Update Kebakaran Gunung Bromo, Luas Kawasan Terbakar Capai 520 Ha, Hot Spot Masih Keluarkan Asap
Amalia Husnul A August 09, 2026 11:10 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus menunjukkan penyebaran yang mengkhawatirkan.

Luas kawasan Gunung Bromo yang terbakar kini dilaporkan mencapai sekitar 520 hektare, sementara titik api (hot spot) di area Pusung Ledok Bedor masih terpantau mengeluarkan asap hingga Sabtu (8/8/2026).

Minggu (9/8/2026) Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, turun langsung meninjau kondisi kawasan terdampak yang kini telah meluas hingga ratusan hektare.

Ia menjelaskan bahwa kobaran api yang terlihat semakin masif pada malam hari sebenarnya bukan munculnya titik api baru, melainkan pergerakan dari bara yang tersisa.

"Kalau yang tadi malam itu ada lanjutan dari yang lama. Jadi penyebarannya itu kelihatan meluas, bukan titik baru," imbuhnya.

Tantangan Bara Tersembunyi di Musim Kemarau

Menurut Wagub Emil, keberadaan api kecil dan bara yang masih tersisa di dalam kawasan hutan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Bara tersebut berpotensi besar menyala kembali saat diterpa hembusan angin.

"Di hutan itu mungkin masih ada api-api kecil yang apabila terpicu oleh angin akan menyala lagi, dan menyambar ke alang-alang yang kering," ujar Wagub Emil.

Oleh karena itu, pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan penyiraman pada kobaran api yang terlihat secara kasat mata, tetapi harus benar-benar memastikan kawasan sudah steril dari bara.

"Apalagi kebakaran terjadi saat musim kemarau. Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menjalar apabila kembali mendapat hembusan angin," katanya.

Update Luasan Lahan dan Kondisi Hot Spot

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat data luasan lahan terbakar yang masih terus dikompilasi.

Kebakaran yang terjadi sejak Senin (3/8/2026) tersebut mencakup kawasan Gunung Bromo Watu Gede di Kabupaten Probolinggo dan kawasan TNBTS Jantur di Kabupaten Malang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari atau Aam mengatakan, berdasarkan pendataan terkini, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 176,20 hektare.

Terkait titik api, Aam dalam Siaran Pers BNPB, Minggu (9/8/2026) memastikan bahwa titik api di jalur Jemplang menuju Watu Gede, Kabupaten Malang, sudah berhasil dikondisikan.

"Titik api tersebut telah dikondisikan oleh tim darat sehingga saat ini tidak terdapat lagi titik api di lokasi tersebut," kata Aam.

Namun, tim gabungan masih fokus memantau titik api lainnya. "Adapun hot spot masih terpantau mengeluarkan asap di area Pusung Ledok Bedor. Kondisi cuaca di wilayah Bromo terpantau cerah dengan kecepatan angin sedang," kata dia.

Hingga pukul 21.30 WIB malam tadi, tim gabungan masih berjibaku memadamkan api yang mendekati ruas Jalan Lintas Jawa Timur (JLKT).

"Tim gabungan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi perubahan arah atau penyebaran api akibat kondisi medan dan angin," imbuhnya.

Penanganan Darat dan Udara Dikerahkan

Penanganan dilakukan secara maksimal melalui operasi darat dan udara. Di darat, tim gabungan yang terdiri dari BNPB, BPBD Jatim, BPBD Probolinggo, BPBD Malang, TNBTS, Polhut, Perhutani, TNI, Polri, hingga relawan dan masyarakat, menggunakan satu unit truk pemadam, metode manual gepyok, serta sprayer.

Untuk mencapai area yang sulit dijangkau, dua unit helikopter dikerahkan dengan masing-masing kapasitas angkut air 1.000 liter.

Satu helikopter dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Puspenerbal TNI AL, dan satu lagi merupakan armada BNPB.

"Penanganan di lapangan masih menghadapi kendala berupa kontur lereng Kaldera Bromo yang terjal, kondisi angin, serta lokasi titik api yang berada di kawasan hutan dengan akses yang sulit dijangkau petugas pemadam darat," kata Aam.

"Kondisi tersebut menyebabkan operasi udara menjadi salah satu upaya penting untuk menjangkau area yang tidak dapat diakses secara optimal melalui jalur darat," imbuhnya.

Hingga saat ini, tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.

Adapun sebagai langkah pengamanan, Balai Besar TNBTS telah melakukan penutupan sementara pintu masuk wisata dari arah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang sejak Senin (3/8/2026) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

"BNPB bersama seluruh unsur terkait akan terus melakukan pemantauan dan penanganan secara terpadu, baik melalui operasi darat maupun udara, untuk mengendalikan titik api dan mencegah kebakaran meluas ke wilayah lainnya," pungkas Aam.

Baca juga: Hotspot Dipantau Real Time, Polres PPU Perkuat Deteksi Dini Karhutla Lewat Aplikasi Lembuswana

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.