TRIBUNMANADO.CO.ID - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi didesa Lolan, Kecamatan Bolaang Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (08/08/2026).
Karhutla di desa Lolan ini terjadi sejak pukul 13.30 WITA diduga akibat puntung rokok yang dibuang sembarang ke rumput atau semak yang sudah kering.
Hal ini juga tercatat dalam laporan harian Pusdalops BPBD Bolmong pada Sabtu 8 Agustus 2026.
"Karhutla ini juga semakin menjadi akibat kencangnya tiupan angin dilokasi kejadian sehingga menyulut dan membakar rumput secara tidak terkendali," ucap Kepala Pelaksana BPBD Bolmong Chandra Mokoginta.
Dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa.
Namun, upaya yang dilakukan setelah mendapat laporan tim langsung turun melakukan upaya pemadaman lahan yang terbakar.
"Hingga kini Satgas karhutla masih melakukan upaya pemadaman, kencangnya angin yang ada di lokasi, membuat api sulit untuk dipadamkan," tambahnya.
Akibat karhutla ini, BPBD juga menurunkan 1 unit Damkar Bolmong, 1 unit mobil Pick Up L300 BPBD, dan 5 unit Jet Shooter.
"Personil dilapangan dari BPBD, Damkar Bolmong, TNI Polri dibantu masyarakat setempat," singkatnya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini puncak musim kemarau disertai El Nino di Sulawesi Utara (Sulut).
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Aris Yunatas mengungkapkan, Bulan Agustus merupakan awal puncak musim kemarau yang sudah berlangsung sejak Mei.
Musim kemarau 'diperparah' karena diiringi fenomena alam El Nino yang memasuki fase sangat kuat pada Bulan Agustus hingga Oktober.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga musim kemarau cenderung lebih kering dan lebih panjang.
Dampak El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta penurunan hasil pertanian akibat minimnya curah hujan.
BMKG mengelompokkan El Nino berdasarkan tingkat kekuatannya.
"Kondisi yang terjadi saat ini perlu mendapatkan perhatian semua pihak karena musim kemarau yang disertai El Nino. Karena itu kemarau bakal lebih panjang dan berdampak kekeringan," kata Aris saat pemaparan antisipasi dampak bencana hidrometrologi di musim kemarau - El Nino 2026 di BMKG Stasiun Klimatologi Sulut, Paniki Atas, Kecamatan Talawaan, Minahasa Utara, Rabu 5 Agustus 2026.
Dijelaskannya, fenomena El Nino yang sangat kuat bersamaan dengan musim Kemarau mennyebabkan hari tanpa hujan semakin panjang
BMKG memprediksikan semua wilayah Sulawesi Utara tidak akan mengalami hujan selang Agustus hingga September.
"Kemungkinan hujan baru terjadi pada Bulan Oktober seiring berakhirnya musim kemarau. Meskipun demikian bisa bergeser karena masih ada El Nino," katanya lagi.
Berdasarkan pengamatan, puncak kemarau di Sulawesi Utara berbeda berdasar zona musim.
Di mana, puncak kemarau wilayah Minahasa raya dan sebagian kepulauan pada Agustus. Sementara, puncak kemarau di Bolmong raya nanti pada Bulan September.
"Puncak kemarau, tidak ada hujan dengan tingkat curah hujan nol hingga 20 milimeter per bulan," jelasnya.
Lanjutnya, berdasarkan pengamatan sepanjang Juli sebagian besar wilayah Sulut tidak mengalami hujan hampir satu bulan.
Menurutnya, fenomena El Nino kategori sangat kuat saat ini berdampak lebih besar dan punya potensi lebih besar dibanding El Nino tahun 2023 dengan kategori kuat.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini