Laporan wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Pagi di lereng Wonosalam terasa berbeda.
Di tengah hamparan kebun kopi Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, warga berkumpul membawa satu pesan sederhana, musim panen telah tiba.
Bukan sekadar memetik buah kopi yang telah memerah, warga terlebih dahulu mengawali musim panen dengan doa.
Di antara pepohonan kopi, mereka berkumpul dalam suasana khidmat, memanjatkan rasa syukur atas hasil bumi yang kembali diberikan alam.
Baca juga: Menilik Tradisi Wiwit Kopi Segunung, Rasa Syukur Warga Kampung Adat Segunung Wonosalam Jombang
Prosesi itulah yang dikenal masyarakat Segunung sebagai Wiwit Kopi.
Tradisi yang berlangsung pada 8-9 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari rangkaian Adat Bumi sekaligus penanda dimulainya musim panen kopi.
Bagi warga, kopi bukan sekadar komoditas perkebunan. Tanaman itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan tumbuh bersama tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketua Kampung Adat Segunung, Supi’i, menjelaskan bahwa istilah wiwit dalam bahasa Jawa berarti memulai. Karena itu, Wiwit Kopi menjadi simbol dimulainya aktivitas panen setelah warga menunggu buah kopi matang di kebun.
"Wiwit Kopi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diperoleh. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari identitas Kampung Adat Segunung karena kehidupan masyarakat sangat dekat dengan lingkungan perkebunan," ucap Supi’i secara terpisah kepada Tribunjatim.com, Senin (10/8/2026).
Di tengah kebun, pemetikan buah kopi menjadi prosesi utama.
Buah kopi yang telah berwarna merah dipetik satu per satu. Gerakan sederhana itu memiliki makna yang lebih dalam bagi masyarakat. Pemetikan pertama menjadi tanda bahwa penantian selama masa tanam telah memasuki babak baru.
Bagi petani, musim panen bukan hanya tentang hasil yang akan dibawa pulang. Di dalamnya terdapat harapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menjaga keberlangsungan perkebunan, sekaligus mempertahankan kehidupan yang selama ini bertumpu pada alam.
Setelah prosesi di kebun selesai, suasana kemudian bergeser menuju Balai Ageng Giri Kedaton.
Hasil panen kopi bersama aneka hasil bumi warga dibawa dalam arak-arakan. Gunungan berisi hasil pertanian dan jajanan pasar turut dihadirkan sebagai bagian dari rangkaian Adat Bumi.
Warga berjalan bersama. Tidak ada sekat antara mereka yang memetik kopi, membawa hasil bumi, maupun yang sekadar mengikuti prosesi. Semuanya melebur dalam satu perayaan.
Di situlah Wiwit Kopi menemukan maknanya yang lain: tradisi menjadi ruang untuk mempertemukan warga.
Setibanya di Balai Ageng Giri Kedaton, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa dan selamatan. Masyarakat kembali mengungkapkan rasa syukur atas hasil pertanian dan perkebunan sekaligus memanjatkan harapan agar musim panen berjalan lancar.
Wiwit Kopi tahun ini juga menghadirkan wajah lain. Tradisi yang lahir dari masyarakat tersebut berkolaborasi dengan generasi muda melalui keterlibatan mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur.
Kehadiran mahasiswa membuat rangkaian kegiatan semakin semarak. Mereka tidak hanya menyaksikan tradisi dari luar, tetapi ikut berbaur dengan warga dalam berbagai kegiatan.
Tumpengan menjadi salah satu momen yang mempertemukan mahasiswa dan masyarakat. Makanan disantap bersama dalam suasana sederhana, tetapi penuh keakraban.
Tidak ada lagi jarak antara mahasiswa yang datang dari luar dengan warga yang sehari-hari hidup di tengah perkebunan kopi.
Dari satu meja makan, percakapan dan pengalaman bertemu.
Kegiatan lain yang tak kalah menarik adalah lomba goreng kopi. Kopi lokal Segunung tidak hanya hadir sebagai hasil perkebunan, tetapi diolah menjadi bagian dari permainan dan hiburan masyarakat.
Lomba tersebut menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan kopi lokal sekaligus menghadirkan suasana riang di tengah rangkaian tradisi.
Setelah itu, warga mengikuti pembagian atau perebutan hasil bumi yang telah disiapkan.
Bagi masyarakat, hasil bumi tersebut bukan semata-mata sesuatu yang diperebutkan. Ada pesan tentang berbagi rezeki di dalamnya. Apa yang tumbuh dari tanah dan kebun pada akhirnya dinikmati bersama.
Di Kampung Adat Segunung, Wiwit Kopi menjadi pengingat bahwa tradisi tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan kehidupan sosial masyarakat.
Doa sebelum panen menunjukkan rasa syukur. Pemetikan kopi menjadi simbol dimulainya musim panen. "Arak-arakan hasil bumi menggambarkan kebersamaan. Sementara selamatan menjadi ruang untuk berbagi dan memanjatkan harapan," ujarnya melanjutkan.
Nilai-nilai itulah yang membuat Wiwit Kopi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Tradisi tersebut menjadi cara masyarakat mengenalkan identitas mereka kepada generasi berikutnya.
Keterlibatan mahasiswa KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur pun membuka ruang pertukaran pengetahuan. Mahasiswa berkesempatan memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat dari dekat, sementara warga mendapatkan ruang untuk memperkenalkan tradisinya kepada generasi muda.
Pada akhirnya, Wiwit Kopi bukan hanya cerita tentang buah kopi yang berubah merah dan siap dipetik.
Ia adalah cerita tentang manusia yang menunggu hasil dari tanah yang mereka rawat. Tentang rasa syukur setelah melewati satu musim. Tentang warga yang memilih berkumpul ketika hasil bumi datang.
Dan tentang sebuah kampung yang berusaha menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, meski zaman terus bergerak.
Di Segunung, ketika kopi mulai dipetik, yang dirayakan bukan hanya panen.
"Yang dirayakan adalah syukur, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," pungkasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com