika pembalut tidak segera diganti.
"Pembalut menyerap dan menampung darah. Dalam durasi tertentu, darah yang tertampung akan semakin banyak."
"Perlu diketahui, darah merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri," jelasnya dalam wawancara khusus di Studio 5 Kantor Tribunnews Solo, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, dikutip dari YouTube Tribun Health, Rabu (5/8/2026).
Selain menjadi tempat berkembangnya bakteri, penggunaan pembalut juga dapat menciptakan kondisi lembap pada area kewanitaan.
Menurut dr. Putri, kelembapan tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi jamur, terlebih jika pengguna banyak berkeringat.
Tak hanya itu, pembalut juga bersentuhan langsung dengan kulit sehingga berpotensi menimbulkan masalah lain.
Gesekan dari sayap pembalut maupun lapisan plastiknya dapat menyebabkan iritasi, terutama pada pemilik kulit sensitif.
Bahkan, sebagian orang juga dapat mengalami reaksi alergi terhadap bahan pembalut tertentu.
Berbeda dengan pembalut, menstrual cup bekerja dengan cara menampung darah di dalam vagina tanpa menyerapnya.
Alat ini juga tidak bersentuhan langsung dengan kulit di area genital luar sehingga risiko iritasi akibat gesekan menjadi lebih kecil.
Menurut dr. Putri, darah yang tertampung di dalam menstrual cup juga tidak langsung terpapar lingkungan luar.
Kondisi tersebut membuat peluang bakteri berkembang akibat kontak dengan permukaan kulit menjadi lebih rendah dibandingkan saat menggunakan pembalut.
"Kalau menstrual cup, darah yang tertampung tidak berhubungan dengan dunia luar dan tidak kontak dengan kulit."
"Sementara pada kulit memang secara alami terdapat bakteri. Karena itulah risiko infeksi menjadi relatif lebih rendah dibandingkan pembalut," ujarnya.
Meski memiliki risiko infeksi yang lebih rendah, dr. Putri mengingatkan bahwa menstrual cup tetap harus digunakan dengan benar.
Pengguna perlu memastikan tangan dalam keadaan bersih sebelum memasang atau melepas menstrual cup, serta rutin mensterilkannya sesuai petunjuk penggunaan.
Dengan menjaga kebersihan dan menggunakan menstrual cup secara tepat, manfaat alat ini dapat diperoleh secara optimal sekaligus membantu menjaga kesehatan organ kewanitaan selama masa menstruasi.