Gelagat Aneh Saepul Pelaku Mutilasi Depok, Dikenal Sebagai Pria Agamis Tiba-tiba Ajukan Resign
Talitha Daren August 09, 2026 05:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Keseharian dan sosok asli Saepul, pelaku pembunuhan serta mutilasi terhadap Kunaefi di Depok, mulai terungkap dari pengakuan bosnya.

Sebelum diamankan polisi, pria berusia 26 tahun tersebut diketahui bekerja sebagai penjaga stan pisang cokelat di Stasiun Pondok Cina, Depok.

Saepul mulai bekerja di stan Piscok Selamat Pagi milik Dwi Purwadi sejak Mei 2026.

Selama bekerja, Saepul dikenal sebagai pegawai yang sopan, baik, dan tidak pernah menunjukkan perilaku yang membuat bosnya curiga.

Dwi bahkan menilai Saepul sebagai sosok pemuda yang cukup agamis berdasarkan cara berbicara dan berkomunikasi sehari-hari.

Namun, penilaian tersebut berubah setelah Dwi mengingat adanya perilaku berbeda yang ditunjukkan Saepul menjelang kasus pembunuhan terjadi.

Sehari sebelum peristiwa, tepatnya pada 22 Juli 2026, Saepul tiba-tiba meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan hendak mengikuti wawancara pekerjaan di sebuah gerai makanan di Margo City.

Saat itu, Dwi mengaku tidak menaruh kecurigaan karena menganggap alasan tersebut sebagai hal yang wajar.

Namun, sehari berikutnya pada 23 Juli 2026, Saepul kembali menunjukkan sikap yang membuat bosnya bertanya-tanya karena mendadak menyampaikan keinginan untuk mengundurkan diri.

Saepul bahkan mengirimkan pesan pengunduran diri kepada Dwi, tepat sebelum rangkaian kasus pembunuhan dan mutilasi Kunaefi terungkap.

Baca juga: Sosok Saepullah, Pelaku Mutilasi di Depok yang Bunuh Teman Karena Ingin Motor, Peserta Lomba Dangdut

Dikenal Sosok Pemuda Agamis

"Kata-katanya (Saepul) juga selama saya dengar bukan yang kata-kata kotor banget. Bukan yang toxic banget kayak gitu loh. Even kalau dia kaget pun kata-katanya yang ke agamis, kayak Allahu Akbar gitu. Bahkan di chat pun dia masih termasuk yang sopan ya pakai assalamualaikum mas, kayak gitu," akui Dwi.

Kendati demikian, Dwi menangkap adanya gelagat tak wajar yang diperlihatkan Saepul satu hari sebelum peristiwa.

Yakni pada tanggal 22 Juli 2026, Saepul tiba-tiba izin tidak masuk kerja ke bosnya.

Kala itu alasan Saepul adalah hendak mengikuti wawancara kerja di food court gerai UMKM Nasi Goreng di Margo City.

"Pas tanggal 22 Juli itu pagi dia bilang ada interview di food court Margo City. Posisinya itu nasi goreng ya (lowongan jadi pegawai)," ujar Dwi.

Sekilas Dwi tak curiga dengan hal tersebut.

Baca juga: Potongan Tubuh Korban Mutilasi di Kios Ayam Goreng Ditemukan, Peran Dua Terduga Pelaku Diselidiki

MUTILASI DEPOK - Tim Inafis Polri melakukan olah TKP kasus mutilasi di wilayah Cipayung, Depok, Rabu (5/8/2026). Sebuah rumah kontrakan berlantai dua didatangi polisi dan Tim Inafis Polri.
MUTILASI DEPOK - Tim Inafis Polri melakukan olah TKP kasus mutilasi di wilayah Cipayung, Depok, Rabu (5/8/2026). Sebuah rumah kontrakan berlantai dua didatangi polisi dan Tim Inafis Polri. (Tribun Trends/Tribun Depok/M Rifqi Ibnumasy/Tribun Depok/M Rifqi Ibnumasy)

Mendadak Resign

Namun keesokan harinya yakni pada 23 Juli 2026, Saepul menunjukkan perilaku aneh.

Saepul mendadak ingin resign dan mengirimkan chat pengunduran diri ke bosnya.

