Pameran Batu Permata Mangga Dua Diserbu Kolektor, Harga Tembus Rp 2,7 Miliar
Dwi Rizki August 08, 2026 08:17 PM

WARTAKOTALIVE.COM, PADEMANGAN - Pameran batu permata dan giok yang digelar di lantai 4 Pasar Pagi Mangga Dua, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, menarik perhatian para kolektor dan pecinta batu mulia. Kegiatan yang berlangsung sejak 3 Agustus dan akan berakhir pada 9 Agustus 2026 itu menghadirkan puluhan pedagang dari berbagai daerah.

Di area pameran, berbagai jenis batu permata dan giok dipajang di etalase kaca. Pengunjung yang datang tampak antusias melihat koleksi batu mulia, sementara sejumlah pedagang melayani calon pembeli yang mencari batu incaran mereka.

Tiga jenis batu permata yang paling banyak diminati pengunjung adalah rubi, safir, dan zamrud. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 5 juta hingga miliaran rupiah, tergantung kualitas, ukuran, tingkat kejernihan, dan kelangkaannya.

Pameran tersebut diselenggarakan oleh Asosiasi Kecubung Amethyst Indonesia (AKAMI). Ketua AKAMI, Chaerullah, mengatakan kegiatan ini merupakan pameran ketiga yang digelar organisasinya setelah sebelumnya berlangsung di Lampung pada 2025 dan Harco Glodok, Jakarta Barat, pada Februari 2026.

"Rencananya dalam setahun kami mengadakan dua sampai tiga kali pameran. Untuk agenda berikutnya kemungkinan masih di wilayah Jabodetabek karena sudah banyak tawaran dari pusat perbelanjaan dan lokasi lainnya untuk menggelar gems fair seperti ini," ujar Chaerullah saat ditemui di lokasi, Sabtu (8/8/2026).

Baca juga: Gedung Bapenda DKI Terbakar, DPRD Desak Pramono Cek Kelaikan Seluruh Gedung Pemprov

Menurut dia, sebanyak 45 tenant ikut berpartisipasi dalam pameran kali ini. Sekitar 70 persen di antaranya merupakan pedagang dari Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, sementara sisanya berasal dari Karawang, Cikarang, hingga pelaku usaha yang berjualan secara daring.

Chaerullah menilai antusiasme masyarakat cukup tinggi. Selama hampir sepekan pelaksanaan, jumlah pengunjung disebut telah menembus lebih dari 2.000 orang.

"Kalau dibandingkan pameran sebelumnya di Harco Glodok yang hanya diikuti sekitar 14 tenant, di sini skalanya lebih besar. Dari hari pertama sampai sekarang pengunjung dan pembeli cukup ramai. Sebagai penyelenggara tentu kami puas melihat respons masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan, mayoritas pembeli batu permata berasal dari kalangan menengah ke atas. Selain rubi, safir, dan zamrud, sejumlah kolektor juga mencari batu mulia langka seperti alexandrite dan chrysoberyl.

"Yang paling sering dicari tetap rubi, safir, zamrud, dan beberapa batu langka lainnya," ujarnya.

Salah satu peserta pameran, Ali Al-Atos, mengaku penjualan selama pameran di Pasar Pagi Mangga Dua lebih baik dibandingkan saat mengikuti pameran di Lampung maupun Harco Glodok.

Menurut Ali, setiap hari terdapat sekitar 10 hingga 15 pembeli yang datang ke stan miliknya dengan nilai transaksi yang beragam.

"Pelanggan saya ada yang datang dari Semarang, Kalimantan, sampai Makassar," kata Ali.

Selain menjual rubi, safir, dan zamrud, Ali juga menawarkan sejumlah batu mulia langka seperti hackmanite, hauyne, alexandrite, dan paraiba tourmaline.

Harga batu-batu tersebut bisa mencapai ratusan juta hingga Rp 2,7 miliar per butir, tergantung ukuran, kualitas, dan tingkat kelangkaannya.

"Biasanya kolektor mencari batu yang tidak umum sebagai pembeda. Selama ini orang hanya mengenal rubi, safir, dan zamrud, padahal masih banyak jenis batu mulia lain yang sangat langka," ujarnya.

Ali memastikan seluruh batu yang dijual telah melalui proses pengujian laboratorium dan dilengkapi sertifikat keaslian.

Menurut dia, keberadaan pameran seperti ini juga membantu memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus meminimalkan potensi penipuan dalam transaksi batu permata.

"Kami bersyukur ada pameran seperti ini. Selain meningkatkan penjualan, masyarakat juga bisa membeli batu yang jelas asal-usul dan keasliannya karena dilengkapi sertifikat," tuturnya.

Kepala Pasar Rawa Bening, Ahmad Subhan, yang turut hadir dalam pameran tersebut mengapresiasi langkah AKAMI dalam mewadahi para pedagang batu permata dan batu akik.

Menurut Subhan, pameran semacam ini dapat menjadi sarana promosi sekaligus edukasi bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan batu mulia Indonesia dari berbagai daerah.

"Saya melihat antusiasmenya cukup tinggi. Bukan hanya pedagang dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah lainnya ikut berpartisipasi," kata Subhan.

Ia berharap komunitas batu akik dan batu permata dapat terus menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menggelar kegiatan serupa, termasuk di Pasar Rawa Bening yang selama ini dikenal sebagai sentra perdagangan batu mulia terbesar di Indonesia.

"Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi wadah promosi serta edukasi bagi masyarakat," ujarnya. (m26)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.