Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Sa'dul Bahri | Aceh Barat
SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat kembali memperkuat pembangunan berbasis gampong dengan menempatkan 18 Sarjana Membangun Desa (Rajadesa) di 18 gampong yang tersebar di enam kecamatan.
Program yang memasuki tahun kedua ini difokuskan pada penguatan ketahanan pangan, peningkatan produktivitas sektor perikanan, serta peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendampingan langsung di tingkat gampong.
Program hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dengan Universitas Teuku Umar (UTU) tersebut merupakan bagian dari 100 Program Prioritas Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Selama empat bulan ke depan, para peserta Rajadesa akan mendampingi masyarakat di Kecamatan Woyla, Woyla Barat, Woyla Timur, Sungai Mas, Panton Reu, dan Pante Ceureumen.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Kabupaten Aceh Barat, Drs. Marjan Hanafie, mengatakan para peserta Rajadesa berasal dari berbagai disiplin ilmu, yakni pertanian, kelautan dan perikanan, serta kesehatan. Mereka ditugaskan untuk memperkuat tiga sektor yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat gampong.
Pendampingan akan difokuskan pada pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga, optimalisasi budidaya perikanan agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui penguatan kegiatan Posyandu.
"Program ini tidak hanya bertujuan melahirkan komoditas unggulan sesuai potensi masing-masing gampong, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup yang lebih sehat, produktif, dan mandiri," ujar Marjan.
Selain itu, program Rajadesa diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelompok masyarakat, kader desa, dan kelembagaan gampong melalui pendampingan yang dilakukan para sarjana.
Baca juga: Dinas Pangan Aceh Selatan Cek Kualitas Beras Bantuan dari Bapanas
Sementara itu, Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemerintah gampong merupakan strategi penting dalam mempercepat pembangunan desa berbasis potensi lokal.
Menurutnya, Aceh Barat memiliki sumber daya yang besar di sektor pertanian, perikanan, dan kesehatan masyarakat. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan pendampingan agar berkembang menjadi kekuatan ekonomi desa sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Tarmizi menegaskan keberhasilan program Rajadesa tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Indikator keberhasilan tersebut antara lain meningkatnya hasil pertanian, bertambahnya nilai ekonomi dari budidaya perikanan, serta tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat.
Bupati juga meminta para camat dan keuchik memberikan ruang bagi peserta Rajadesa untuk terlibat dalam proses pembangunan di tingkat gampong, termasuk dalam musyawarah desa dan penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.
Kepada para peserta Rajadesa, Tarmizi berpesan agar mengedepankan pendekatan partisipatif dengan menghargai pengalaman masyarakat serta memadukan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal.
Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menargetkan lahirnya model pemberdayaan gampong yang mampu memperkuat sektor pangan, perikanan, dan kesehatan, sekaligus mendorong terwujudnya kemandirian desa melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.