Digigit ular saat berwisata masih menjadi momok bagi banyak orang. Dokter spesialis emergensi RS Permata Depok dan pakar toksinologi Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K) mengatakan sebagian besar tindakan yang selama ini dipercaya masyarakat tidak sesuai dengan kaidah medis.
Wisata alam seperti mendaki gunung, berkemah, menjelajahi hutan, hingga mengunjungi air terjun semakin digemari traveler akhir-akhir ini. Namun, di balik keindahan alam tersebut, ada risiko yang tak boleh diabaikan, salah satunya gigitan ular berbisa.
Dalam situasi darurat, kepanikan sering kali membuat korban atau orang di sekitarnya melakukan berbagai cara yang diyakini bisa mengeluarkan racun, mulai dari mengisap luka, menyayat kulit, hingga mengikat bagian tubuh yang tergigit.
Padahal, tindakan-tindakan tersebut justru tidak dianjurkan secara medis dan dapat memperburuk kondisi korban.
"Jangan disedot, jangan disayat, jangan dikeluarkan darahnya," kata Maha, sapaan karib Tri Maharani, dalam perbincangan dengan detikTravel, Selasa (4/8/2026).
Maha kemudian membeberkan sejumlah mitos yang diyakini oleh masyarakat atau pun traveler hingga kini sekaligus membeberkan pertolongan pertama yang semestinya dilakukan oleh traveler yang digigit ular.
Berikut sejumlah mitos yang masih sering dilakukan masyarakat/traveler saat mengatasi luka gigitan ular.
4 mitos yang dilakukan masyarakat traveler saat mengatasi luka gigitan ular:
Mitos 1. Racun Harus Disedot
Banyak orang percaya racun ular bisa dikeluarkan dengan cara mengisap luka gigitan. Menurut Maha cara tersebut tidak efektif karena racun menyebar melalui sistem getah bening, bukan melalui darah.
Mengisap luka juga berisiko menyebabkan infeksi pada korban maupun orang yang memberikan pertolongan.
"Bisa ular tidak langsung mengalir lewat darah, tetapi menyebar melalui sistem getah bening. Itulah sebabnya korban tidak dianjurkan mengisap atau menyayat luka. Yang terpenting justru membatasi gerakan bagian tubuh yang tergigit agar penyebaran racun melambat, lalu segera membawa korban ke fasilitas kesehatan," kata Maha.
Mitos 2. Luka Harus Disayat
Sebagian masyarakat masih menganggap menyayat area gigitan dapat mengeluarkan racun. Maha menegaskan tindakan itu justru menambah luka baru dan meningkatkan risiko perdarahan maupun infeksi.
Mitos 3. Bagian yang Digigit Harus Diikat Sekencang-kencangnya
Mengikat anggota tubuh terlalu kuat juga tidak dianjurkan. Cara tersebut dapat mengganggu aliran darah dan memperparah kerusakan jaringan.
Mitos 4: Harus Menangkap atau Membunuh Ular
Korban sering kali menghabiskan waktu mengejar ular untuk memastikan jenisnya. Menurut Maha, langkah itu justru berbahaya karena berpotensi memicu gigitan berikutnya.
"Anggap saja semua ular berbisa," ujarnya.
5 Langkah yang Harus Dilakukan Traveler Saat Tergigit Ular
1. Pertolongan Pertama yang Tepat
Alih-alih mengikuti mitos, Tri menyarankan wisatawan melakukan pertolongan pertama berupa imobilisasi, yaitu membatasi gerakan anggota tubuh yang tergigit agar racun tidak cepat menyebar.
Setelah itu, korban harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan menangani gigitan ular berbisa.
"Pertolongan pertama yang benar adalah imobilisasi, kemudian segera ke fasilitas kesehatan," kata dia.
Dia menegaskan pertolongan yang diberikan kepada mereka yang digigit ular bukanlah mengisap luka gigitan, juga jangan menyayat luka atau mengeluarkan darah, jangan mengikat bagian tubuh yang tergigit, atau jangan mengguyur dengan air panas atau air dingin.
2. Jangan Panik
Menurut Maha, semakin cepat korban mendapatkan penanganan medis yang tepat, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi serius. Karena itu, dia mengimbau wisatawan yang beraktivitas di gunung, hutan, air terjun, hingga kawasan candi untuk tidak hanya membawa perlengkapan pribadi, tetapi juga memahami prosedur keselamatan apabila menghadapi gigitan ular.
"Jangan panik. Yang terpenting adalah melakukan pertolongan pertama yang benar dan segera mencari bantuan medis," kata dia.
3. Anggap semua ular berbisa
Menurut Maha masyarakat awam tidak mungkin membedakan semua jenis ular di Indonesia. Karena itu, setiap gigitan harus dianggap sebagai kondisi darurat.
4. Jangan berkonfrontasi dengan ular
Jika bertemu ular, jangan mencoba menangkap, memukul, atau mendekatinya. Keselamatan korban harus menjadi prioritas.
5. Manfaatkan layanan Virtual Poison Center.
Maha mengatakan masyarakat dapat berkonsultasi melalui layanan Virtual Poison Center, aplikasi berbasis AI yang dikembangkannya untuk memberikan panduan pertolongan pertama pada kasus gigitan ular, sengatan hewan berbisa, maupun keracunan tanaman.
Layanan yang dikelolanya itu juga dilengkapi fitur yang dapat membantu menunjukkan lokasi korban sehingga memudahkan proses evakuasi.





