Iran Semprot AS dan Sekutunya, Minta Pasukan Asing Segera Angkat Kaki dari Timur Tengah
Wahyu Gilang Putranto August 09, 2026 02:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM – Iran kembali melontarkan kritik keras terhadap kehadiran militer Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya di Timur Tengah. 

Di tengah masih rapuhnya situasi keamanan pascaperang dengan AS dan Israel, Teheran menegaskan bahwa pasukan asing harus segera meninggalkan kawasan karena dinilai menjadi penyebab utama ketidakstabilan regional.

Pernyataan tersebut disampaikan Penasihat Senior Bidang Urusan Internasional untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, melalui akun media sosial X pada Sabtu (8/8/2026). 

Menurutnya, perkembangan terbaru di Timur Tengah menunjukkan bahwa Iran mampu bertahan menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel, sekaligus memperkuat keyakinan Teheran bahwa keamanan kawasan hanya dapat tercipta tanpa campur tangan kekuatan asing.

"Perkembangan terkini mencerminkan ketahanan angkatan bersenjata, keteguhan hati rakyat Iran, dan keberanian Poros Perlawanan," tulis Velayati, dikutip dari Anadolu.

Ia menilai hasil konflik terakhir justru memperlihatkan bahwa keberadaan pasukan asing tidak membawa stabilitas, melainkan memperpanjang ketegangan di kawasan.

"Kekalahan AS dan rezim Zionis memperkuat keyakinan bahwa kekuatan asing, yang menjadi penyebab utama ketidakamanan, harus meninggalkan kawasan ini," lanjutnya.

Pernyataan tersebut kembali menegaskan sikap Iran yang selama ini menolak kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Bagi Teheran, stabilitas kawasan seharusnya dibangun oleh negara-negara di kawasan sendiri tanpa intervensi kekuatan dari luar.

Velayati juga menyerukan agar negara-negara Timur Tengah memperkuat kerja sama regional sebagai fondasi utama dalam menjaga keamanan bersama. 

Menurutnya, semakin erat hubungan antarnegara di kawasan, semakin besar peluang terciptanya perdamaian dan stabilitas jangka panjang.

"Kerja sama yang semakin erat di antaranegara kawasan dapat menjamin keamanan mereka," ujarnya.

Meski demikian, Velayati tidak menjelaskan secara rinci bentuk kerja sama maupun mekanisme keamanan regional yang dimaksud.

Baca juga: Perang Narasi AS-Iran, Pengamat Militer Sebut Donald Trump Sedang Cari Jalan Keluar dari Konflik

Ketegangan Berawal dari Serangan AS dan Israel

Pernyataan keras Iran tersebut muncul ketika situasi keamanan di Timur Tengah masih belum sepenuhnya pulih setelah konflik besar yang pecah pada 28 Februari.

Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer terkoordinasi terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk infrastruktur militer, fasilitas nuklir, dan sektor energi. Operasi tersebut menjadi salah satu serangan terbesar terhadap Iran dalam beberapa tahun terakhir dan memicu eskalasi konflik di kawasan.

Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke berbagai target militer milik Israel maupun Amerika Serikat di sejumlah wilayah Timur Tengah. 

Aksi saling serang tersebut memicu kekhawatiran dunia akan meluasnya perang regional serta meningkatnya ancaman terhadap jalur perdagangan energi internasional.

Sempat Berdamai, Negosiasi Kembali Buntu

Setelah hampir empat bulan diliputi konflik, Iran dan Amerika Serikat akhirnya menyepakati penghentian permusuhan melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada 18 Juni. 

Kesepakatan itu tercapai berkat mediasi Pakistan dan Qatar, sekaligus membuka jalan bagi dimulainya pembicaraan menuju penyelesaian konflik secara permanen.

Namun, proses diplomasi tersebut tidak berlangsung mulus. Negosiasi kembali mengalami kebuntuan setelah kedua negara berselisih mengenai pengaturan keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Perbedaan pandangan mengenai pengelolaan keamanan di Selat Hormuz membuat pembahasan menuju kesepakatan akhir belum mencapai titik temu. 

Di tengah mandeknya proses negosiasi tersebut, pernyataan terbaru Iran yang kembali mendesak agar pasukan asing meninggalkan Timur Tengah diperkirakan akan semakin menambah tekanan dalam hubungan Teheran dengan Washington serta memperumit upaya menjaga stabilitas kawasan.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.