Seribu Tahun Dapur Mataram, Menjaga Kuliner sebagai Identitas Budaya
Hari Susmayanti August 10, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kuliner tidak hanya soal rasa dan sajian di atas meja. Di dalamnya terdapat sejarah, identitas budaya, sekaligus kehidupan ekonomi masyarakat yang terus berkembang dari generasi ke generasi.

Gagasan itu mengemuka dalam Gala Dinner “Seribu Tahun Dapur Mataram”, rangkaian Kulinarea 2026 “A Symphony of Nusantara Flavor” yang digelar di Wisma Kagama, Minggu (9/8/2026) malam.

Kulinarea 2026 yang mengusung tajuk “Skena Kuliner Indonesia” berlangsung di GIK UGM pada 7 hingga 9 Agustus 2026.

Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur ekosistem kuliner, mulai dari pelaku jasa boga, industri makanan dan minuman, UMKM, chef, akademisi, hingga pelajar.

Ketua Pelaksana Kulinarea 2026, Sumartoyo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia Gastronomy Community dari Jakarta, dan Kinara Budaya.

Ia menegaskan Kulinarea tidak dibuat sekadar sebagai pameran kuliner, melainkan sebagai ruang untuk memperkuat ekosistem jasa boga, industri makanan dan minuman, serta UMKM.

“Kulinarea dilaksanakan bukan hanya sekadar untuk pameran saja, namun Kulinarea hadir untuk segala ekosistem yang berkaitan dengan jasa boga, F&B (Food and Beverage), dan juga UMKM,” kata Sumartoyo.

Sementara itu, tema “Seribu Tahun Dapur Mataram” dipilih untuk menelusuri benang merah sejarah kuliner Nusantara, termasuk jejak kuliner yang ditemukan melalui prasasti dan relief di Prambanan maupun Borobudur hingga perkembangan Mataram Islam di Kerto, Pleret, Bantul.

Jejak tersebut kemudian berlanjut hingga Mataram modern yang berkaitan dengan Keraton Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman, dan Kadipaten Mangkunegaran.

Sumartoyo mengatakan kekayaan kuliner tersebut perlu terus dijaga dengan melibatkan pelaku usaha dari berbagai skala, termasuk UMKM yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem kuliner.

“Rencana Kulinarea ini akan dilaksanakan pada setiap tahun dengan mengangkat tema yang akan digali. Bahwa Yogyakarta, dimulai dari Mataram Islam, merupakan salah satu lumbung pangan. Dan lumbung pangan ini sampai saat ini, bahkan di era modern ini, masih kita perlukan,” ujarnya.

Baca juga: Kulinarea 2026 Bakal Hadir di GIK UGM, Perkuat Industri Kuliner DIY

Dalam Gala Dinner tersebut, sejumlah tokoh mendapat penghargaan atas kontribusinya terhadap gastronomi dan UMKM lokal.

Salah satunya Bupati Bantul Abdul Halim Muslih yang menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Konservasi Gastronomi Lokal.

Penghargaan tersebut diberikan atas upaya Bantul merawat sejumlah kuliner yang telah menjadi bagian dari identitas daerah, seperti sate Jejeran, ingkung ayam, mi lethek, mi des, hingga kuliner tradisional lainnya.

Abdul Halim mengatakan kuliner khas daerah merupakan salah satu penanda kebudayaan. Karena itu, pelestariannya tidak bisa hanya dipandang sebagai urusan bisnis makanan.

“Kuliner khas daerah ini merupakan salah satu penanda kebudayaan. Jika orang Bantul kok tidak mengenal sate klathak, tidak mengenal ingkung ayam, tidak mengenal mi lethek, mi des, tidak mengenal adrem, tidak bisa bahasa Jawa, tidak tahu mana itu Parangtritis, tidak tahu mana itu Kerto Pleret, apakah masih bisa disebut sebagai warga Bantul?” kata Abdul Halim.

Ia menilai tantangan pelestarian kuliner semakin besar karena generasi muda kini semakin terbuka terhadap berbagai budaya makanan dari luar daerah maupun luar negeri.

“Anak kita hari ini yang dimakan kalau tidak burger, pizza, sushi, tidak mengerti bahkan tidak doyan dengan masakan khas daerahnya sendiri. Maka ini tentu satu tantangan tersendiri yang tidak ringan bagaimana budaya kuliner khas Mataraman ini bisa terus kita sosialisasikan terutama kepada generasi muda,” ujarnya.

Menurut Abdul Halim, pelestarian kuliner juga membutuhkan keterlibatan sektor kebudayaan, bukan hanya perdagangan dan pariwisata.

“Pelestarian budaya kuliner ini bukan hanya leading-nya Dinas Perindustrian Perdagangan, bukan hanya Dinas Pariwisata, tapi juga Dinas Kebudayaan. Ini sudah masuk kepada pelestarian budaya, bukan sekadar bisnis jajanan atau kuliner khasnya saja,” katanya.

Selain Bupati Bantul, Bupati Kulon Progo juga menerima penghargaan sebagai Tokoh Inspirator UMKM Lokal.

Penghargaan tersebut diberikan atas pendampingan berkelanjutan terhadap pelaku usaha, termasuk pengembangan jaringan angkringan, penguatan kopi lokal dari hulu hingga hilir seperti Kopi Menoreh dan Kopi Roro atau Roda Loro, serta rantai pasok gastronomi daerah.

Melalui Kulinarea, penyelenggara berharap kuliner Nusantara tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari kebudayaan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.(nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.