Tak Sekadar Buah, Kulit Manggis Kini Jadi Teknologi Penyaring Air Karya Mahasiswa USK
Ansari Hasyim August 05, 2026 05:22 PM

SERAMBINEWS.COM - Siapa sangka limbah kulit manggis yang selama ini kerap berakhir di tempat sampah justru bisa menjadi solusi untuk mengatasi pencemaran air. Berangkat dari potensi tersebut, tim mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) mengembangkan membran penyaring air berbasis senyawa alami xanthone dari kulit manggis yang mampu menghambat bakteri sekaligus membantu menyisihkan logam berat timbal (Pb) dari air tercemar.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 oleh tim yang diketuai Adisti Juliani bersama Adzkia Syahra dan Jihan Sakinah Alwi, di bawah bimbingan Prof. Dr. Nasrul, S.T., M.T.

Riset bertajuk "Inovasi Membran Antifouling dan Antibakteri Polietersulfon Termodifikasi Polietilenglikol-Graphene Oxide Berbasis Xanthone Kulit Manggis untuk Penyisihan Logam Timbal pada Air" itu memanfaatkan xanthone sebagai agen antibakteri, sehingga limbah pertanian tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada teknologi pengolahan air yang ramah lingkungan.

Baca juga: Kulit Manggis Tak Lagi Sekadar Limbah, Ini Deretan Manfaatnya untuk Kesehatan

Untuk meningkatkan kinerja membran, tim memadukan polietilenglikol (PEG) agar material lebih hidrofilik sehingga proses penyaringan menjadi lebih optimal. Sementara itu, penambahan graphene oxide (GO) memperkuat kemampuan membran dalam menangkap logam berat, terutama timbal.

Hasilnya, membran yang dikembangkan memiliki sifat antibakteri, lebih tahan terhadap penyumbatan (antifouling), dan efektif digunakan untuk mengolah air yang terkontaminasi.

"Kami berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan teknologi penyaringan air yang lebih efektif di masa depan, sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas air sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan," ujar Adisti dalam rilis yang diterima Serambinews.com, Rabu (5/8/2026).

Tim memilih timbal sebagai fokus penelitian karena logam berat tersebut merupakan salah satu polutan utama yang banyak berasal dari limbah industri. Keberadaannya di perairan dapat membahayakan kesehatan manusia sekaligus merusak keseimbangan ekosistem apabila tidak ditangani.

Selain melakukan penelitian di laboratorium, tim juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai teknologi membran dan perkembangan riset melalui akun Instagram @pkmre.pegostin. Mereka berharap inovasi ini dapat menjadi solusi nyata bagi persoalan kualitas air, khususnya di Aceh, sekaligus mendorong pemanfaatan limbah pertanian menjadi teknologi yang bernilai tinggi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.