Laporan wartawan TribunJatim.com, Willy Abraham
TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Soal wacana Stasiun Gresik di Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, masyarakat rama-ramai mendukungnya.
Keberadaan Stasiun Gresik selama ini sudah non aktif sejak puluhan tahun.
Kondisi Stasiun Gresik di Kebungson memprihatinkan. Bangunan asli makin lapuk. Rel terpendam bangunan warga, yang semakin padat penduduk.
Banyak rumah warga yang terbangun. Dari luar bangunan stasiun Gresik masih berdiri. Tiang penyangga masih berdiri. Dinding kayu terlihat lapuk di makan usia.
Baca juga: Pengguna KA di Stasiun Mojokerto Naik Tipis Selama Juli 2026
Lantai kuning masih tersusun rapi. Suasana tempo dulu masih terasa saat masuk ke dalam stasiun. Namun, masih dimanfaatkan warga untuk berjualan nasi. Memarkir kendaraan. Dan tempat tinggal.
Rencana reaktivasi stasiun Gresik ini sudah dilakukan survei. Sebanyak 2.837 telah mengisi survey Indro - Gresik. Survey tersebut untuk memetakan potensi permintaan untuk pengaktifan stasiun Gresik.
Danil salah seorang pekerja di Gresik menyambut baik rencana diaktifkan kembali Stasiun Gresik. Pria berusia 25 tahun, asal Kota Surabaya ini berharap reaktivasi stasiun Gresik ini segera terlaksana. "Sangat setuju, jadi kalau ke Surabaya bisa langsung naik dari Stasiun Gresik yang lebih luas pastinya daripada Stasiun Indro yang ada saat ini," ujarnya.
Danil melihat rencana tersebut dikarenakan banyak sekali warga Gresik menginginkan moda transportasi kereta api bisa hadir lebih dekat. Tidak perlu jauh-jauh naik dari Stasiun Lamongan atau Stasiun di Kota Suarabaya. "Lebih efektif lebih dekat di kota Gresik. Okupansi selama ini juga cukup banyak," jelasnya.
Dia menyadari, rencana KAI untuk mengaktifkan Stasiun Gresik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dikarenakan sudah berdiri rumah padat penduduk di lahan KAI. Banyai rel yang sudah terpendam. "Pasti tantangannya sudah banyak rumah berdiri di sana, kalau boleh usul dibuatkan Stasiun Gresik yang baru lokasinya tidak di Kebungson," kata dia.
Danil berharap, bangunan Stasiun Gresik yang baru lebih luas dilengkapi sarana parkir yang memadai. Bangunan lawas stasiun juga masih dipertahankan.
Salah satu pengguna jasa kereta api lainnya, Anis berharap rencana tersebut segera terlaksana. Dalam sepekan dia menggunakan jasa kereta api untuk pulang ke Kediri. "Semoga segera diaktifkan kembali lagi, selama ini naik dari Stasiun Indro Gresik kalau pulang ke Kediri," ujarnya.
Kondisi Stasiun Indro, kata Anis, tidak punya atap sehingga ketika hujan penumpang yang naik atau turun kehujanan. Stasiun Indro selama ini hanya melayani kereta lokal. Fasilitasnya pun ruang tunggu sempit kurang memadai. "Semoga stasiun Gresik yang akan diaktifkan kembali lebih luas dan memadahi bagi penumpang," imbuhnya.
Tribunjatim.com, Gresik - Rencana reaktivasi Stasiun Gresik di Kebungson, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik mendapat dukungan dari DPRD Gresik. Wakil Ketua DPRD Gresik, Mujid Riduan menilai, pengaktifan kembali stasiun tersebut tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat.
Mujid sapaan akrabnya, mengatakan, keberadaan kembali Stasiun Gresik nantinya dapat menjadi salah satu alternatif transportasi bagi masyarakat sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan stasiun.
"Kami selaku anggota DPRD sangat setuju, reaktivasi Stasiun Gresik di Kebungson tersebut. Yang pertama, terkait transportasi; yang kedua, terkait geliat ekonomi masyarakat," kata Mujid.
Menurutnya, aktivitas masyarakat yang meningkat di sekitar stasiun Gresik akan memberikan efek domino terhadap perekonomian warga. Kehadiran penumpang maupun masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut dinilai dapat mendorong tumbuhnya berbagai usaha. "Di situ nanti banyak tumbuh UMKM-UMKM, ekonomi. Karena dengan adanya reaktivasi Stasiun Gresik di Kebungson ini didukung oleh warga Gresik," ujarnya.
Mujid menilai reaktivasi Stasiun Gresik di Kebungson menjadi semakin penting di tengah kondisi perekonomian yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, diperlukan inovasi dan terobosan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di masyarakat. "Karena dengan keadaan ekonomi sekarang yang melambat, otomatis inovasi-inovasi harus kita lakukan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat," jelasnya.
Ia juga menyambut baik rencana survei terkait reaktivasi Stasiun Gresik di Kebungson. Menurut Mujid, survei tersebut menjadi langkah penting untuk melihat berbagai aspek sebelum stasiun kembali difungsikan. "Kami sangat mendukung supaya diaktifkannya lagi. Terkait rencana survei reaktivasi Stasiun Gresik di Kebungson, saya kira ini sangat baik sekali dalam situasi ekonomi saat ini," ungkapnya.
