BANGKAPOS.COM, BANGKA - Prestasi akademik yang tinggi tidak akan berarti tanpa diiringi akhlak yang baik. Prinsip itulah yang dipegang Ahmad Rozan Zain Tasri, hafiz Al-Qur'an 30 juz asal Bangka Belitung yang berhasil menjadi mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui jalur Talenta Unggul Daerah (TUD).
Bagi Rozan, kesuksesan bukan sekadar diterima di fakultas kedokteran, tetapi bagaimana ilmu yang dimiliki kelak dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
"Tanggung jawab pasti ada. Saya akan terus berkomitmen untuk belajar, terus berprestasi dan tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki akhlak yang baik," kata Rozan dalam program Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, Jumat (7/8/2026).
Rozan menjadi satu-satunya peserta yang diterima melalui jalur Talenta Unggul Daerah setelah melewati seleksi yang cukup ketat. Ia bersaing dengan lebih dari 100 peserta yang mengikuti tahapan seleksi administrasi, tes akademik, hingga wawancara.
Meski berhasil meraih prestasi membanggakan, Rozan menilai pencapaiannya tidak lepas dari doa orang tua, dukungan guru, dan lingkungan yang membentuk karakternya.
"Saya berada di titik ini bukan karena diri saya sendiri. Ada doa orang tua, dukungan guru dan teman-teman yang selalu menyertai perjalanan saya," ujarnya.
Prestasi dan Akhlak Tidak Bisa Dipisahkan
Sejak kecil, Rozan telah dibiasakan mempelajari Al-Qur'an hingga akhirnya berhasil menghafal 30 juz. Menurutnya, proses tersebut tidak hanya membentuk kemampuan menghafal, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Ia mengaku selalu berusaha menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan hafalan Al-Qur'an dengan menerapkan manajemen waktu yang disiplin.
"Saya sering membuat jadwal dan menentukan prioritas. Waktu sebenarnya tidak pernah kurang, tetapi kita yang kurang memanfaatkannya," katanya.
Saat menghadapi kejenuhan dalam menghafal, Rozan memilih memperbaiki niat dan meminta doa kepada kedua orang tua serta guru.
"Kalau sedang sulit menghafal, saya kembali memperbaiki niat dan meminta doa kepada guru serta orang tua. Doa mereka sangat berarti," ujarnya.
Al-Qur'an Pedoman Menjadi Dokter
Rozan menuturkan keinginannya menjadi dokter telah muncul sejak kecil. Cita-cita tersebut semakin kuat setelah memahami ajaran Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Ma'idah ayat 32 yang mengajarkan pentingnya menjaga kehidupan manusia.
"Al-Qur'an menjadi pedoman hidup saya. Ayat itu menguatkan niat saya menjadi dokter karena menjaga satu nyawa sama seperti menjaga kehidupan banyak manusia," katanya.
Menurut Rozan, profesi dokter tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga empati dan kepedulian terhadap sesama.
Ia menilai seorang tenaga kesehatan harus mampu memperlakukan pasien dengan rasa kemanusiaan, apapun latar belakangnya.
"Kita harus lebih bersimpati kepada orang lain karena kita tidak pernah tahu apa yang sedang mereka alami. Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan syariat, tetapi juga bagaimana bersikap kepada sesama," ujarnya.
Ingin Menjadi Dokter yang Amanah
Rozan memiliki gambaran jelas tentang sosok dokter yang ingin ia wujudkan di masa depan. Ia tidak ingin dikenal semata karena kemampuan medisnya, tetapi juga karena integritas dan akhlaknya.
"Saya tidak ingin hanya dikenal sebagai dokter yang kompeten. Saya ingin menjadi dokter yang amanah, memiliki integritas, simpati, empati, dan tetap rendah hati," katanya.
Ia juga berharap dapat mengabdikan diri untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Bangka Belitung, daerah yang menjadi tanah kelahirannya.
"Bagi saya, pencapaian terbesar bukan sekadar menjadi dokter, tetapi ketika saya bisa mengabdikan diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat Bangka Belitung," ujarnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Rozan mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun karakter dan akhlak sejak dini. Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan agar dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Ia juga mengingatkan pentingnya aktif mencari peluang dan informasi pendidikan.
"Kalau kita yang membutuhkan, maka kita yang harus mencari informasi. Sekarang semuanya terbuka. Kalau mau berusaha, pasti ada jalannya," katanya.
Perjalanan Ahmad Rozan Zain Tasri menjadi bukti bahwa prestasi akademik tidak harus mengorbankan nilai-nilai keagamaan. Sebaliknya, keduanya dapat saling menguatkan untuk membentuk pribadi yang unggul, berintegritas, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
(Bangkapos.com)