Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Sayembara Rp 100 juta yang dibuka Denny Indrayana untuk persoalan ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat respons keras dari pengamat politik asal Cirebon, Heru Subagia.
Heru justru balik menantang Denny Indrayana dengan hadiah yang lebih besar, yakni Rp 250 juta.
Tantangan tersebut disampaikan Heru saat berbincang dengan media, di Kota Cirebon, Jawa Barat, Minggu (9/8/2026).
Heru, yang merupakan alumni Fisipol UGM mengaku, tertarik menanggapi langkah Denny Indrayana yang membuat sayembara terkait ijazah SMA Gibran.
"Sangat menarik untuk menanggapi tawaran Rp 100 juta bagi Gibran jika menunjukkan ijazah SMA-nya yang dilakukan Denny Indrayana. Laki-laki profesor ini kembali dan mencoba mengeksploitasi Gibran dan ijazahnya," ujar Heru.
Diketahui, Denny Indrayana melalui unggahan di akun Facebook pribadinya mengumumkan sayembara Rp 100 juta bagi siapa saja yang dapat menunjukkan ijazah asli SMA atau sederajat milik Gibran.
Baca juga: Dukung tapi Kritis, Sikap Tegas Permahi ke Pemerintahan Prabowo-Gibran Seusai Aklamasi di Cirebon
Baca juga: Kagama Cirebon Raya Temui Jokowi, Isu Ijazah Gibran Dibalas Gelak Tawa di Solo
Dalam unggahan tersebut, Denny menyatakan akan berhenti meminta Gibran mundur apabila Gibran dapat menunjukkan ijazah asli SMA atau sederajat.
Sebaliknya, apabila ijazah tersebut tidak dapat ditunjukkan, Denny meminta Gibran mundur secara legowo.
"Siapapun yang bisa menunjukkan ijazah asli SMA/sederajat Mas Gibran, akan saya beri hadiah 100 juta Rupiah," demikian isi unggahan Denny sebagaimana terlihat dalam materi yang beredar.
Unggahan tersebut juga disertai poster bertuliskan 'SAYEMBARA Rp 100.000.000 UNTUK IJAZAH SMA GIBRAN' serta tautan video YouTube yang menjelaskan mengenai sayembara tersebut.
Heru Tantang Balik Denny Indrayana
Alih-alih menerima begitu saja sayembara tersebut, Heru justru mengajukan tantangan balik kepada Denny.
Heru meminta Denny menjawab secara jujur mengenai latar belakang aksinya yang secara langsung menyoroti Gibran.
Ia mempertanyakan apakah langkah tersebut berkaitan dengan posisi dan popularitas politik Gibran.
"Saya tidak main-main juga untuk memberikan tantangan kepada Profesor Denny Indrayana untuk mengatakan jujur sejujur-jujurnya, apakah aksi yang ditujukan langsung ke Gibran tidak ada hubungannya dengan isu viralnya Gibran menjadi salah satu capres paling populer," ucap Heru.
Pertanyaan kedua yang diajukan Heru berkaitan dengan alasan Gibran terus menjadi sasaran kritik melalui persoalan fakta dan riwayat pendidikannya.
"Yang kedua, apakah maksud dan tujuan Gibran terus diserang dan dijungkirbalikkan melalui fakta-fakta yang seolah-olah Anda bergelar Profesor dalam bidang tata negara, hukum dan sebagainya," jelas dia.
Heru kemudian menaikkan nilai tantangannya.
Ia menyatakan siap memberikan hadiah Rp 250 juta apabila Denny mampu membuktikan bahwa aksinya terhadap Gibran tidak berkaitan dengan dua hal yang dipertanyakannya.
"Tidak ada hubungannya dengan dukungan atau juga pendanaan dari pihak-pihak lain. Jika sampai bisa membuktikan tidak ada keterlibatan dua hal yang tadi saya sampaikan, saya akan memberi hadiah Rp 250 juta," katanya.
Heru bahkan menyebut, uang tersebut sudah tersedia.
