5 Populer Internasional: Iran Akan Larang Kapal AS Lewati Hormuz - Penembakan Massal di Thailand
Garudea Prabawati August 08, 2026 08:38 AM

Parlemen Iran mengkaji usulan melarang kapal yang terkait AS dan Israel melintasi Selat Hormuz hingga Iran menerima kompensasi perang. 

Sementara itu, insiden penembakan di sekolah Thailand menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai beberapa lainnya.

1. Di Bawah Kesepakatan dengan Oman, Iran Akan Larang Kapal-kapal AS dan Israel Lewati Selat Hormuz

Parlemen Iran dikabarkan sedang meninjau proposal untuk melarang kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara lain yang dicap sebagai "musuh" untuk melintasi Selat Hormuz.

Proposal tersebut juga akan mengenakan biaya hingga 7 persen dari nilai kargo terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi jalur air strategis tersebut.

Kapal-kapal yang melanggar ketentuan Iran dapat dikenai denda hingga 20 persen dari nilai kargo mereka.

Langkah ini muncul ketika Iran menyatakan tengah menyelesaikan kesepakatan dengan Oman terkait rute pelayaran di Selat Hormuz.

Menurut media pemerintah Iran, kapal-kapal akan masuk melalui koridor utara di dekat pantai Iran dan keluar melalui koridor selatan di dekat pantai Oman.

Oman belum memberikan komentar publik mengenai kesepakatan yang dilaporkan tersebut.

Namun, AS membantah karakterisasi Iran mengenai perjanjian itu.

"Rute sementara apa pun akan tanpa hambatan apa pun, artinya tidak ada persetujuan atau izin dan tidak ada bea atau biaya," kata seorang pejabat AS kepada NPR.

"Selat Hormuz adalah jalur air internasional dan tidak ada pihak yang mengendalikan jalur maupun hak untuk melintasinya."

Baca selengkapnya >>>

2. Trump Ancam Iran dengan Serangan Terbesar sejak Perang Dunia II, Pakar: AS Justru Tidak Siap Perang

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran di tengah mandeknya negosiasi antara kedua negara.

Saat tampil di hadapan media di Ruang Oval pada Senin (3/8/2026) lalu, Trump menyatakan, AS telah menyiapkan serangan yang disebut sebagai yang terbesar sejak Perang Dunia II apabila upaya mencapai kesepakatan dengan Iran gagal.

Meski demikian, Trump mengaku lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomatik daripada harus melancarkan operasi militer berskala besar.

"Kami sudah siap melakukan serangan terbesar sejak Perang Dunia II. Namun saya lebih memilih membuat kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang," ujar Trump, mengutip PBS.

Pernyataan tersebut muncul di tengah perkembangan pembicaraan mengenai pengaturan baru pelayaran di Selat Hormuz yang justru berlangsung antara Iran dan Oman, tanpa melibatkan Amerika Serikat.

Praktisi hubungan internasional sekaligus pendiri Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, menilai ancaman Trump lebih merupakan bagian dari strategi politik domestik dibandingkan sinyal bahwa AS benar-benar siap membuka front perang baru.

Menurut Dina, kemampuan militer Amerika Serikat saat ini tidak berada pada kondisi ideal untuk melancarkan serangan besar terhadap Iran.

Baca selengkapnya >>>

3. Zelenskyy Desak AS untuk Beri Bantuan Militer Tambahan, Trump Balas Dingin: Kami juga Butuh Rudal

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan tanggapan dingin terhadap permintaan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

Terbaru, Zelenskyy meminta tambahan sistem pertahanan udara Patriot dan rudal jarak jauh kepada Trump.

Namun, Trump justru menyebut saat ini AS lebih memprioritaskan membangun kembali cadangan persenjataannya sendiri.

"Kami juga butuh rudal," ujar Trump singkat ketika ditanya mengenai permintaan bantuan senjata dari Ukraina, The Kyiv Independent melaporkan.

Dalam keterangannya, Trump melontarkan kritik terhadap kebijakan pendahulunya, Joe Biden.

