Gianfranco Zola kembali ke lingkungan tim nasional Italia di tengah perombakan menyeluruh dalam manajemen Azzurri.
Federasi Sepak Bola Italia secara resmi mengonfirmasi bahwa penyerang legendaris Gianfranco Zola akan kembali ke struktur tim nasional dengan peran penting di belakang layar. Zola bergabung dengan tim manajemen elite yang diberi tugas memodernisasi Azzurri, bekerja bersama pelatih kepala yang baru ditunjuk Roberto Mancini dan direktur teknik Claudio Ranieri.
Kembalinya sosok legendaris ke Coverciano
FIGC secara resmi mengumumkan penunjukan Zola sebagai koordinator pemain muda baru untuk tim nasional. Mantan ikon Chelsea dan Parma itu akan menjadi kepingan terakhir dalam perombakan administratif dan teknis besar yang dirancang untuk menghidupkan kembali sepak bola Italia dari fondasinya. Langkah ini membuat Zola kembali bersama sejumlah figur paling dihormati dalam sepak bola Italia, membentuk kelompok kepemimpinan yang sangat kuat di pusat proyek olahraga baru FIGC.
Presiden FIGC Giovanni Malago mengonfirmasi penunjukan tersebut pekan ini, menandai rampungnya visi yang pertama kali ia paparkan saat perkenalan Roberto Mancini sebagai pelatih kepala dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknik baru. Kehadiran Zola dipandang sebagai langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara level usia muda dan skuad senior, sehingga tercipta filosofi yang selaras di semua tingkatan struktur Azzurri.
Malago menegaskan visinya
Dalam keterangannya kepada kantor berita ANSA, Malago menyampaikan kepuasan besarnya karena berhasil mengamankan jasa Zola untuk proyek tim nasional. Ketua FIGC itu menekankan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil kerja sama yang melibatkan pimpinan tertinggi federasi dan liga domestik. "Ranieri dan saya sangat menginginkan Zola, dan pilihan ini kami sepakati bersama Presiden Lega Pro Matteo Marani, sehingga ia juga akan tetap menjadi wakil presiden Lega Pro," kata Malago.
Sang presiden kemudian menyoroti kualitas khusus yang dibawa Zola, seraya menegaskan bahwa reputasinya sebagai sosok terhormat dalam sepak bola sama pentingnya dengan kecerdasan taktisnya. "Kharisma Zola, persiapannya, dan upayanya membantu para pemain muda yang terlihat jelas selama beberapa tahun ini bersama Lega Pro merupakan fondasi terbaik untuk membangun masa depan kami," tambah Malago.
Fokus Ranieri pada aksesibilitas
Ranieri sebelumnya sudah memaparkan tujuan yang lebih luas untuk era baru ini, dengan perhatian khusus pada hambatan sosial-ekonomi yang saat ini dihadapi pesepak bola muda di Italia. Dalam konferensi pers perkenalannya, Ranieri telah menyatakan bahwa ia ingin meneliti mengapa akademi-akademi muda kini menjadi sangat mahal bagi keluarga, sehingga membatasi peluang bagi pemain yang pada masa lalu mungkin bisa melangkah lebih jauh dalam karier mereka. Sinergi antara pengawasan teknis Ranieri dan koordinasi pemain muda oleh Zola diharapkan menciptakan jaringan pencarian bakat dan pengembangan yang lebih efisien di seluruh Semenanjung Italia, sekaligus menghidupkan kembali sistem yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kesulitan.
"Saya berterima kasih kepadanya, karena ia menerimanya dengan antusiasme, kemauan, dan rasa tanggung jawab. Bersama Ranieri, Mancini, dan Zola, kami ingin membangun visi baru untuk sepak bola Italia," ujar Malago.
Dari ruang ganti Inggris menuju kepulangan ke tanah air
Perjalanan Zola menuju peran eksekutif ini diperkaya oleh pengalaman kepelatihan internasional yang luas. Setelah pensiun sebagai pemain, Zola meniti karier sebagai pelatih dengan menangani tim-tim seperti West Ham United, Watford, dan Birmingham City di Inggris, selain juga sempat bekerja bersama Cagliari dan Al-Arabi. Peran kepelatihan penting terakhirnya terjadi pada musim 2018-19, ketika ia menjadi asisten Maurizio Sarri di Chelsea.