TRIBUNNEWS.COM - Potret buram akses pendidikan di daerah terpencil kembali menyita perhatian.
Setiap hari sejumlah anak sekolah dan guru di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, harus mempertaruhkan keselamatan mereka dengan menyeberangi sungai melintasi jembatan tali kabel yang rapuh dan minim pengaman.
Pemandangan memprihatinkan tersebut terekam ketika warga, siswa, hingga seorang ibu guru terlihat harus menggendong anaknya sembari merayap perlahan di atas tali kabel demi menuju dan pulang dari sekolah.
Gampong Sikundo berada sekitar 80 kilometer dari pusat Kota Meulaboh dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam.
Meski demikian, akses menuju desa tersebut masih menghadapi berbagai kendala karena kondisi jalan yang rusak, berlubang, berlumpur, serta melintasi jalur terjal di tepi tebing sungai.
Keuchik atau Kepala Desa Sikundo, Sulaiman, menjelaskan akses jembatan gantung yang sebelumnya dibangun oleh donatur pada kurun waktu 2023-2024 terputus akibat bencana banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut pada November 2025.
Setelah bencana, warga terpaksa menggunakan bentangan jembatan tali kabel darurat sepanjang sekitar 150 meter untuk menghubungkan akses antardusun, seperti Dusun Durian ke Dusun Salah Sare.
Setiap harinya, ada sekitar 10 orang warga yang terpaksa melintasi akses berbahaya tersebut.
"Meskipun sampai saat ini belum ada korban jatuh, tantangan dan risikonya sangat besar bagi warga maupun anak-anak sekolah yang melintas," ujar Sulaiman, dikutip dari Youtube Tribunnews dalam program Saksi Kata, Jumat, (7/8/2026).
Di Dusun Salah Sare sendiri terdapat sekitar 7 rumah warga yang dihuni oleh 18 jiwa, dengan rincian 12 anak sekolah dan 4 orang guru yang setiap hari membutuhkan akses penyeberangan tersebut.
Sementara secara keseluruhan, Desa Sikundo dihuni oleh 62 KK atau sekitar 280 jiwa.
Baca juga: Kasus Kapolresta Banda Aceh hingga Diperiksa Propam Masih Misteri, Kompolnas Desak Polri Transparan
Masyarakat dan tenaga pengajar di Desa Sikundo sangat berharap Dinas Pekerjaan Umum (PU) maupun pihak pemerintah daerah dapat segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen yang layak dan aman.
Selain jembatan, warga juga berharap adanya perbaikan dan pengerasan jalan akses dari Sikundo menuju Jambak yang saat ini dalam kondisi berlubang dan bergelombang.
"Saat ini yang paling dibutuhkan masyarakat adalah jembatan permanen dan jalan dari Jambak ke Sikundo untuk memudahkan masyarakat mengangkut hasil pertanian menuju ibu kota kecamatan maupun kabupaten serta mendukung aktivitas masyarakat," kata Sulaiman.
Infrastruktur yang memadai dinilai sangat penting untuk mempermudah mobilitas warga membawa hasil pertanian ke kecamatan, sekaligus mendukung potensi wisata alam setempat.
(Tribunnews.com/Falza)