"Silakan segera buktikan dan hubungi saya bilamana tuntutan atau tantangan saya dua poin di atas bisa dijawab dengan sebenar-benarnya. Uang cash sudah ada di tabungan, siap untuk ditransfer ke Denny Indrayana," ujarnya.
Kritik Cara Denny Soroti Ijazah Gibran
Heru kemudian melontarkan kritik terhadap penggunaan hadiah uang dalam sayembara yang dibuat Denny.
Menurut Heru, langkah tersebut justru dinilainya merendahkan kapasitas akademik seseorang yang menyandang gelar profesor.
"Indrayana terlalu ceroboh dan mengecilkan dan juga merendahkan gelar Profesor ketika portofolio untuk memaksakan Gibran menunjukkan ijazahnya itu dengan iming-iming hadiah hanya Rp 100 juta," ucap Heru.
Ia menyebut, cara tersebut sebagai bentuk kekosongan intelektual dalam membangun argumentasi.
"Terjadi kekosongan intelektual, sebuah ruangan materi nilai yang dibangunnya tersebut justru merendahkan gelar seorang Profesor," jelas dia.
Kritik Heru semakin tajam ketika menilai cara Denny membangun argumentasi mengenai persoalan ijazah Gibran.
"Portofolio intelektual hangus terbakar oleh kebodohan dan kecerobohan cara berpikir dan penjelasannya," ujar eks Ketua DPD PAN Kabupaten Cirebon itu.
Menurutnya, nilai hadiah Rp 100 juta dalam sayembara tersebut justru menjadi simbol rendahnya nilai argumentasi yang dibangun Denny.
"Miris sekali, hadiah Rp 100 juta telah menghabisi label intelektual dan gelar akademiknya," ucap Heru.
"Kesimpulannya, hasil berpikir dan dialektika Denny Indrayana tentang bagaimana menyerang Gibran melalui ijazah SMA-nya kurang lebih nilainya hanya seharga Rp 100 juta dan nilai keseluruhan integritas sang profesor sangat rendah sekali," sambungnya.
Polemik Ijazah Gibran Pernah Masuk Ranah Hukum
Persoalan mengenai riwayat pendidikan Gibran sebelumnya juga pernah menjadi gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Pada September 2025, warga bernama Subhan menggugat Gibran terkait persoalan persyaratan pendidikan.
Perdebatan tersebut antara lain menyinggung riwayat pendidikan Gibran di luar negeri, termasuk pendidikan di UTS Insearch Sydney serta persoalan penyetaraan pendidikan.
Namun, polemik mengenai ijazah Gibran perlu ditempatkan secara proporsional.
Persoalan mengenai ijazah yang dipertanyakan sejumlah pihak tidak serta-merta berarti ijazah tersebut terbukti palsu.
Dengan demikian, tuduhan mengenai keaslian ijazah Gibran tidak seharusnya ditulis sebagai fakta apabila belum terdapat bukti atau keputusan hukum yang menyatakan demikian.
Perkara terkait syarat ijazah Gibran yang pernah diajukan ke PN Jakarta Pusat juga dinyatakan bukan menjadi kewenangan pengadilan tersebut.
Denny Indrayana dan Polemik Politik
Adapun, Denny Indrayana dikenal sebagai akademisi, advokat, serta pakar hukum tata negara.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Hukum dan HAM pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Denny juga dikenal aktif menyampaikan pandangan mengenai persoalan hukum dan politik melalui media sosial.
Pada 2023, namanya sempat menjadi sorotan setelah menyampaikan informasi mengenai putusan Mahkamah Konstitusi terkait sistem pemilu proporsional tertutup, yang kemudian menjadi polemik.
Kini, melalui sayembara Rp 100 juta terkait ijazah SMA Gibran, Denny kembali menjadi perhatian publik.
Di sisi lain, Heru Subagia memilih merespons dengan tantangan balik Rp 250 juta.
Apakah tantangan tersebut akan mendapat respons dari Denny Indrayana, masih menjadi bagian dari perkembangan polemik ini. (*)