Ijazah Sarjana Tak Menjamin Kerja, Kisah Anggraini Bertahan di Tengah Ketatnya Persaingan
taryono August 09, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Ijazah sarjana yang diraih Anggraini pada 2017 belum menjadi jaminan dirinya mendapatkan pekerjaan yang stabil.

Baca juga: Pemprov Lampung Dorong Pesantren Adaptif Hadapi Era Digital dan AI

Lulusan Program Studi Manajemen Informatika DCC Lampung itu pernah bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan distributor barang pecah belah di kawasan Sukabumi, Bandar Lampung.

Namun, setelah sekitar tiga tahun bekerja, Anggraini kembali kehilangan pekerjaan. Sejak saat itu, ia harus berulang kali mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Kisah Anggraini menjadi gambaran perjuangan sebagian pencari kerja dalam menghadapi ketatnya persaingan di pasar tenaga kerja.

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, jumlah pengangguran terbuka dari kalangan lulusan perguruan tinggi, mulai D-IV, S1, S2 hingga S3, mencapai 1,03 juta orang atau sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta penganggur nasional.

Jumlah tersebut jauh melampaui kelompok diploma (D-I hingga D-III) yang berada di kisaran 180.000 orang atau 2,48 persen.

Dari sisi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan jenjang pendidikan, kelompok sarjana dan diploma IV mencatatkan TPT sebesar 5,38 persen. Angka tersebut menempatkan kelompok perguruan tinggi sebagai penyumbang TPT tertinggi ketiga secara nasional, setelah lulusan SMK sebesar 8,45 persen dan SMA sebesar 6,55 persen.

Di Provinsi Lampung, kondisi serupa juga terlihat dari tingkat pendidikan para penganggur.

Pada Mei 2026, TPT tertinggi justru berasal dari lulusan diploma dan universitas. Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT kelompok Diploma dan Universitas mencapai 7,92 persen.

Sebaliknya, TPT terendah berada pada kelompok pendidikan SD ke bawah, yakni sebesar 1,47 persen.

Perjuangan Mendapatkan Pekerjaan

Di tengah kondisi tersebut, Anggraini menceritakan perjalanan panjangnya mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan pada 2017.

Ia mengaku tidak langsung mencari pekerjaan setelah lulus kuliah karena harus mendampingi orangtuanya menjalani pengobatan kanker di Jakarta.

"Setelah orangtua saya dinyatakan sembuh dari penyakitnya, kami pulang ke Bandar Lampung," kata Anggraini.

Namun, kepulangannya ke Bandar Lampung bertepatan dengan masa pandemi Covid-19.

Pembatasan aktivitas masyarakat saat itu membuat ruang geraknya semakin terbatas. Meski demikian, kondisi ekonomi keluarga membuat Anggraini bertekad untuk segera mendapatkan pekerjaan.

Saat itu, kedua orangtuanya sudah tidak bekerja, sementara adiknya masih menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

Ia pun mulai mengirimkan lamaran ke berbagai tempat, mulai dari perbankan, perusahaan hingga sektor ritel.

Namun, mendapatkan pekerjaan tidak semudah yang dibayangkan.

"Mulai dari bank sampai perusahaan dan retail, saya masukkan lamaran, tetapi tidak ada balasan," ujarnya.

Keterbatasan dalam mengendarai kendaraan bermotor juga menjadi tantangan tersendiri bagi Anggraini.

Untuk mengantarkan surat lamaran, ia terkadang harus meminta bantuan teman. Jika tidak ada yang bisa mengantar, ia terpaksa menggunakan angkutan umum maupun ojek online.

Dalam sekali perjalanan untuk mengantar lamaran, ia bisa mengeluarkan sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu untuk ongkos perjalanan.

Biaya tersebut belum termasuk mencetak surat lamaran, membeli amplop cokelat dan kebutuhan lainnya.

"Kadang bisa sampai Rp50 ribu untuk sekali mengantar surat lamaran," tuturnya.

Mendapat Pekerjaan pada 2020

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil pada 2020.

Anggraini menemukan informasi lowongan pekerjaan melalui media sosial Facebook. Sebuah perusahaan distributor barang pecah belah di kawasan Sukabumi membuka lowongan untuk posisi admin.

Ia pun mencoba melamar meski posisi tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Karena tidak dapat mengendarai sepeda motor, Anggraini diantar oleh adiknya untuk memasukkan lamaran.

Ia kemudian mengikuti dua tahapan seleksi, yakni wawancara dan tes keterampilan.

Setelah dinyatakan diterima, Anggraini bekerja sebagai admin dengan gaji sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Bagi Anggraini, besaran gaji saat itu bukan persoalan utama. Ia tetap menjalani pekerjaan tersebut karena ingin membantu perekonomian keluarga.

"Waktu itu gajinya memang sekitar Rp1,5 juta. Walaupun terbilang kecil, saya tetap menjalani pekerjaan itu dengan ikhlas," katanya.

Selama kurang lebih tiga tahun, Anggraini bertahan di perusahaan tersebut.

Namun, pada 2023, kondisi perusahaan mulai mengalami masalah hingga dilakukan pengurangan pegawai. Anggraini menjadi salah satu pekerja yang terdampak.

Sejak saat itu, ia kembali harus menghadapi tantangan mencari pekerjaan.

Persaingan Semakin Ketat

Menurut Anggraini, persaingan mendapatkan pekerjaan saat ini semakin berat.

Salah satu kendala yang ia temui adalah batas usia dalam sejumlah lowongan pekerjaan.

Menurutnya, sejumlah lowongan yang ditemuinya mensyaratkan pelamar berusia di bawah 27 tahun sekaligus memiliki beragam keterampilan.

"Yang menjadi tantangan sekarang banyak pekerjaan yang mencari usia pelamar di bawah 27 tahun, tetapi keterampilannya juga harus bisa semuanya," ujarnya.

Selain faktor usia dan keterampilan, kondisi fisik juga terkadang menjadi hambatan yang ia rasakan ketika mencari pekerjaan.

Anggraini mengaku beberapa lowongan pekerjaan mencantumkan persyaratan terkait bentuk atau postur tubuh pelamar.

"Postur badan saya yang besar juga kadang menyulitkan mencari pekerjaan karena ada perusahaan atau usaha yang mencari orang dengan badan ideal," katanya.

Kini, sembari terus mencari peluang kerja, Anggraini membantu orangtuanya menjalankan usaha pakaian bekas dari rumah.

Ia juga masih menunggu kesempatan untuk mengikuti seleksi calon aparatur sipil negara (CPNS).

Bagi Anggraini, perjalanan mendapatkan pekerjaan tidak berhenti setelah seseorang memegang ijazah sarjana.

Usia, keterampilan, pengalaman, akses transportasi hingga persyaratan tertentu dalam lowongan pekerjaan menjadi tantangan yang harus dihadapi para pencari kerja.

Setelah sempat merasakan dunia kerja dan kemudian kembali kehilangan pekerjaan, Anggraini kini menjalani hari-harinya dengan membantu usaha keluarga sembari menunggu peluang kerja berikutnya.

Bagi dia, mendapatkan pekerjaan bukan lagi sekadar soal memiliki ijazah, tetapi juga tentang terus bertahan dan mencari kesempatan di tengah persaingan dunia kerja.

(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.