Mujid berharap, apabila nantinya Stasiun Kebungson benar-benar kembali beroperasi, manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Gresik. Selain memberikan pilihan transportasi, keberadaan stasiun diharapkan mampu menciptakan ruang ekonomi baru bagi warga sekitar. (wil)
Tribunjatim.com, Gresik - Upaya reaktivasi jalur kereta api dari Stasiun Indro menuju Stasiun Gresik mendapat respons positif dari masyarakat. Hal itu terlihat dari tingginya partisipasi warga dalam survei yang dilakukan untuk memetakan kebutuhan atau demand transportasi kereta api di jalur tersebut.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), Denny Michels Adlan, mengatakan survei dilakukan secara daring dan luring. Selain melalui survei online yang dapat diakses masyarakat luas, pengumpulan data juga dilakukan secara langsung di Stasiun Indro dan Terminal Bunder. Nah, jumlah responden dalam survei tersebut bahkan telah melampaui target yang sebelumnya ditetapkan.
"2.837 responden mengisi survei sangat banyak. Melampaui target kami sebenarnya cuma 300. Jadi ini berkali-kali lipat, jauh di atas target kami. Kami senang, excited, dan bersyukur bahwa banyak yang peduli terhadap hal ini," kata Denny.
Denny menjelaskan, tingginya partisipasi masyarakat menjadi data penting untuk melakukan pemetaan awal mengenai kebutuhan transportasi dari Indro menuju Gresik. Dari hasil survei sementara, pihaknya mulai melihat adanya kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan akses transportasi menuju kawasan pusat Kota Gresik. Terlebih, Stasiun Gresik berada di tengah kota sehingga dinilai memiliki potensi untuk mendukung mobilitas masyarakat.
"Teman-teman yang dari Indro menuju ke Gresik, apalagi Stasiun Gresik kan di tengah kota, itu ada kesulitan atau obstacle yang harus segera kita carikan solusinya," ujarnya.
Menurut Denny, reaktivasi jalur sepanjang sekitar 2,7 kilometer dari Indro menuju Stasiun Gresik menjadi salah satu solusi yang sedang dikaji. Namun, proses tersebut tidak bisa dilakukan secara instan. Hasil survei nantinya akan menjadi salah satu data dukung untuk menyusun studi awal sebelum masuk ke tahapan studi kelayakan.
Denny menegaskan, pihaknya juga ingin melibatkan masyarakat dalam proses tersebut. Partisipasi warga melalui survei tidak sekadar menjadi pengumpulan data, tetapi diharapkan menjadi bentuk kolaborasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. "Kami ingin mengajak semua teman-teman yang mengisi survei untuk sama-sama punya andil, punya kontribusi. Walaupun sebatas mengisi survei, kami ingin ini dua arah, tidak hanya satu arah, 'kami ingin mereaktivasi'," jelasnya. "Intinya kami ingin berkolaborasi dua arah untuk pemetaan demand-nya," imbuhnya.
Disinggung mengenai kapan Stasiun Gresik di Kebungson bisa kembali melayani perjalanan kereta api, Denny belum dapat memberikan kepastian. Menurutnya, terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui sebelum reaktivasi dapat direalisasikan. Setelah studi awal, akan dilakukan perhitungan potensi demand penumpang untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Proyeksi tersebut bahkan akan melihat kebutuhan transportasi hingga 10, 20, dan 30 tahun ke depan. Selain penumpang, potensi angkutan barang juga menjadi bagian yang harus dihitung. "Kalau berapa lama sebenarnya faktornya banyak. Kami enggak bisa menjanjikan berapa lama nanti bisa konstruksi. Yang jelas dari hasil survei ini menjadi key point yang sangat bagus sebagai data dukung kami melakukan studi awal," katanya.
Setelah studi awal, proses akan dilanjutkan dengan studi kelayakan. Jika dinilai layak, tahapan berikutnya mencakup penyusunan Detail Engineering Design (DED) hingga analisis dampak sosial. Analisis dampak sosial menjadi bagian penting karena terdapat permukiman dan bangunan masyarakat di sekitar jalur yang nantinya harus diperhitungkan secara matang.
"Untuk reaktivasi sebenarnya ada aturan main, ada kaidah-kaidah yang perlu diikuti, termasuk studi awal, studi kelayakan, nanti dari studi kelayakan akan ada DED, kemudian ada analisis dampak sosial," jelas Denny.
Menurutnya, hasil pemetaan demand akan ikut menentukan kebutuhan pengembangan stasiun ke depan. Jika potensi penumpangnya tinggi, kapasitas dan fasilitas stasiun juga harus disesuaikan. "Potensi demand nanti akan menentukan proyeksi jangka panjang penumpangnya seperti apa. Dari situ nanti akan kelihatan kebutuhannya, apakah stasiunnya harus dibangun lebih besar atau tidak," ujarnya.
Selain aspek sosial dan teknis, kemampuan anggaran pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Denny mengatakan reaktivasi jalur kereta api membutuhkan dukungan anggaran, sehingga kondisi fiskal negara ke depan turut menjadi pertimbangan. Karena itu, proses pemetaan dilakukan sejak awal dengan melibatkan masyarakat yang memang memiliki kebutuhan terhadap transportasi tersebut.
"Kami benar-benar mulai proses ini dengan melibatkan warga-warga yang memang ada kepentingan dan memang butuh untuk transportasi itu. Dari hasil melibatkan ini setidaknya kami punya data dukung," katanya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com