SURYA.co.id, SURABAYA – Laut lepas bukan lagi tempat yang asing bagi Ridwan (46).
Sopir truk asal Makassar itu bahkan sudah dua kali menghadapi situasi yang sama-sama mengancam nyawanya, kebakaran kapal di tengah perjalanan laut.
Terbaru, Ridwan menjadi salah satu penyintas kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Minggu (2/8/2026) pagi.
Dalam kejadian itu, ia harus menceburkan diri dari kapal yang terbakar ke laut dari ketinggian sekitar 15 meter.
Selama kurang lebih lima jam, Ridwan terombang-ambing di tengah ombak sebelum akhirnya dievakuasi kapal Pertamina yang melintas di sekitar lokasi.
Anehnya, pengalaman tersebut tak membuatnya mengaku trauma.
Lima hari setelah kejadian, Jumat (7/8/2026) sore, Ridwan justru terlihat santai ketika mendatangi kantor perusahaan pemilik kapal di Jalan Perak Timur, Perak Utara, Pabean Cantian, Surabaya.
Ia datang untuk mengambil uang kompensasi pembelian tiket sebesar Rp 3 juta.
Bagi Ridwan, nominal tersebut bukan perkara utama.
Uang itu setidaknya bisa menjadi bekal untuk ongkos perjalanan pulang ke Makassar, tempat keluarga dan perusahaan jasa pengiriman yang mempekerjakannya menunggu kepulangannya.
Baca juga: Korban KMP Mutiara Sentosa II Terima Kompensasi, Nominal Berbeda
Lebih dari 30 tahun menjadi sopir truk, Ridwan memang terbiasa melakukan perjalanan antarpulau.
Namun, perjalanan dengan KMP Mutiara Sentosa 2 meninggalkan cerita yang sulit dilupakan.
Ridwan mengungkapkan, kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 bukan pengalaman pertamanya menyelamatkan diri dari kapal yang terbakar.
Belasan tahun lalu, ketika masih muda, ia juga pernah menjadi korban selamat dalam kebakaran kapal yang melayani rute Surabaya-Makassar. Ia hanya mengingat nama kapal tersebut, yakni Kapal Mustika, meski tidak ingat pasti tahun kejadiannya.
Yang ia ingat, saat itu Presiden RI masih dijabat Megawati Soekarnoputri.
“Ini pengalaman saya yang kedua menjadi korban selamat kebakaran kapal. Dulu saya lupa tahun berapa. Kalau tidak salah, nama kapalnya Mustika. Rutenya juga Makassar-Surabaya. Saat itu saya sudah bekerja sebagai sopir dan membawa muatan barang antarpulau,” ujar Ridwan saat ditemui SURYA.co.id, Jumat (7/8/2026).
Dalam kejadian pertama tersebut, Ridwan juga menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke laut.
Namun, menurut dia, waktu yang dihabiskan di tengah laut ketika itu tidak selama pengalaman keduanya.
“Saya di air tidak tahu berapa jam saat itu. Tapi tidak selama kejadian yang kedua ini,” katanya.
Ridwan juga membandingkan kondisi perjalanan laut saat dirinya pertama kali mengalami kebakaran kapal dengan situasi transportasi laut saat ini.
Menurutnya, dahulu para sopir truk harus berebut untuk mendapatkan posisi kendaraan di dalam kapal.
Bahkan, persaingan tersebut tak jarang membuat kendaraan saling bersenggolan.
“Dulu kondisi transportasi masih susah. Kami harus berebut naik ke kapal. Kendaraan bisa saling tabrak. Makanya kaca spion sering habis. Saat itu, sesama sopir sebelum naik kapal seperti lawan. Begitu sudah di atas kapal, baru menjadi teman,” tuturnya.
Pengalaman puluhan tahun sebagai sopir truk membuat Ridwan cukup terbiasa melakukan perjalanan laut.
Namun, ia tetap tidak menyangka harus kembali berhadapan dengan situasi serupa belasan tahun setelah pengalaman pertamanya.
Kenangan paling menegangkan justru terjadi pada pagi hari ketika KMP Mutiara Sentosa 2 terbakar.
Saat itu, sebagian besar penumpang berada di area kantin untuk sarapan. Ridwan juga berada di sana dan sedang mengantre makanan.
Karena antrean cukup panjang, ia memilih menunggu sambil menikmati secangkir kopi di dekat jendela.
Tak lama kemudian, suasana berubah.
