Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat nasionalisme kembali digaungkan dengan menghidupkan warisan pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto.
H.O.S. Tjokroaminoto adalah tokoh pergerakan nasional Indonesia, pendiri dan ketua Sarekat Islam, serta dikenal sebagai “Guru Bangsa” yang melahirkan banyak murid penting seperti Soekarno, Muso, dan Kartosuwiryo.
Ia dijuluki “Raja Jawa tanpa Mahkota” karena pengaruh besar dalam politik dan pergerakan rakyat.
Bagi Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), nilai-nilai yang diwariskan sang guru bangsa itu dinilai tetap relevan sebagai pegangan menghadapi tantangan Indonesia masa kini.
Semangat tersebut diwujudkan melalui instruksi kepada seluruh jajaran organisasi tersebut, di berbagai daerah untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di seluruh Nusantara menjelang perayaan kemerdekaan.
Baca juga: Jelang HUT RI, Ketua MPR Ajak Masyarakat Rawat Warisan Bung Karno
Formateur/Ketua Umum Terpilih PB SEMMI, Achmad Donny, mengatakan pengibaran Merah Putih bukan sekadar tradisi tahunan.
Melainkan bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan sekaligus cara sederhana menumbuhkan rasa cinta tanah air di tengah generasi muda.
"Kami menginstruksikan PW SEMMI, PC SEMMI, komisariat, dan seluruh kader SEMMI untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di seluruh Nusantara," ujar Achmad Donny kepada awak media, Kamis (6/8/2026).
"Ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya mempertebal semangat nasionalisme atas pengorbanan para pejuang dan kesuma bangsa dalam merebut kemerdekaan Indonesia," kata Donny.
Menurut Donny, semangat nasionalisme yang diwariskan H.O.S. Tjokroaminoto sejak awal lahir sebagai gerakan untuk mempersatukan rakyat dalam melawan penindasan dan memperjuangkan kemerdekaan.
Nilai tersebut, kata dia, kini tetap menjadi fondasi penting bagi Keluarga Besar Sarikat Islam, termasuk SEMMI.
Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini dinilai telah berubah. Jika dahulu perjuangan dilakukan menghadapi kolonialisme secara fisik, kini ancaman hadir dalam bentuk yang lebih halus melalui arus budaya dan perkembangan teknologi.
"Semangat menjaga persatuan dan kesatuan merupakan hal yang tidak bisa ditawar, meski ancaman yang dihadapi saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan," tutur Donny.
"Infiltrasi asing melalui budaya dan teknologi harus lebih diwaspadai dibanding ancaman meriam bangsa asing," katanya.
Ia menilai, perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto dalam mengangkat martabat bangsa hingga menjadi negara yang merdeka, berdaulat, dan terhormat.
Itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya untuk diraih, tetapi juga dijaga oleh setiap generasi.
Karena itu, Donny berharap warisan pemikiran tokoh nasional tersebut tidak berhenti sebagai catatan sejarah.
Melainkan terus hidup dalam tindakan nyata, mulai dari menjaga persatuan hingga memperkuat rasa bangga sebagai bangsa Indonesia.
"Warisan perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto bukan hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi harus menjadi spirit dalam menjaga persatuan, memperkuat nasionalisme, serta mempertahankan kedaulatan bangsa di tengah berbagai tantangan zaman," tuturnya.
Momentum HUT ke-81 RI pun diharapkan menjadi pengingat bahwa nasionalisme bukan sekadar simbol, tetapi sikap yang tercermin dalam komitmen menjaga keutuhan bangsa dan menghargai perjuangan para pendiri negara.
"Kita tunjukkan kepada dunia bahwa di usianya yang ke-81, Indonesia adalah negara yang merdeka, bermartabat, berdaulat, dan bebas dari intervensi asing. Tunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar," ungkap Donny.
Baca juga: Profil HOS Tjokroaminoto, Pahlawan Pergerakan Nasional dan Guru Soekarno, Kakek Buyut Maia Estianty
Nama Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal sebagai H.O.S. Tjokroaminoto tetap menempati posisi penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Tokoh yang lahir pada 16 Agustus 1882 itu dikenal sebagai seorang nasionalis, pemimpin pergerakan, sekaligus guru bagi sejumlah tokoh besar yang kemudian mewarnai perjalanan politik Indonesia.
Tjokroaminoto tercatat sebagai salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Samanhudi dan kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam, organisasi massa terbesar pada masanya.
Perannya dalam membangkitkan kesadaran kebangsaan membuat pemerintah kolonial Belanda menjulukinya De Ongekroonde Koning van Java atau “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.
Sebagai pelopor pergerakan nasional, pemikiran Tjokroaminoto tidak hanya memengaruhi satu kelompok tertentu.
Rumahnya bahkan pernah menjadi tempat tinggal dan belajar sejumlah tokoh muda yang kelak menjadi pemimpin besar Indonesia, di antaranya Semaoen, Alimin, Muso, dan Soekarno. Dari lingkungan itulah lahir beragam gagasan dan ideologi yang berkembang pada masa perjuangan kemerdekaan.
Sejarawan menilai pengaruh Tjokroaminoto sangat luas karena murid-muridnya kemudian menempuh jalan politik yang berbeda-beda. Semaoen, Muso, dan Alimin dikenal dekat dengan gerakan sosialis dan komunis, sementara Soekarnomenempuh jalur nasionalisme. Di sisi lain, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo berkembang menjadi tokoh gerakan Islam dan pernah menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto.
Perbedaan ideologi di antara para muridnya kemudian membawa Indonesia pada dinamika politik yang tajam setelah kemerdekaan, termasuk Pemberontakan Madiun 1948 yang dipimpin Muso dan gerakan Negara Islam Indonesia (NII)yang dipimpin Kartosoewirjo.
Selain dikenal sebagai guru bangsa, Tjokroaminoto juga menjadi bagian dari polemik sejarah terkait tempat kelahirannya. Terdapat dua versi yang berkembang, yakni Ponorogo dan Madiun. Di Ponorogo disebut lahir di Tegalsari, sedangkan versi Madiun menyebut Bakur atau Bukur.
Namun, berdasarkan berbagai penelitian dan literatur sejarah, termasuk Buku Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, HOS Tjokroaminoto: Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya, serta dokumen Surat Keputusan Kepresidenan tentang Pahlawan Nasional, tempat kelahiran yang diakui adalah Ponorogo.
Pengakuan tersebut juga diperkuat dengan penetapan Jalan HOS Cokroaminoto di Ponorogo yang diusulkan pemerintah daerah sebagai bentuk penghormatan kepada putra daerah tersebut. Pemerintah Kabupaten Ponorogo juga membangun Monumen HOS Tjokroaminoto di sepanjang jalan tersebut untuk mengenang jasa-jasanya.
Sementara itu, di Kota Madiun, nama Cokroaminoto juga diabadikan menjadi nama jalan legendaris, lembaga pendidikan, hingga produk oleh-oleh khas seperti Bluder Cokro, yang menunjukkan besarnya pengaruh tokoh tersebut di wilayah Madiun.
Atas jasa dan perjuangannya bagi bangsa Indonesia, H.O.S. Tjokroaminoto diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno melalui Surat Keputusan Nomor SK/590/Tahun/1961 tertanggal 9 November 1961. Tokoh besar pergerakan ini wafat pada 17 Desember 1934 dan dimakamkan di Yogyakarta.
Hingga kini, warisan pemikiran dan semangat perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto terus dikenang sebagai salah satu fondasi penting lahirnya kesadaran kebangsaan Indonesia serta inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga persatuan dan cita-cita kemerdekaan.