Laporan Wartawan TribunMadura.com, Sinca Ari Pangistu
TRIBUNMADURA.COM, BONDOWOSO - Tragedi yang kembali terjadi di Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, memunculkan kembali sorotan terhadap jalur pendakian yang dikenal ekstrem tersebut, Selasa (4/8/2026).
Meninggalnya dua pendaki, yakni Maliya Finda (51) asal Surabaya dan Erfan (35) asal Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso, saat mendaki, membuat perhatian publik kembali tertuju pada karakter Gunung Piramid yang selama ini dikenal memiliki tingkat risiko tinggi.
Bagi masyarakat Bondowoso, Gunung Piramid lebih populer dengan sebutan Punggung Naga.
Jalur ini berada di Kecamatan Curahdami dan beberapa kali menjadi lokasi kecelakaan pendakian, termasuk insiden yang merenggut nyawa Thoriq Rizki Maulidan pada tahun 2019 dan Multazam pada tahun 2020.
Ketua DPC Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Bondowoso, Fathorrahman Hidayah alias Jangkar, mengatakan, Gunung Piramid bukanlah gunung yang bisa didaki dengan standar pendakian biasa.
Meski hanya memiliki ketinggian sekitar 1.521 meter di atas permukaan laut (mdpl), karakter medannya mengharuskan pendaki memiliki kemampuan teknis dan menggunakan perlengkapan khusus.
"Pendakian Gunung Piramid itu adalah pendakian yang harus teknikal. Berbeda dengan gunung-gunung lainnya. Gunung ini membutuhkan teknik pendakian vertikal dengan peralatan khusus," kata Jangkar, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, perlengkapan seperti tali karmantel, karabiner, figure eight, ascender, descender, hingga helm merupakan perlengkapan wajib apabila ingin melintasi jalur tersebut dengan aman.
Jangkar menjelaskan, salah satu karakter paling berbahaya dari Gunung Piramid adalah kondisi jalurnya yang terbuka tanpa vegetasi.
"Mulai dari Monumen Thoriq sampai puncak tidak ada vegetasi sama sekali. Tanahnya juga sangat gembur sehingga membutuhkan teknik pendakian khusus," ujarnya.
Ia menyebut, meski panjang lintasan menuju puncak hanya sekitar 1,3 kilometer, bagian paling berbahaya berada setelah memasuki kawasan Punggung Naga.
"Risiko paling tinggi ada setelah memasuki Punggung Naga menuju puncak," katanya.
Baca juga: Cuaca Berkabut, Basarnas Siapkan 3 Tim Evakuasi 2 Pendaki Tewas di Gunung Piramid Bondowoso Besok
Selain tanah yang mudah longsor, Jangkar mengatakan, jalur pendakian di Punggung Naga sangat sempit.
"Punggungannya sangat tipis. Lebarnya tidak sampai satu meter. Bahkan ada yang hanya sekitar 50 sentimeter dan beberapa titik mengecil hingga sekitar 30 sentimeter," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pendaki tidak bisa saling berpapasan.
"Kalau sudah masuk area Punggung Naga, pendaki tidak bisa saling salip. Harus menunggu jalur benar-benar kosong," ucapnya.
Di sisi kanan dan kiri jalur juga langsung berbatasan dengan jurang yang sangat curam.
"Sebelah timur dan barat sudah berupa lembahan dengan kemiringan yang sangat terjal," katanya.
Baca juga: Gunung Piramid Bondowoso Dilarang untuk Jalur Pendakian, Buntut Meninggalnya 2 Pendaki di Jurang
Menurut Jangkar, sepanjang jalur menuju puncak terdapat banyak rintangan alam yang harus dilalui.
"Ada batu besar yang harus dipanjat, ada yang harus dilewati dari samping, kemudian jalurnya sempit. Obstacle (rintangan) di Gunung Piramid sangat banyak," ujarnya.
Karena itulah, ia menilai jalur tersebut tidak cocok didaki tanpa pengalaman maupun perlengkapan yang memadai.
Berkaca dari sejumlah kecelakaan yang berulang, APGI Bondowoso mendorong adanya pengelolaan pendakian secara profesional.
Salah satu rekomendasinya adalah pemasangan safety line secara menyeluruh mulai dari titik awal pendakian hingga puncak.
"Kalau nantinya dikelola, pemasangan safety line tidak bisa hanya di titik tertentu. Harus tersambung dari Monumen Thoriq sampai ke puncak," tegas Jangkar.
