TRIBUNTRENDS.COM - Misteri bunker terkunci di sebuah sekolah swasta kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mulai menemukan titik terang setelah ruangan tersebut berhasil dibuka dan diperiksa polisi.
Sebelumnya, keberadaan ruangan yang disebut menyerupai bunker itu sempat menjadi perhatian karena tidak dapat diakses pihak yayasan.
Kuasa hukum yayasan, Hermawanto, mengungkapkan bahwa aparat kepolisian ternyata telah lebih dulu memasuki dan memeriksa bunker tersebut pada Rabu (5/8/2026).
Pernyataan itu sekaligus menjadi koreksi atas keterangannya sebelumnya yang menyebut bunker masih belum bisa dibuka.
Menurut Hermawanto, informasi terbaru menunjukkan bahwa proses pemeriksaan oleh kepolisian sudah dilakukan beberapa hari lalu.
"Bunker itu rupanya kemarin sudah sempat dimasuki oleh aparat kepolisian," ujar Hermawanto, Jumat (7/8/2026), dikutip dari Kompas.com.
Keberadaan bunker tersebut sebelumnya memicu tanda tanya karena akses menuju ruangan itu terkunci rapat.
Pihak yayasan menduga kunci bunker dibawa oleh mantan Ketua Pengurus Yayasan berinisial IWD.
Baca juga: Sosok Pemilik 996 Senapan di Sekolah Swasta Jaksel, Sudah Meninggal, Ditemukan juga Ganja dan Sabu
Kondisi tersebut membuat pengurus yayasan tidak dapat mengetahui isi maupun fungsi ruangan tersebut secara pasti.
Karena itu, mereka sempat meminta bantuan aparat untuk membuka dan menelusuri isi ruangan yang dianggap mencurigakan tersebut.
Permintaan itu disampaikan sehari sebelum diketahui bahwa polisi ternyata sudah melakukan pemeriksaan.
Saat itu, Hermawanto menjelaskan masih ada satu ruangan yang belum berhasil dibuka oleh pihak yayasan.
"Ada ruangan yang belum bisa kami buka, kami berharap ruangan yang berbentuk seperti bunker itu segera ditindaklanjuti oleh kepolisian untuk dibuka," ungkap Hermawanto, Kamis (6/8/2026), dikutip dari Wartakotalive.com.
Dengan terungkapnya fakta bahwa bunker telah diperiksa, perhatian kini beralih pada hasil temuan yang diperoleh aparat dari dalam ruangan tersebut.
Kasus ini pun masih menjadi sorotan seiring penyelidikan lebih lanjut terkait keberadaan bunker dan kaitannya dengan temuan di lingkungan sekolah tersebut.
Lalu, seperti apa fakta-fakta bunker di sekolah swasta tersebut?
Hermawanto mengatakan pihak kepolisian telah memeriksa bunker tersebut.
Hasilnya, ditemukan senjata laras dan narkoba.
"Nah, yang kemarin ditemukan di bunker itu adalah narkoba sama senjata laras," ujar Hermawanto.
Lebih lanjut, Hermawanto menyebut guru-guru di sekolah tak ada yang mengetahui keberadaan bunker tersebut.
Ia juga mengatakan tidak ada yang tahu, kapan bunker itu dibangun.
"Kami baru tahu sekarang ini ketika kami berhasil masuk ke dalam ruangan. (Kapan dibangun) kami tidak tahu," jelas Hermawanto.
Menurut Hermawanto, akses menuju bunker tersebut hanya dimiliki oleh IWD.
Ruangan tempat ditemukannya ratusan senapan diketahui sebelumnya juga ditempati oleh IWD.
Namun, kunci ruangan itu diduga dibawa IWD sejak ia dipecat pada April 2026 lalu.
"Jadi alasan dipecat itu adalah karena ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi," ujar Hermawanto.
Hermawanto mengatakan bunker tersebut kini sudah kosong.
