SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Diduga menjadi korban kekerasan oleh oknum pengajar di sekolahnya, seorang santri berinisial RFA (14) mengalami trauma berat hingga enggan kembali beraktivitas di sekolah.
Orang tua korban kini berencana memindahkan sang anak ke sekolah lain demi memulihkan kondisi mentalnya.
Ayah korban, Lukmanul Hakim (42), mengungkapkan bahwa insiden pemukulan yang menimpa anaknya terjadi di sebuah sekolah berbasis Islam di kawasan Jakabaring, Kecamatan Rambutan, Banyuasin. Sejak peristiwa tersebut, RFA belum pernah lagi masuk sekolah.
"Saya sudah izin ke sekolah. Semenjak kejadian anak saya tidak masuk, masih trauma berat apalagi waktu dia dipukuli semua teman sekelasnya lihat. Jadi dia juga malu," ujar Lukmanul saat dijumpai di kediamannya di Jalan Macan Lindungan, Lorong Sejahtera IV, Kecamatan Ilir Barat I, Sabtu (8/8/2026).
Rasa malu karena menjadi perhatian teman-temannya setelah kejadian tersebut juga membuat anaknya semakin sulit kembali ke sekolah.
Keluarga sedang mempertimbangkan untuk memindahkan RFA ke sekolah lain.
Lukmanul mengatakan, saat ini ia mulai mengenalkan lingkungan sekolah baru kepada RFA sebagai salah satu upaya agar kondisi mental anaknya perlahan pulih dan kembali percaya diri.
"Kami mau pindahkan. Sekarang sambil mengenalkan tempat sekolah baru supaya mental dia lebih kuat lagi," ujarnya.
Lukman menjelaskan anaknya bahkan dipukul sebanyak dua kali sehingga terdorong mundur sekitar empat langkah dan akhirnya terduduk.
"Anak saya dipukul sebanyak dua kali sehingga terdorong mundur kurang lebih empat langkah terduduk. Karena takut, anak dipaksa berdiri, mau tidak mau dia berdiri setelah dipukul," ujarnya.
Ia sangat menyayangkan kejadian tersebut dapat terjadi di lingkungan sekolah.
Akibat kejadian tersebut, Lukmanul menyebut kondisi mental anaknya terganggu. RFA disebut mengalami trauma, terlebih dugaan kekerasan itu terjadi dan disaksikan oleh santri maupun teman-teman sekelasnya.
"Masalahnya dalam hal ini anak saya dirugikan. Mental anak saya trauma berat. Di satu sisi anak saya bercita-cita ingin mendapatkan ilmu agama yang dalam," tambahnya.
Pihak sekolah baru mendatangi rumahnya setelah dua hari dari kejadian dan pada saat itu juga dari keterangan yang ia dapat, pihak yayasan mengeluarkan oknum ustadz tersebut.
"Kejadian hari Sabtu pihak sekolah datang hari Senin-nya, ada permintaan maaf dari pihak yayasan. Dan si terlapor juga mengakui pemukulan terjadi hanya karena anak saya melihatnya memukul temannya, tapi dikira oleh terlapor itu seperti mau menantang," tuturnya.
Kasus tersebut kini dalam penyelidikan dan proses hukum di kepolisian tepatnya di Subdit II Ditres PPA dan PPO Polda Sumsel.
"Saya serahkan semuanya ke pihak kepolisian bagaimana kelanjutan proses hukumnya, " tandasnya.