Dwi menyebut Saepul tiba-tiba ingin keluar dari pekerjaan tanpa alasan yang jelas.

Padahal Saepul hingga kini masih punya utang kasbon sebesar Rp200 ribu.

Setelah itulah Dwi tak pernah melihat lagi sosok Saepul.

Hingga pada 5 Agustus 2025, Saepul ditangkap kepolisian Polda Metro Jaya atas kasus pembunuhan dan mutilasi Kunaefi.

Sebelum ditangkap, Saepul sempat kabur ke wilayah Pandeglang, Banten.

Baca juga: Marbot Masjid di Purwakarta Dibacok Saat Hendak Kumandangkan Adzan Dhuhur, Penyebab Diduga Sepele

PELAKU MUTILASI - Sosok Saepullah pelaku mutilasi di Depok. (Tribun Trends/Dok. Resmob Polda Metro Jaya via Kompas.com)

Motif dan pengakuan tersangka

Untuk diketahui, Saepul membunuh Kunaefi di kontrakannya di Jalan Belimbing RT 03/RW 05, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok pada Kamis (23/7/2026).

Belakangan motif pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Saepul terungkap.

Kepada penyidik, Saepul menceritakan alasannya tega menghabisi nyawa ayah dua anak itu.

Sempat kabur ke kawasan Banten, Saepul mengurai pengakuan mengejutkan ke penyidik.

Saepul mengaku bahwa ia mengenal korban kenal lewat aplikasi kencan khusus gay alias penyuka sesama jenis.

Setelah kenalan, Saepul tergiur dengan sepeda motor yang ada di foto Kunaefi karena motor tersebut adalah impiannya.

"Korban usia 51 tahun, awalnya pelaku ini berkenalan dengan korban melalui aplikasi kencan namanya Hornet. Pelaku berkenalan dengan korban dan saat saling bertukar foto, pelaku melihat ada motor yang dimiliki oleh korban dan motor itu adalah motor yang diidam-idamkan oleh pelaku," ungkap Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin.

Dari sanalah muncul niatan Saepul ingin bertemu Kunaefi guna menguasai sepeda motor miliknya.

Saepul lalu mengajak Kunaefi bertemu di kontrakannya.

Namun pertemuan Saepul dengan Kunaefi justru dipenuhi cekcok.

Diakui Saepul, ia mengajak Kunaefi untuk berhubungan badan sesama jenis.

Tapi permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh korban sehingga memantik amarah Saepul.

"Karena ketertarikan terhadap motor tersebut, ingin menguasai kendaraan yang dimiliki korban, korban diundang oleh pelaku ke kontrakannya. Di sanalah terjadi pembunuhan yang dilakukan pelaku," ujar Kombes Pol Iman Imanuddin.

"Pelaku dari awal sudah mempersiapkan diri untuk mengambil barang yang dimiliki korban. Ada pemicu yang terjadi, saat pelaku meminta kendaraannya, sempat terjadi pertengkaran karena pelaku diajak berhubungan disorientasi seksual, karena terjadi ketegangan, terjadi pertengkaran," sambungnya.

Saepul yang emosi langsung mengambil pisau di dapurnya lalu menusuk korban.

Tak puas, Saepul memutilasi Kunaefi hingga menjadi beberapa bagian.

"Pelaku mengambil pisau dari dapur dan melakukan penusukan ke bagian perut korban. Kemudian untuk menghilangkan jejak, pelaku memotong bagian dari tubuh korban," kata Kombes Pol Iman Imanuddin.

Adapun niatan untuk membunuh, Saepul rupanya sudah menceritakan hal tersebut ke temannya.

Saepul begitu ingin memiliki motor PCX dan rela melakukan hal apapun asal bisa memperolehnya.

"Saat ditanya (bagaimana cara dapat motor PCX), katanya (Saepul) 'Enggak tahu, mungkin membunuh orang,' begitu salah satu kalimat yang diucapkan oleh pelaku," imbuh Katimsus 2 Unit 1 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono.

Akibat perbuatannya, Saepul terancam dijerat dengan Pasal 458 dan 459 KUHP tentang pembunuhan biasa dan berencana, dengan ancaman penjara paling lama 20 tahun.

(TribunTrends.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.