Barang-barang yang ada di dalam bunker telah diamankan pihak kepolisian.
"Jadi bunker itu sudah dimasuki dan sudah dipastikan bahwa itu tidak ada barang apa-apa lagi sekarang," pungkas Hermawanto.
Baca juga: Rahasia di Balik Ruang Sekolah Swasta di Jaksel, 995 Senpi hingga Narkoba, Pengurus Tak Tahu Asalnya
Sebanyak 996 senapan yang ditemukan, satu di antaranya adalah senjata api (senpi) jenis Franchi SPAS-15.
Sementara, 995 sisanya adalah senapan angin.
"Dari 996 pucuk yang diduga senjata tadi, kami sampaikan bahwa 995 pucuk merupakan senapan angin, bukan senjata api."
"Satu pucuk merupakan senjata api jenis Franchi SPAS-15 kaliber 12 GA, ni sudah diamankan oleh penyidik dari Polres Metro Jakarta Selatan," jelas Budi di Polda Metro Jaya, Jumat (7/8/2026).
Saat ini, ratusan senjata yang ditemukan telah diamankan di gudang Subdit Wasendak Ditintelkam Polda Metro Jaya.
Temuan 996 senapan ini bermula saat pihak sekolah hendak membuka ruangan untuk mengambil kebutuhan siswa pada 10 Juli 2026.
Namun, saat ruangan dibuka, ditemukan ratusan senpi dan amunisi yang terbungkus rapi.
"Namun, tiba-tiba ketika kita membuka kepentingan untuk sekolah ini, kita temukan peralatan yang disebut senjata."
"Air gun yang bisa membunuh karena larasnya itu polos tidak ada alur," ungkap Staf Ahli Ketua Pembina Yayasan, Untung Sangaji, Kamis (6/8/2026), dilansir TribunJakarta.com.
Atas temuan itu, pihak sekolah melapor kepada Polres Metro Jakarta Selatan untuk meminta pendampingan.
Selain ratusan senapan, ditemukan pula dua linting ganja dan satu bungkus sabu-sabu, serta boks hitam berisikan VCD asusila.
Pihak IWD yang dikaitkan temuan 996 senapan, buka suara melalui kuasa hukumnya, Alhadid Endra Putra.
Alhadid yang juga merupakan Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin, mengklaim ratusan senapan itu merupakan milik perusahaannya.
Alhadid mengatakan ratusan senapan itu legal berdasarkan Surat Izin Nomor SI/5483-XII/2008 yang diterbitkan Polri.
Soal mengapa ratusan senpi berada di sekolah swasta, Alhadid menyebut digunakan untuk stok persiapan ekstrakurikuler menembak.
"Airsoft tersebut merupakan stok untuk persiapan ekskul menembak dan panahan dari sekolah, yang akan dilaksanakan dan telah diketahui pada tahun 2021 bersama dengan Jenderal Suryo, Pembina Yayasan," jelas Alhadid, Kamis.
Namun, pernyataan itu dibantah oleh pihak yayasan.
Menurut keterangan para guru, kata Hermawanto, tak ada ekstrakurikuler menembak di sekolah.
"Informasi berdasarkan para guru yang sudah lama di sini, di sekolah ini tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak," ujar Hermawanto kepada awak media, Jumat.
Lebih lanjut, ia menegaskan pengurus baru yayasan sama sekali tidak tahu-menahu soal keberadaan senapan itu sampai pihak sekolah menemukannya.
Sebab, menurut dia, pengurus lama yang mengelola ruangan tersebut telah diberhentikan.
Hermawanto juga mengatakan, akses terhadap ruangan itu sepenuhnya berada di tangan pengurus lama.
"Kami itu pihak pengurus baru tidak mengetahui sama sekali keberadaan senjata itu sampai kami menemukannya."
"Bagaimana caranya masuk, siapa yang bertanggung jawab, kami juga tidak tahu," pungkasnya.
(TribunTrends/Tribunnews/Pravitri Retno)