Ia menilai, sebagian besar kecelakaan terjadi karena pendaki tidak terhubung dengan sistem pengaman saat melintasi jalur berbahaya.
"Kasus yang sering terjadi adalah pendaki jatuh karena tidak terhubung dengan alat pengaman tersebut," katanya.
Selain medan, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri.
Jangkar mengaku saat melakukan asesmen maupun operasi pencarian dan pertolongan, ia menemukan pola cuaca yang hampir selalu berulang.
"Di Gunung Piramid sekitar pukul 09.00 sampai 10.00 WIB pagi biasanya kabut mulai datang. Sore hari sekitar pukul 15.00 WIB juga kabut turun lagi meskipun sedang musim kemarau," ujarnya.
Kabut tersebut membuat jarak pandang pendaki menjadi terbatas sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.
Baca juga: BPBD Jatim Ungkap Kendala Padamkan Kebakaran Kawasan Gunung Bromo, 2 Helikopter segera Diterjunkan
Jangkar mengungkapkan, APGI Bondowoso pernah diminta melakukan asesmen oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Pariwisata dan Olahraga.
Hasil asesmen saat itu menghasilkan dua rekomendasi.
"Rekomendasinya hanya dua, ditutup atau dikelola secara profesional," katanya.
Namun hingga kini, menurutnya, belum ada sistem pengelolaan yang benar-benar diterapkan, sementara minat pendaki terus meningkat karena panorama Gunung Piramid yang dinilai sangat indah.
"Kalau dibiarkan tanpa pengelolaan, kejadian seperti ini berpotensi terus berulang," ujarnya.
APGI Bondowoso, lanjut Jangkar, siap mendampingi pemerintah apabila Gunung Piramid nantinya dikelola secara resmi.
"Kami siap mendampingi, baik secara personal maupun kelembagaan, agar pengelolaannya benar-benar profesional," katanya.
Di akhir wawancara, Jangkar mengingatkan bahwa setiap aktivitas pendakian memiliki risiko sehingga harus dipersiapkan secara matang.
Ia menyebut sedikitnya ada empat kemampuan dasar yang wajib dimiliki pendaki, yakni kemampuan teknis, kebugaran fisik, kemampuan kemanusiaan atau pengambilan keputusan, serta pemahaman terhadap lingkungan.
"Jangan langsung naik gunung tanpa perencanaan. Semua harus dipersiapkan, mulai latihan fisik, memahami navigasi, membawa perlengkapan yang sesuai hingga mengetahui karakter gunung yang akan didaki," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membawa perlengkapan keselamatan, termasuk P3K, alat navigasi, perlengkapan penerangan, serta perlengkapan teknikal apabila mendaki gunung seperti Piramid.
"Setiap pendakian memiliki risiko bahaya. Risiko itu bisa diminimalkan dengan perencanaan yang matang," pungkas Jangkar.
Operasi pencarian dua pendaki yang hilang kontak di Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami, Bondowoso, Jawa Timur, berakhir duka, Selasa (4/8/2026).
Tim SAR gabungan menemukan Maliya Finda (51) dan pemandu lokal, Erfan (35), warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso, dalam kondisi meninggal dunia di kawasan jurang bawah Jalur Punggung Naga.
Penemuan tersebut mengakhiri pencarian sejak keduanya dilaporkan tidak kembali dari pendakian yang dimulai pada Minggu (2/8/2026).
Polisi menyebut, lokasi penemuan berada di medan terjal sedalam sekitar 60 meter, sehingga evakuasi jenazah baru dapat dilakukan keesokan harinya.
Menurut Kapolres Bondowoso, AKBP Aryo Dwi Wibowo, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada sekitar pukul 13.00 WIB.
Jenazah korban ditemukan di bawah Punggung Naga dengan kedalaman sekitar 60 meter.
Informasi dari Dusun Tegal Tengah, Desa Curahdami, yang menjadi basecamp awal pendakian, menyebutkan, keduanya mulai mendaki sejak Minggu (2/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB.
Sebelum melakukan pendakian, keduanya sempat menitipkan satu unit sepeda motor Yamaha NMAX warna merah dengan nomor polisi P 2938 ES di rumah salah seorang warga setempat.
Kecurigaan mulai muncul lantaran hingga Senin (3/8/2026) sore pukul 17.30 WIB, sepeda motor tersebut tak kunjung diambil oleh pemiliknya.
Padahal, secara estimasi waktu, pendakian di Gunung Piramid umumnya dilakukan dengan sistem tektok (langsung turun tanpa menginap) dengan durasi sekitar 8 jam.