TRIBUNNEWSMAKER.COM - Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran serius di kawasan Timur Tengah.
Teheran kini mengirimkan ultimatum keras kepada sejumlah negara-negara Teluk di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington.
Iran memperingatkan negara Teluk agar tidak memberi ruang bagi Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap wilayahnya.
Jika serangan AS benar-benar terjadi, Teheran disebut siap melancarkan serangan balasan dengan sasaran yang lebih luas.
Bukan hanya pangkalan militer, fasilitas vital seperti pembangkit listrik dan instalasi air bersih ikut menjadi ancaman.
Pesan tersebut disampaikan Iran melalui jalur diplomatik tidak langsung kepada sejumlah pemerintah negara Teluk.
Pejabat kawasan menyebut ancaman itu jauh lebih konkret dibandingkan peringatan-peringatan Iran sebelumnya.
Teheran bahkan mengancam dapat melumpuhkan pasokan listrik di negara-negara Teluk satu per satu.
Fasilitas desalinasi air laut juga disebut berpotensi masuk dalam daftar sasaran jika perang kembali pecah.
Ancaman tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump sempat mempertimbangkan serangan besar terhadap fasilitas energi Iran.
Meski rencana serangan itu akhirnya batal, Iran tampaknya tetap menganggap ancaman Washington sebagai bahaya serius.
Kini negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit karena konflik AS-Iran berpotensi mengganggu listrik, air, hingga pasokan energi dunia.
Baca juga: 6 Bulan Perang dengan Iran, Trump Disebut Makin Terjepit: Harga Bensin Naik, Dukungan Publik Merosot
Mengutip laporan AFP, dua pejabat kawasan mengonfirmasi bahwa pesan Teheran kali ini membawa gertakan yang jauh lebih konkret dibanding sebelum-sebelumnya.
Jika Washington nekat menggempur infrastruktur energi Iran, Teheran berjanji bakal membalasnya dengan meratakan fasilitas serupa di negara-negara Teluk yang dinilai memberi panggung bagi AS.
"Iran mengancam akan mematikan listrik di negara-negara Teluk satu per satu jika Trump menyerang pembangkit listrik mereka," beber salah satu pejabat Teluk yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Sinyal bahaya dari Teheran ini mencuat bukan tanpa alasan. Langkah tersebut merupakan respons atas manuver Presiden AS Donald Trump yang sempat menimbang opsi serangan militer masif ke fasilitas energi Iran skenario yang bahkan sempat digadang-gadang sebagai gempuran terbesar sejak Perang Dunia II.
Rencana gempuran AS itu akhirnya urung dieksekusi. Trump memilih mundur setelah menerima desakan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar yang meminta agar ketegangan ditahan sebelum berubah jadi perang terbuka.
Washington pun saat itu berdalih masih memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Meski serangan AS batal terlaksana, Teheran menganggap ancaman tersebut sebagai alarm serius dan langsung menyiapkan counter-attack setimpal.
Yang bikin negara-negara Teluk makin cemas, daftar target yang disiapkan Iran tidak lagi abstrak. Selain jaringan pembangkit listrik, Teheran dilaporkan telah memasukkan instalasi desalinasi air laut ke dalam daftar sasaran utamanya.
Di wilayah Timur Tengah yang didominasi gurun, pabrik desalinasi adalah urat nadi kehidupan. Jika instalasi pemurni air laut ini sampai lumpuh, dampaknya tak sekadar pemadaman listrik secara meluas, melainkan bencana kemanusiaan akibat terputusnya pasokan air bersih bagi jutaan warga serta matinya sektor industri.
Sikap keras ini mempertegas doktrin "mata ganti mata" yang konsisten diusung Teheran. Gesekan serupa sempat membara pertengahan Juli lalu saat Trump mengancam akan menghancurkan jembatan serta instalasi listrik Iran jika ada kapal yang diganggu di Selat Hormuz. Saat itu, Iran merespons dengan pola ancaman yang sama.
Kondisi di lapangan sendiri kian rawan setelah kesepakatan gencatan senjata yang dirintis April dan Juni lalu resmi runtuh pada Juli.
Sejak saat itu, frekuensi serangan kembali melonjak, terutama di wilayah seperti Kuwait dan Bahrain yang berkali-kali dihantam aksi kelompok bersenjata yang disinyalir disokong Iran.
Kini, negara-negara Teluk terjepit di garis depan eskalasi. Selama negosiasi antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu, kawasan ini berada dalam status siaga tinggi.
Sebab jika tombol gempuran benar-benar ditekan, dampaknya tak cuma meruntuhkan stabilitas Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengacak-acak pasokan energi global.
(TribunNewsmaker.com/Serambinews)