Menurut Trump, besarnya volume pasokan militer yang dikirimkan pemerintah AS terdahulu telah menguras persediaan amunisi strategis dalam negeri.

"Biden telah memberikan bantuan amunisi bernilai hingga 300 miliar dolar AS kepada Zelenskyy," klaim Trump.

Ia menambahkan, kondisi tersebut memaksa militer AS saat ini berfokus pada pengisian kembali persenjataan nasional serta mengandalkan stok amunisi yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan.

Ketika ditanya mengenai eskalasi serangan udara Rusia yang kian gencar menyasar target-target sipil di Ukraina, Trump menegaskan posisi AS yang tidak terlibat secara langsung dalam peperangan di Eropa Timur.

Baca selengkapnya >>>

4. 5 Penembakan Massal di Thailand: Terbaru Penembakan Sekolah Tewaskan 7 Orang, Pelaku Akhiri Hidup

Seorang siswa diduga menembak beberapa orang di sebuah sekolah menengah di Thailand pada Jumat (7/8/2026).

Penembakan tepatnya terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Provinsi Nonthaburi, barat laut Bangkok, Thailand.

Insiden penembakan di sekolah Thailand menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai beberapa lainnya.

Juru bicara kepolisian nasional Trairong Phiwphan mengatakan pelaku penembakan juga tewas.

Dengan demikian, korban tewas dalam insiden penembakan di sekolah Thailand tersebut berjumlah tujuh orang.

Sebelum terjadi penembakan massal di sekolah ini, insiden serupa juga pernah terjadi di Thailand.

Dirangkum Tribunnews.com, berikut daftar penembakan massal di Thailand:

1. Penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi

Seorang saksi mengatakan, para siswa bersembunyi di dalam kelas saat mereka mendengar suara tembakan dari gedung lain sebelum petugas polisi mengetuk pintu dan membuka jalan bagi mereka untuk meninggalkan gedung tersebut.

Sekitar satu jam setelah penembakan, orang-orang berdiri di luar sekolah saling menghibur, sementara polisi dan petugas pertolongan pertama berjalan-jalan di dalam sekolah.

Letnan Kolonel Dechrapee Kongdee, komandan polisi provinsi Nonthaburi, membenarkan tersangka penembakan telah mengakhiri hidup.

Baca selengkapnya >>>

5. Tertukar Saat Lahir, Dua Perempuan di China Baru Bertemu Setelah 37 Tahun, Gugat RS Rp6,9 Miliar

Selama hampir empat dekade, Huang Xiaolin dan Li Hui menjalani kehidupan yang mereka yakini sebagai takdir.

Keduanya tumbuh di keluarga yang berbeda, memiliki jalan hidup yang bertolak belakang tanpa pernah menyadari mereka sebenarnya tertukar saat lahir.

Mirisnya, selama 37 tahun itu mereka tinggal hanya sekitar 4 kilometer dari keluarga kandung masing-masing.

Dikutip dari SCMP, kisah yang tengah menjadi soroton publik di China ini bermula dari sebuah kesalahan di Rumah Sakit Rakyat Qingyuan, Provinsi Guangdong, pada Oktober 1989.

Huang Xiaolin dan Li Hui lahir dengan selisih waktu hanya 55 menit.

Berdasarkan akta kelahiran, ibu Li Hui, Chu, melahirkan pada pukul 02.30 waktu setempat, sedangkan ibu Huang Xiaolin, Yu, melahirkan pada pukul 03.25.

Sesaat setelah dilahirkan, kedua bayi sempat diperlihatkan kepada ibu masing-masing sebelum dibawa ke ruang perawatan bayi.

Pada saat itu, rumah sakit belum menggunakan gelang identitas untuk bayi.

Proses identifikasi hanya mengandalkan kartu nama yang diselipkan di dalam kain bedong.

Bagaimana kedua bayi itu bisa tertukar hingga kini belum diketahui.

Baca selengkapnya >>>

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.