Namun, Ridwan memilih tetap tenang.
Kopi yang diminumnya baru tandas setengah gelas.
“Sambil ngopi sudah ada orang berteriak bilang kebakaran. Saya lanjutkan ngopi sampai habis. Orang-orang berteriak dan lari-lari, saya tetap ngopi,” ujarnya.
Setelah melihat asap mulai mendekati tempatnya berada, Ridwan baru beranjak mencari pelampung.
“Setelah ada asap, saya pindah dari tempat ngopi dan mencari pelampung. Akhirnya saya naik sendiri,” katanya.
Mendapatkan pelampung bukan berarti Ridwan langsung meninggalkan kapal.
Di tengah kondisi kapal yang mulai dilalap api, ia justru menyempatkan diri melakukan video call dengan bos dan rekan-rekannya di perusahaan.
Melalui panggilan tersebut, Ridwan memperlihatkan kondisi kapal yang sebagian badannya sudah terbakar.
“Setelah sekitar setengah kapal terbakar, saya video call dengan orang kantor. Saya tunjukkan kondisinya dan bilang, ‘Tidak bisa, ini kondisi mobil tidak bisa diselamatkan.’”
Percakapan itu berlangsung hingga Ridwan merasa situasi sudah tidak memungkinkan baginya untuk bertahan lebih lama di atas kapal.
“Saya bilang, ‘Sudah, Bang, karena saya bersiap mau lompat ke air.’ Setelah itu saya matikan HP dan langsung lompat menggunakan pelampung,” tuturnya.
Ridwan kemudian menceburkan diri ke laut dari ketinggian sekitar 15 meter.
Ia segera berenang menjauh dari badan kapal karena khawatir terkena bagian besi kapal yang panas akibat terbakar.
Perjuangan Ridwan belum berakhir setelah berhasil masuk ke laut.
Ombak yang mencapai sekitar tiga meter membuat tubuhnya terus terombang-ambing.
Selama kurang lebih lima jam, ia berusaha mempertahankan diri agar tetap mengapung sambil menunggu pertolongan.
Di tengah kondisi tersebut, Ridwan juga berusaha membantu dua orang lainnya.
Satu di antaranya merupakan sesama sopir, sedangkan seorang lainnya adalah kru kapal.
Keduanya mulai kelelahan setelah cukup lama berada di laut.
Ridwan kemudian berusaha menarik tubuh mereka agar tetap berada di dekatnya.
“Dia sudah kelelahan, mungkin sudah pasrah dan ingin ditinggalkan. Saya tarik lagi dan bilang, ‘Jangan ditinggalkan, ayo kita sama-sama. Kalau takut, pegang saya dulu.’ Akhirnya saya menemukan kapal yang melakukan evakuasi,” katanya.
Selama lima jam berada di laut, Ridwan sadar kepanikan justru bisa membuat tenaga lebih cepat terkuras.
Karena itu, ia memilih tetap tenang dan tidak berenang tanpa arah.
Ia juga berusaha menenangkan dua korban yang berada bersamanya agar tidak semakin panik.
“Kalau saya santai saja, saya bilang ke teman-teman, waktunya belum. Kami masih segar, ngobrol santai dan jangan banyak mengeluarkan tenaga,” ujarnya.
Menurut Ridwan, menghemat tenaga sangat penting ketika berada di tengah laut.
“Kalau kecapaian, otomatis ngos-ngosan dan air bisa masuk. Air asin kalau terminum malah bikin lemas,” katanya.
Setelah sekitar lima jam terombang-ambing, pertolongan akhirnya datang.
Awak kapal Pertamina yang melintas di sekitar lokasi mengevakuasi Ridwan bersama korban lainnya.
Kini, Ridwan bersiap melanjutkan perjalanan pulang ke Makassar.
Baginya, selamat untuk kedua kalinya dari kebakaran kapal menjadi alasan untuk semakin bersyukur.
KMP Mutiara Sentosa 2 milik PT Atosim Lampung Pelayaran terbakar saat melayani rute Surabaya-Makassar dan melintasi perairan utara Kabupaten Sumenep pada Minggu (2/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat sebanyak 238 orang berhasil dievakuasi dalam operasi penyelamatan insiden tersebut.
Namun, lima orang meninggal dunia dalam tragedi tersebut. Mereka yakni Yedi Hendrawan, Rino Eka Putra, Siti Fatimah, Sri Indratmo Wijaya, dan Sari Sukoco.