IdeaFest SUB 2026: Membedah Peran AI dan Strategi Kolaborasi Industri Kreatif di Surabaya
Pipit Maulidya August 07, 2026 08:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Gelaran IdeaFest SUB 2026 resmi dibuka di Grand City Mall Surabaya, Jumat (7/8/2026).

Festival ide dan kreativitas terbesar ini kembali hadir sebagai wadah bagi para inovator untuk berbagi wawasan, membangun koneksi, serta mendorong lahirnya solusi nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dan kolaborasi lintas industri.

Dalam pembukaannya, Festival Director IdeaFest, Olivia Febrina, menyoroti pergeseran tren industri yang kini semakin mengerucut pada pemanfaatan teknologi spesifik.

“Tren industri saat ini saling berkaitan. Jika beberapa tahun lalu industri teknologi terlihat sangat berkembang, kini perkembangan tersebut justru semakin spesifik, salah satunya melalui pemanfaatan artificial intelligence (AI),” ungkap Olivia.

Baca juga: Polemik Ruko di Ngagel Berbuntut, Wali Kota Surabaya dan Wakilnya Digugat Warga Rp 25 Miliar

AI Sebagai Tools Peningkat Kinerja, Bukan Pengganti Peran Manusia

Olivia menegaskan bahwa meski teknologi terus berkembang pesat, fokus utama industri kreatif saat ini adalah menjadikan AI sebagai alat pendukung yang mampu meningkatkan efisiensi.

“Kalau ditanya apa yang sedang naik di industri kreatif, mungkin sekarang adalah AI. Bukan bagaimana kita digantikan oleh AI, tetapi bagaimana kita menggunakan AI untuk meningkatkan kinerja kita,” ujar Olivia Febrina di Surabaya.

Ia menilai, integrasi AI dapat menyasar berbagai sektor, termasuk industri kuliner yang menjadi primadona di Kota Pahlawan.

“Industrinya tetap di teknologi, tapi lebih kepada AI. Kalau kita lihat di Surabaya, Food and Beverage-nya tetap jadi nomor satu. Nah, bagaimana caranya kita menyelaraskan kolaborasi, mungkin F&B digabung dengan AI,” tambahnya.

Menjadikan AI Lebih Aplikatif bagi Pelaku Usaha

Senada dengan hal tersebut, Festival Director IdeaFest Surabaya, Saskia Tessy, menjelaskan bahwa IdeaFest SUB 2026 mengusung misi untuk mendemistifikasi AI agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

Tahun ini, IdeaFest menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menghadirkan pembahasan AI yang praktis.

“Kita tidak mau orang berpikir, ‘Waduh, AI berat banget’. Tapi bagaimana aplikasinya di segala bidang industri,” kata Saskia.

Lebih dari sekadar mengikuti tren, Saskia meyakini bahwa festival ini memiliki peran sebagai trendsetter.

“Kalau ditanya trennya apa, sebenarnya IdeaFest Surabaya dan Jakarta itu adalah tempat di mana kita akan menciptakan tren-tren yang baru,” tegasnya.

Potensi F&B Surabaya: Dari Melting Pot Budaya Hingga Gaya Hidup

Kekuatan industri Food and Beverage (F&B) di Surabaya dan Jawa Timur juga menjadi sorotan utama.

Menurut narasumber, bertahannya industri ini berkaitan erat dengan gaya hidup masyarakat yang mencakup aspek wellness, olahraga, hingga rutinitas harian.

“Kalau kita melihat itu sebenarnya adalah lifestyle. F&B ini adalah bagian dari lifestyle,” ujarnya.

Letak geografis dan keberagaman budaya menjadikan Surabaya sebagai pusat pertumbuhan kuliner yang unik.

“Surabaya adalah sebuah melting pot. Banyak sekali budaya dan banyak daerah-daerah di Jawa Timur ini yang punya kuliner yang luar biasa. Itu menurut saya kenapa industri F&B di Surabaya, Jawa Timur ini masih nomor satu,” jelasnya.

Kunci Bisnis Sustain: Kolaborasi Lintas Industri

Di tengah persaingan yang semakin ketat, para pelaku usaha muda di Surabaya didorong untuk tidak berjalan sendiri.

Semangat kolaborasi dinilai sebagai faktor penentu apakah sebuah bisnis dapat bertahan lama (sustain) atau tidak.

“Semangat kolaborasinya yang mungkin perlu ditingkatkan untuk Surabaya. Di Jakarta juga. Kalau kita lihat yang ‘berdarah-darah’ dan yang sustain, lebih banyak yang sustain. Kenapa? Karena semangat berkolaborasinya cukup tinggi,” tuturnya.

Ia mencontohkan bagaimana unit bisnis F&B kini mulai menggabungkan konsep dengan industri lain untuk menciptakan pengalaman baru bagi pelanggan.

“Misalnya mereka punya tempat dan bikin bisnis F&B, tapi mereka sadar kalau cuma kafe atau restoran saja, mungkin enggak akan lama. Akhirnya mereka mengajak berkolaborasi, misalnya lantai duanya dijadikan tempat pilates,” paparnya.

Selain itu, kolaborasi bisa menyentuh sisi visual dan ambience dengan melibatkan desainer interior atau praktisi Desain Komunikasi Visual (DKV). Olivia menutup dengan pesan kuat bagi para pengusaha di Surabaya.

“Memang enggak bisa berdiri sendiri kalau mau sustain. Harus berkolaborasi in any kind of industry. Itu kuncinya. Sayang banget kalau semangat kolaborasi ini enggak dijalankan buat teman-teman di Surabaya,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.