Berawal dari Cosplay, Kini Jadi Pekerjaan Sampingan Para 'Hantu' di Asia Afrika Bandung
Kemal Setia Permana August 09, 2026 12:44 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - BAGI sejumlah cosplayer, menjadi hantu di jalan kini bukan sekadar hobi atau aktivitas untuk bersenang-senang. 

Kegiatan itu berubah menjadi pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penghasilan.

Salah satunya Andi (46), yang dikenal sebagai Nene Lampir. Warga asal Soreang ini telah aktif menjadi “hantu” selama satu windu. 

Pendapatan yang terkumpul, tak hanya menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Andi menyisihkan penghasilan tersebut hingga akhirnya bisa membeli mesin obras dan memulai usaha konfeksi di Soreang.

"Hasil dari sini aku kumpulin itu bisa dibikin usaha. Alhamdulillah, aku beli mesin. Jadi di daerah saya memang ramai yang buka usaha konfeksi, sekarang masih berjalan dan ini (cosplayer) jadi usaha sampingan,” ujarnya, saat berbincang dengan Tribun Jabar, Sabtu (8/8/2026). 

Baca juga: Deden Ciptakan Kapal Selam 15 Meter dari Bambu dan Kertas Bekas Semen Untuk Karnaval 17 Agustus

Andi mengatakan usaha yang dilakoninya kini buah dari ikhtiarnya. Pasalnya, tidak ada tarif yang ditetapkan untuk wisatawan yang ingin berfoto.

"Seikhlasnya saja. Kita enggak ada tarif-tarif," ujarnya.

Besaran uang yang diberikan pengunjung pun berbeda-beda.

Ada yang memberikan Rp2.000, Rp5.000 hingga Rp10.000. Namun, sesekali ada wisatawan yang memberikan Rp50.000 bahkan Rp100.000.

"Ya, bagaimana rezekinya kita. Alhamdulillah ada saja," kata Andi.

Meski hanya sekedar sampingan, Andi tetap giat untuk datangnmenjadi cosplayer hantu. 

Saat akhir pekan, aktivitas mereka dimulai sejak pagi sekitar pukul 08.00. Sementara pada hari biasa, mereka mulai sekitar pukul 15.00 hingga tengah malam. Kini, sistem kerja mereka dibagi menjadi dua shift.

Kini penghasilan dan jadwal mereka tidak lagi seperti dulu. Ada tiga komunitas yang beraktivitas di kawasan tersebut, dan masing-masing hanya mengeluarkan sekitar 15 karakter dalam satu waktu. Karena itu, mereka harus bergantian.

Bagi Sandi, menjadi cosplayer berawal ingin menambah uang jajan untuk sekolah. 

Dia berpenampilan layaknya hantu dengan rambut hitam panjang dan tudung hitam yang menutupi sebagian kepalanya. 

Wajahnya dipoles putih dengan lingkaran hitam di sekitar mata, garis-garis hitam menyerupai lelehan di bawah mata, serta taring yang terlihat dari mulutnya.

Tangannya diangkat ke depan dengan jari-jari terbuka, seolah sedang menerkam orang yang berada di hadapannya.

Pria berusia 18 tahun ini baru beberapa bulan bergabung. Karakternya menyerupai malaikat maut dengan makeup yang dibuat sendiri.

"Kalau saya sendiri buat bekal-bekal sekolah. Masih sekolah di SMK Medikacom, Bandung,” katanya.

Baca juga: Gempa 4,1 Magnitudo Kembali Guncang Pangandaran, Warga Tidak Rasakan Getaran

Sandi mengaku tak memiliki bakat merias wajah. Awalnya dia sempat diajari anggota lain, tetapi setelah satu atau dua hari, sudah bisa melakukan makeup sendiri.

“Kalau makeup-nya yang sulit paling setengah jam, yang hantu-hantu giginya keluar itu. Kalau ini sederhana, 10 menit juga udah siap,” tuturnya. 

Berbeda dari Sandi atau Andi, Alga (23), pemeran Wewe Gombel, juga bekerja sebagai tukang gali kuburan di TPU Maleer. 

Saat cosplay, dia mengenakan baju panjang berwarna putih yang telah berwarna gelap dengan bagian luar merah kecokelatan yang dibuat lusuh. 

Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai hingga menutupi sebagian wajah. Wajahnya dicat putih pucat, dengan riasan hitam tebal di sekitar mata dan dahi. 

Bibirnya diberi warna merah, membuat ekspresinya terlihat semakin menyeramkan.

Alga menuturkan, penghasilan dari menjadi cosplayer tidak selalu bisa diprediksi. Ada hari ketika kawasan ramai dan banyak wisatawan datang. Ada pula saat jalanan sepi.

Karena tidak ada tarif khusus, jumlah uang yang dibawa pulang bergantung pada pemberian pengunjung.

Meski begitu, Alga dan rekan-rekannya kini juga memanfaatkan TikTok untuk melakukan siaran langsung.

Dari live tersebut, mereka tidak hanya mendapatkan gift dari penonton, tetapi juga menarik orang untuk datang langsung ke Asia Afrika.

"Kadang kita juga kedatangan tamu ke sini. Viewers-viewers TikTok kebanyakan datang," kata Alga.

Media sosial akhirnya ikut membuka jalan baru bagi para cosplayer di Kota Bandung untuk mendapatkan penghasilan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.